
Di pemakaman umum, Aron bersimpuh di hadapan makam Putri nya. Ia menangis dalam diam sejak Dokter memberitahu bahwa Cinta meninggal.
"Maafkan Ayah Nak, semoga kamu bahagia disana dan bertemu Kakak mu" batin Aron dengan meringis.
Setelah cukup lama disana, Aron mengajak Santi dan Bibi pergi dari sana. Aron bahkan mengabaikan keberadaan Winda dan orangtua nya.
"Mas" panggil Winda.
Seakan tuli, Aron terus saja berjalan tanpa menatap ataupun berhenti saat Winda memanggil nya.
Winda menunduk dengan isak tangis yang cukup kencang, ia sangat terpukul sekarang dan ia butuh Aron.
Kedua orangtua Winda mengajak nya untuk kembali kemansion, mereka tidak tega melihat Winda yang sedang terpukul.
Selama di perjalanan, Winda memeluk Bunda nya dengan erat. Winda bahkan menumpahkan air mata nya di pelukan sang Bunda.
Hingga sesampai nya di Mansion, mereka langsung masuk ke dalam.
Disana sudah ada Aron, Dava , Santi dan Bibi yang sedang menunggu mereka bertiga.
"Aron, kenapa kamu meninggalkan Winda?" tanya Jana dengan menahan amarah nya.
"Hentikanlah semua sandiwara kalian, aku sangat muak melihat nya" ucap Aron dingin.
"Apa maksud kamu, Mas?" tanya Winda duduk di samping Ayah nya.
"Aku tau semua nya Winda, jangan kira kalian akan selalu membuatku bodoh. Cukup dulu aku tertipu oleh kalian, bagaimana aku menelantarkan Mora dan bahkan aku dengan bodoh nya menyetujui untuk membuat Mora keguguran" jelas Aron menatap Winda tajam.
"Dan lagi dengan kebohongan kalian yang kecewa dengan apa yang sudah kita lakukan pada Mora dulu. Ahh belum lagi yang kalian memanfaatkan aku untuk menopang semua biaya kalian" ucap Aron dengan tegas nan dingin.
Jana hanya menatap Aron dengan sinis, ia bahkan tidak perduli sama sekali saat melihat tatapan tajam dari menantu nya.
"Bagus jika kamu tahu, dan mari kita hancurkan Mora sama-sama agar kelak harta kekayaan nya bisa kita nikmati" ucap Jana dengan enteng nya.
"Cih jangan harap" balas Aron dengan sinis.
__ADS_1
Lalu Aron melemparkan berkas pada Winda yang ada di hadapannya.
"Mulai saat ini, kita sudah bukan suami istri lagi" tegas Aron bangkit dari duduk nya.
Winda menatap Aron dengan nanar, ia bahkan bergetar saat melihat surat perceraian yang ada di tangannya.
"Apa maksud kamu hah" bentak Yuli dengan tidak terima Putri nya di campakan.
"Itu sudah jelas bahwa aku sudah menceraikan Winda, silahkan kalian pergi dari sini" ucap Aron dengan menunjuk ke arah pintu keluar.
Winda menggelengkan kepala nya, ia tidak mau berpisah dengan Aron.
**
-Perusahaan Widiatma
Pagi ini, Mora melakukan meeting dengan beberapa petinggi perusahaan bahkan ia terlihat sangat berwibawa sekali.
Wajah yang cantik nan terkesan tegas itu terpancar sangat indah di hadapan mereka, bahkan mereka juga sangat kagum dengan ide-ide yang di keluarkan oleh Mora untuk perusahaan mereka.
Mora hanya menganggukan kepala saja tanda ia boleh berbicara atau berpendapat.
"Nona bagaimana kalau kita bekerja sama dengan perusahaan Sy? Agar kita bisa mengembangkan lagi desain interior untuk Hotel?" usul nya dengan yakin
"Boleh juga, kita akan membangun Hotel di sekitaran Puncak dengan suasa sejuk dan keindahan alam alami" balas Mora menganggukan kepala nya.
Roy tersenyum kecil melihat tanggapan sang Nona, ia juga sangat setuju dengan ide Nona nya.
"Baiklah Nona, kita semua akan mulai membuat berkas kerjasama nya dan akan membuat desain Hotel nya juga jadi mereka tinggal menambahkan kurang nya" timpal yang lainnya.
"Baiklah, jika sudah kalian bisa langsung kasih pada ku atau Roy" ucap Mora.
Setelah itu, Mora membubarkan acara meeting nya , ia lalu keluar dari sana dan masuk ke dalam ruangan nya.
Ceklek.
__ADS_1
"Mas" kaget Mora saat melihat Suami nya sudah duduk di kursi kebesarannya.
Wildan terkekeh melihat wajah Mora yang sangat lucu, lalu ia melambaikan tangannya pada Mora agar mendekat.
Dengan tersenyum, ia mendekat ke arah Wildan lalu memeluk nya dengan sayang.
"Lelah" rengek Mora dengan menguselkan wajah nya ke dada bidang Wildan.
"Duduklah" ucap Wildan lembut sambil menepuk paha nya.
Mora menurut, ia bahkan langsung saja memejamkan mata nya menghirup aroma tubuh Wildan.
"Apa kamu sudah tahu bahwa Putri Aron meninggal?" tanya Wildan lembut.
Mora mendongkakan wajah nya, ia lalu menggelengkan kepala nya tanda tidak tahu.
Bahkan raut wajah Mora terlihat sangat kaget saat mendengar berita itu.
"Semalam Putri nya meninggal dan tadi pagi pemakamannya, dia terkena DBD dan keracunan Asi yang sudah basi" jelas Wildan.
"Mas tau darimana?" tanya Mora penasaran.
"Semalam Aron membawa nya ke Rumah sakit dimana Mas bekerja dan Mas dapat laporannya dari pihak Rs" jawab Wildan lembut.
Mora menganggukan kepala nya , ia lalu memeluk Wildan kembali dengan erat.
Saat ini ia sangat lelah, dari pada sampai siang ini kerjaannya cukup padat.
Dengan lembut, Wildan membelai pipi Mora lalu ia membiarkan Mora terlelap.
.
.
.
__ADS_1