PENGKHIANATAN!

PENGKHIANATAN!
Bab 63


__ADS_3

Aron menatap makam bertuliskan nama Putra nya dengan air mata yang menetes.


Menyesal? Sudah pasti ia menyesal, tetapi semuanya sudah terjadi karena kebodohan dirinya sendiri.


Brugh.


"Nak, maafkan Ayah" ucap Aron dengan derai air mata.


Aron mencium nisan Putra nya, ia menangis tersedu-sedu disana.


Setelah itu, dengan menahan rasa sakit dan sesak di dada nya Aron mulai mengaji bersama Dava dan Santi.


"Nak, maafkan Ayah ya dan jagalah Adik Cinta disana bersamamu" batin Aron dengan menundukan kepala nya.


Aron menyuruh Santi dan Dava untuk kembali ke mobil lebih dulu, ia ingin sendiri disana.


Aron terus saja mengucapkan kata maaf, maaf dan maaf. Ia bahkan tidak berhenti menangis sampai mata nya memerah.


Hingga setelah puas, ia pergi dari sana dan menghampiri Santi serta Dava.


"Ayo kita pulang" ajak Aron.


"Mas, kita makan malam dulu ya" ajak Santi.


Aron menganggukan kepala nya, lalu Dava menyuruh sopir untuk melajukan mobil nya ke arah Restoran yang sering mereka datangi.


Hening.


Itulah suasana yang ada di dalam mobil tersebut, bahkan Santi pun hanya menggenggam tangan Aron saja untuk menguatkannya.


**


Malam ini, tidak biasa nya Mora terus merengek pada Wildan dengan tidak menentu.

__ADS_1


"Mas" rengeknya kembali.


"Ada apa sayang? Apa kamu butuh sesuatu? Atau anak-anak Daddy ingin sesuatu?" tanya Wildan dengan sabar.


"Pengen tidur tapi aku ingin Mas jangan memakai pakaian" jawab Mora akhir nya.


Hah.


Terdengar Wildan menghela nafas dengan kasar, lalu ia segera menanggalkan pakaiannya semua nya dan langsung saja masuk ke dalam selimut.


"Kemarilah biar aku peluk" ucap Wildan dengan melambaikan tangannya.


Mora langsung saja pergi ke ruang ganti, ia akan mengganti pakaian terlebih dulu sebelum tidur.


"Ya ampun bumil ini ada-ada saja, padahal tinggal bilang dari tadi tidak perlu ada drama dulu" gumam Wildan menggelengkan kepala nya.


Hingga manik mata nya menatap ke arah Mora yang baru saja keluar dari kamar ganti dengan menggunakan baju dinas nya.


Glek.


Mora menganggukan kepala dengan wajah bersemu merah dan hal itu mampu membuat Wildan sangat bergejolak.


Dengan gerakan cepat, Wildan langsung bangun dan menggendong Istri nya ke atas ranjang.


Wildan merebahkan Mora dengan sangat hati-hati dan lembut.


"Aku akan lembut" bisik Wildan


Mora menganggukan kepala nya, lalu ia pun memejamkan mata saat tangan Wildan menari dengan lincah di area sensitif nya.


Dan dengan sekejap mata , kamar tersebut sudah berisik dengan suara merdu dari mulut Mora dan Wildan.


Wildan melakukannya dengan sangat lembut dan penuh cinta.

__ADS_1


Hingga setelah selesai, mereka terlentang dengan saling memeluk.


"Istri nakal, kenapa tidak bilang sejak tadi kalau ingin , hemmm" ucap Wildan mengecup bibir Mora sekilas.


"Hemm aku malu, Mas" lirih Mora dengan menelusupkan wajah nya di dada bidang Wildan.


Wildan langsung saja terkekeh, ia memeluk Mora dan mengecupi wajah nya dengan sangat gemas.


Setelah itu, Wildan lalu membawa Mora untuk membersihkan diri nya terlebih dahulu.


"Aku sangat mencintai kalian" ucap Wildan mencium kening Mora dan perut sang Istri.


"Terimakasih Mas, karena kamu sudah menerima ku yang seorang janda bahkan kamu juga memberikan semua cinta dan kasih sayang mu untukku" ucap Mora dengan wajah yang tulus.


"Aku juga sangat mencintai mu, Mas" ucap nya lagi dengan lembut.


Lalu mereka berpelukan erat di bawah guyuran shower, hingga tidak menyisakan jarak apapun di antara nya.


*


Malam ini, Mora terlelap dengan nyenyak di pelukan sang Suami.


Bahkan ia memeluk Suami nya dengan tersenyum di bibir indah nya.


Sedangkan Wildan, ia masih terjaga dan menatap Istri nya dengan penuh rasa bahagia.


"Kau yang membuatku merasa sempurna, sayang. Apalagi saat ini akan hadir buah cinta kita di antara kita" gumam nya dengan mengecup kepala Mora.


Setelah dirasa mengantuk, Wildan pun langsung saja memejamkan mata nya dengan memeluk tubuh sang Istri.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2