PENGKHIANATAN!

PENGKHIANATAN!
Bab 38


__ADS_3

Saat ini Wildan dan Mora sedang makan siang di Restoran yang sangat sederhana. Ya, walaupun mereka kaya tetapi mereka tidak terlalu menunjukannya.


"Sayang, untuk makan mal nanti Mas ingin kau masakan makanan seperti kemarin ya" pinta Wildan dengan antusias.


"Tapi kita belanja dulu ya, Mas. Soalnya di kulkas sudah habis persediaannya" balas Mora lembut.


Wildan mengangguk setuju, lalu mereka melahap kembali makanannya.


Mora memang bekerja sampai siang saja, ia sudah sepakat bersama Ayah dan Roy.


Ia tidak ingin melalaikan tugas nya yang sebagai seorang Istri.


"Ayo" ajak Wildan setelah mereka selesai makan siang nya.


Mora menganggukan kepala, setelah membayar makanan nya mereka langsung saja menuju ke pasar tradisional.


"Mas, apa tidak menunggu saja?" tanya Mora dengan tak enak. Pasalnya Mora tahu bahwa sang Suami bukan orang sembarangan dan juga bukan penduduk asli Indonesia.


"Hei tenang saja, meskipun aku belum pernah pergi ke pasae sama sekali, tetapi bukannya aku tidak menyukai ataupun jijik, sayang. Malahan aku senang jadi aku sekarang tahu banyak hal akan kehidupan ini tidak dengan berkas, obat dan resep saja" jawab Wildan dengan menggerutu.


Sontak saja Mora langsung tertawa kecil mendengar jawaban sang Suami yang sambil menggerutu.


"Baiklah-baiklah, ayo jalankan mobil nya aku sudah mengirimkan lokasi nya ke ponsel mu" ucap Mora tersenyum kecil.


"Terimakasih Mas, aku mencintai mu" batin Mora dengan menatap sang Suami dalam.


Wildan menganggukan kepala nya dan langsung melajukan mobil nya menuju tempat yang di maksud sang Istri.


"Bagaimana dengan Orangtua Winda sayang?" tanya Wildan penasaran.


"Mereka hanya menerima peringatan kecil saja dan aku juga mengambil sebagian uang Paman ku untuk aku sumbangkan ke Panti asuhan" jawab Mora dengan santai.


Wildan menggelengkan kepala nya melihat sikap santai sang Istri.

__ADS_1


"Sayang kau tahu? Mungkin oranglain akan menganggapmu akan takut dengan sebuah ancaman dan gertakan karena melihat paras mu yang menyejukan apalagi dengan hijab ini, kau semakin terlihat baik dan lembut" ucap Wildan dengan tertawa kecil.


Mora tersenyum dengan menundukan kepala nya, ia juga tidak pernah menunjukan sisi tegas dan kejam nya selama ini pada siapapun, kecuali saat ini saat orang yang ia sayangi sedang dalam bahaya.


"Hehe bahkan Mas juga berpikiran begitu bukan?" tanya Mora tersenyum kecil.


"Iyaa sayang, tapi jujur saja Mas juga bangga padamu" jawab Wildan mengusap lembut pipi sang Istri.


"Terimakasih sudah selalu mendukung ku, Mas" ucap Mora dengan tulus dan lembut.


"Apapun untuk mu, sayang" balas Wildan tulus.


Setelah beberapa saat, mereka akhir nya sampai juga di pasar tersebut yang tidak terlalu jauh dari mansion mereka sendiri.


Mora dan Wildan langsung saja menuju ke stand sayuran, daging , ikan , seafood dan yang lainnya.


Ya, Mora tadi sempat meminta list bahan yang sudah habis dari Art di Mansionnya.


-Kota Semarang


Setelah dari anak perusahaannya, Aron langsung saja menuju ke tempat dimana dirinya menginap bersama dengan seorang wanita.


Ya, Aron kembali bermain gila di belakang Winda sama seperti yang dia lakukan pada Mora dulu.


Aron sendiri sudah tahu bahwa dia sebenarnya di manfaatkan oleh keluarga Winda, bahkan ia juga tahu bahwa Winda dan orangtua nya bukanlah keluarga miskin.


Dan Aron juga tahu bahwa Mertua nya saat ini berada di Negara A bukan di desa yang berada di Jawa.


Tadi pagi, ada seseorang yang memberi tahu akan kebenarannya pada dirinya.


"Sayang" ucap wanita tersebut bergelayut manja dengan Aron.


"Hei sabar dong, kita baru saja sampai" balas Aron terkekeh.

__ADS_1


"Ish bukan seperti itu, duduklah dulu" kesal sang wanita dan menyuruh nya duduk pada Aron.


Aron hanya menuruti nya saja, lalu sang wanita membawa laptop nya pada hadapan Aron.


"Lihatlah sikap Istrimu" ucap wanita tersebut menunjukan Cctv yang diam-diam Aron pasang di mansion lewat kepala pelayan.


"Kenapa dia seperti sangat gelisah dan juga seperti sedang menunggu seseorang menelepon" ucap Aron dengan bingung.


Wanita yang di samping nya hanya menggedikan bahu nya, ia lalu kembali fokus pada layar laptop.


"Berhati-hatilah pada Winda dan keluarga nya, aku rasa mereka bukan orang lemah dan juga baik. Aku rasa mereka menjadikan mu sebagai pijakan agar mencapai rencana nya" ucap wanita tersebut dengan serius


"Ya aku pun berpikir kesana, aku tidak tahu apa yang mereka rencanakan tetapi aku harus mencari tahu nya" balas Aron dengan yakin.


Lalu mereka kembali melihat Winda yang sedang menerima telepon entah dari siapa, tetapi mereka bisa melihat nya bahwa raut wajah Winda seperti menahan amarah.


Aron langsung saja menyuruh anak buah nya untuk mencari semua informasi tentang Winda.


"Aku rasa ada sesuatu hal besar yang Winda sembunyikan dari ku" batin Aron dengan geram.


Aron lalu beranjak ke kamar mandi karena sudah merasa sangat gerah.


"Aku akan membantu mu keluar dari lingkaran Winda, karena aku tulus mencintaimu, Aron" gumam wanita tersebut dengan tersenyum.


Lalu ia pun membereskan semua yang ada disana , ia juga menyiapkan pakaian ganti untuk Aron.


Ia merebahkan diri nya sambil menunggu Aron yang sedang mandi karena ia juga akan mandi.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2