PENGKHIANATAN!

PENGKHIANATAN!
Bab 51


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Mora dan yang lainnya sudah siap dengan rapih, mereka akan menggunakan satu mobil limosin milik Mora dan Wildan.


"Hari, kau yang menyetir dan Fira kau duduk di depan" tegas Mora tanpa bantahan.


"Baik Nona" balas Hari patuh.


Sedangkan yang lainnya hanya menahan tawa saat wajah Fira dan Hari yang terpaksa mengiyakan.


Lalu mereka semua masuk ke dalam mobil, mereka memang sengaja pergi pagi-pagi untuk mencegah macet.


Selama di perjalanan, Mora diam saja dengan memeluk tubuh Wildan.


Drttt Drrttt


Mora langsung saja merogoh ponsel nya yang ada di dalam tas nya.


"Hulk, ada apa ya" batin Mora dengan bingung.


"Ada apa?" tanya Mora dengan cepat.


"Winda mengikuti mobil anda, Nona" jawab Hulk


Dengan gerakan refleks , Mora langsung saja menengok ke belakang dan benar saja ada mobil yang mengikuti nya.


"Biarkan saja, kau fokus saja pada Aron" ucap Mora santai.


Tut.


Mora langsung memasukan kembali ponsel nya, ia menatap suami nya yang sedang menatap seolah meminta penjelasan padanya.


"Ada , Mor?" tanya Afnan.


"Winda mengikuti mobil kita" jawab Mora enteng.


Sontak mereka langsung saja menatap ke belakang dan benar saja ada mobil yang mengikuti nya.


"Hari, kecoh dia" ucap Wildan pada Asistennya.

__ADS_1


"Siap Tuan" balas Hari dengan patuh.


Mobil mereka berbelok ke arah Mall yang ada di sana, dan mereka langsung saja masuk kedalam Mall tersebut.


Sedangkan di mobil lainnya, terlihat Winda juga menghentikan mobil nya di halaman Mall tersebut.


"Mau kemana mereka" gumam Winda dengan memperhatikan Mora dan yang lainnya dari dalam mobil.


Winda tidak ikut turun, ia menunggu di dalam mobil karena tak ingin kecolongan.


Hingga hampir 3 jam dia menunggu disana tetapi tidak ada tanda-tanda mereka akan keluar sama sekali.


"Ngapain saja mereka di dalam sana, ini sudah hampir 3 jam gue nungguin" gerutu Winda.


Lalu Winda langsung saja keluar dan berniat mencari mangsa nya.


Hingga ia melewati mobil yang membawa Mora dan yang lainnya tadi.


"Aku pulang dulu bro" ucap sopir tersebut pada satpam disana.


"Sial" geram Winda lalu ia masuk ke dalam mobil nya.


"Kenapa gue sampai kecolongan sih, bukannya tadi yang menyopiri nya itu Tuan Hari" gerutu Winda dengan kesal.


"Aargghhh gagal, lihat saja besok aku akan melenyapkan mu, Mora" geram Winda dengan mengcengkram setir mobil erat.


Winda lalu pergi dari sana dengan emosi , ia tidak habis pikir bahwa ia bisa di bodohi oleh Mora.


**


-Puncak


Sedangkan, saat ini Mora dan yang lainnya sudah berada di puncak.


Mereka memang masuk ke dalam Mall tetapi keluar lagi lewat jalan belakang dan disana sudah ada mobil yang menunggu nya.


Sebelum jalan-jalan, mereka memilih untuk beristirahat terlebih dulu. Apalagi kondisi Afnan yang sedang mengandung.

__ADS_1


Di kamar, Mora dan Wildan sedang duduk bersama dengan Roy dan Hari.


"Ambil semua saham yang ada di perusahaan Aron dan Paman ku, Roy" ucap Mora tegas.


"Dan kau Hari, ambil juga saham di perusahaan Paman. Kalau di perusahaan Aron jangan, karena itu murni hasil kerja keras mereka" ucap nya lagi.


"Aku hanya ingin membuat Aron sadar saja, terlebih bahwa harta bukan yang utama. Setelah nya, aku masa bodo dengan kelanjutannya" ucap Mora kembali dengan santai.


Hari dan Roy memilih untuk langsung sibuk dengan mengerjakan tugas dari Mora, kalau mereka meladeni Mora bisa-bisa tidak akan berakhir.


Sedangkan Wildan, ia tetap bersama Istri nya dan mendengarkan setiap omelan ataupun gerutu yang keluar dari dalam mulut nya.


"Sayang, istirahat dulu" ucap Wildan dengan lembut.


"Sebentar lagi ya, Mas. Aku ingin mendengar kabar dari mereka dulu" balas Mora dengan tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu kemarilah" ucap Wildan dengan melambaikan tangannya agar Mora mendekat.


Mora langsung saja bergeser dan duduk di samping Wildan, ia bahkan memeluk Wildan dari samping.


"Kita tuntas kan mereka ya, aku sudah rindu pada Ayah dan Mama" lirih Mora dengan sendu.


"Besok kita pulang, dan besok juga kita tuntas kan semua nya" balas Wildan dengan tegas.


Mora menganggukan kepalanya, sebelum membuat mereka hancur, Mora akan mengambil semua yang bukan hak mereka.


Bahkan Mora akan mengambil kembali Mansion yang sudah di jual oleh Jana pada oranglain.


"Kau yang sudah membuat aku mengeluarkan sisi kejam ku, Paman. Jadi jangan salahkan aku kalau semua nya akan berbalik padamu" batin Mora dengan sengit.


Mora memejamkan mata nya di pelukan sang Suami, ia bahkan tidak sadar sudah terlelap disana.


Wildan menyuruh Hari dan Roy pergi dulu saja, karena Mora juga sudah terlelap.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2