PENGKHIANATAN!

PENGKHIANATAN!
Bab 74


__ADS_3

Jana masih saja terjaga, ia tidak bisa tidur karena memikirkan nasib nya.


"Kenapa aku jadi terjebak disini, apa memang ini adalah hukuman untukku yang tak pernah puas akan harta" gumam Jana dengan menghela nafas kasar.


"Aku akan mencoba menerima semua nya dengan ikhlas, mungkin nasib ku dan keluarga memang harus begini" gumam nya lagi dengan memejamkan mata.


Jana masih duduk di dekat jendela kecil yang sengaja ia buka, ia menikmati semilir angin sejuk disana.


Setelah puas, ia lalu menutup nya dan merebahkan diri di samping Yuli, Istri nya.


"Lebih baik aku tidur saja, supaya besok tidak kesiangan bangunnya" ucap Jana.


Lalu ia memilih untuk tidur karena memang sudah larut malam, udara hutan yang sejuk membuat nya dengan cepat terlelap ke alam mimpi.


*


Berbeda dengan Orangtua nya, Winda masih saja terjaga di atas ranjang kayu yang sangat tidak pantas di sebut ranjang.


Semua hal mewah yang pernah ia dapat, ia miliki dan ia rasakan kini berganti dengan sangat drastis.


Meskipun begitu, ia tetap saja tidak pernah merasakan bahwa dirinya salah ataupun ia merenungi kesalahannya.


"Seperti nya aku harus menggoda salah satu dari mereka, agar aku bisa keluar dari sini" gumam Winda dengan tersenyum senang.


"Sebaiknya mulai besok aku akan menggoda nya" gumam nya lagi.


Setelah memikirkan rencana, Winda langsung saja terlelap dengan perasaan yang begitu bahagia.


Sedangkan di pinggir jendela kamar nya, ada salah seorang anak buah Wildan yang mendengarkan rencana dirinya. Ia tersenyum kecil saat ini.

__ADS_1


***


-Amerika.


Ke esokan pagi nya, Wildan berangkat sendiri ke Rs dan Mora menunggu nya di Rumah karena nanti siang mereka akan pergi jalan-jalan.


Setelah kepergian Wildan, Mora berjalan ke halaman belakang dimana para pelayan berada disana.


"Nyonya" sapa para pelayan.


"Bibi, aku ingin sekali makan lobster sambal hitam buatan Bibi" ucap Mora pada pelayan yang bertugas khusus jadi koki.


"Baiklah, Bibi akan buatkan Nyonya. Nyonya duduk saja dulu ya" balas Bibi dengan patuh.


Mora menganggukan kepala, lalu ia duduk bersama dengan para pelayan yang sedang santai karena pekerjaan yang sudah selesai.


"Nyonya, apa anda dan Tuan muda akan lama disini?" tanya salah satu dari mereka.


"Emm Nyonya, saat saya berkunjung ke Rs saya seperti melihat mantan Suami anda" cicit pelayan lain dengan menunduk takut.


Mora tersenyum lembut, terlihat tidak ada raut marah ataupun raut yang tak enak. Malah mereka melihat raut yang biasa saja.


"Iya, dan yang Mas Wildan tangani adalah mantan suami saya" balas Mora dengan santai.


Hah.


Kaget? Tentu saja mereka kaget karena bagaimana bisa Tuan nya mengobati mantan suami Istri nya. Ah tapi mereka berpikir kembali mungkin karena ia Dokter.


"Kenapa? Tidak ada yang salah kok. Kami sudah saling memaafkan karena kita juga sesama manusia yang punya salah dan dosa" ucap Mora terkekeh geli saat melihat reaksi dari pelayan disana.

__ADS_1


"Nyonya, boleh saya mengatakan sesuatu?" tanya pelayan yang paling muda disana.


"Tentu boleh, asal jangan yang membuat saya jantungan saja" jawab Mora dengan sedikit godaan.


Mereka tertawa renyah dengan ucapan sang Nyonya, mereka memang cukup dekat dengan Mora saat ia masih menjadi pasien Wildan dulu.


"Apa yang membuat anda sangat lapang dada menerima kenyataan bahwa Suami anda selingkuh, membuat anda koma bahkan membuat Putra kalian meninggal?" tanya nya dengan serius.


"Aku ini hanyalah wanita biasa, aku juga pernah salah dan membuat dosa. Mungkin aku bisa menerima nya karena aku ikhlas dengan sepenuh hati menerima semua nya, meski ada rasa benci di hati tetapi aku mencoba membuatnya se netral mungkin karena itu adalah jalan takdir ku" jelas Mora dengan lembut.


"Aku pernah membuatnya jatuh dan bahkan sampai kehilangan harta nya yang ia agungkan, tetapi itu bukan murni karena dendam hanya saja aku ingin dia sadar bahwa harta bukan segala nya" jelas nya lagi.


"Anda memang sangat baik, kami sangat salut pada anda Nyonya" ucap pelayan disana dengan haru.


Mora hanya tersenyum kecil, ia seperti mendapatkan teman baru bersama mereka.


Hingga tak lama kemudian seafood yang di pesan oleh Mora akhir nya jadi juga.


Mora lalu menyuruh yang lain membawa nasi kesana dan beberapa lauk lainnya.


"Ayo kita makan bersama, anggap saja kita sedang piknik" ajak Mora dengan antusias.


Tidak ada penolakan dari mereka walaupun mereka masih kenyang, tetapi saat melihat wajah antusias sang Nyonya mereka dengan sigap langsung saja menganggukan kepala nya.


.


.


🌸IG : heniisw24

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah , Vote dan Coment ya readers🥰


__ADS_2