PENGKHIANATAN!

PENGKHIANATAN!
Bab 76


__ADS_3

-Rumah Sakit


Saat ini Aron baru saja selesai makan siang dan meminum obat nya.


Setelah kepergian Wildan tadi, ia sedikit mempunyai semangat untuk kembali sembuh.


-FlshBack-


Wildan masuk ke ruangan Aron hanya seorang diri, ia memang tidak suka banyak orang saat akan melakukan terapi.


Dan di ruangan itu pun hanya ada Santi dan Aron.


"Selamat Pagi, Aron" sapa Wildan dengan ramah.


"Pagi, Wil" balas Aron tersenyum.


Lalu Santi menyiapkan semua nya yang sudah di beritahu oleh Wildan kemarin.


Setelah siap, Wildan langsung saja memeriksa nya dan memberi sentuhan sedikit demi sedikit.


Hingga 2 jam kemudian mereka selesai dengan terapi yang di berikan oleh Wildan.


"Aron, berjuanglah untuk sembuh" ucap Wildan.


"Sebenarnya ini sangat parah tetapi jika kamu mempunyai semangat yang luar biasa maka akan cepat sembuh" ucap nya lagi dengan tegas.


"Kau tahu, wanita di samping mu adalah wanita yang tak kalah hebat nya seperti Mora? Karena apa? Karena dia mengambil semua resiko saat ingin memisahkan mu dari Winda"


"Dia tetap bertahan setelah kau hancur dan sekarang dia masih tetap di sisi mu saat dia tahu bahwa kamu tidak bisa apa-apa tanpa bantuan nya" jelas Wildan


"Aku tahu kau masih mencintai Istri ku, Mora. Tetapi, cinta mu hanya pantas kau berikan pada Santi. Berjuanglah untuk sembuh, dan bahagiakan Santi untuk menebus kesalahan mu pada Mora" tegas Wildan.


Setelah berbicara seperti itu, Wildan pergi berpamitan pada Aron dan Santi.


Sedangkan Aron? Ia membenarkan semua ucapan dari Wildan pada nya.


-FlshNow-


"San" panggil Aron


Santi yang memang kebetulan sedang di kamar mandi pun dengan cepat menyelesaikan urusannya.

__ADS_1


"Ada apa, Mas?" tanya Santi.


"Bisa bantu untuk duduk" ucap Aron tersenyum.


Santi mengangguk, lalu ia membantu Aron untuk duduk dengan bersandar di kepala ranjang.


"Kita akan sama-sama berjuang, aku akan mencoba menghapuskan nama Mora dan menggantikan nya oleh nama mu" ucap Aron dengan yakin.


Bahagia? Tentu saja itu yang sedang di rasakan oleh Santi sekarang.


Dengan penuh semangat dan antusias, ia langsung menganggukan kepala nya dan memeluk Aron dengan erat.


"Terimakasih, Mas" ucap Santi dengan tulus.


Aron membalas pelukan Santi, ia mengecup pucuk kepala Santi dengan lembut.


"Kau belum makan siangkan? Segeralah makan agar ada tenaga untuk merawatku" goda Aron dengan terkekeh.


"Iya , ini aku juga akan makan" balas Santi dengan tersenyum.


"Wildan benar, aku hampir saja melakukan hal yang sama seperti dulu pada Santi. Aku akan membayar semua nya dengan kebahagian mu, San" batin Aron lembut.


Pada malam hari nya, Wildan dan Mora sudah bersiap untuk pergi ke acara pesta pernikahan Dokter Bimo.


Wildan sangat terkesima saat melihat Mora keluar dari dalam kamar dengan memakai gaun dari nya yang sangat cocok dengan Mora.


"Cantik sekali" gumam Wildan dengan tersenyum.


Mora terus saja berjalan menghampiri Suami nya yang sedang bengong.


"Mas, ayo" ucap Mora tersenyum kecil.


Wildan langsung saja menganggukan kepala setelah sadar dari keterkejutannya.


"Bengong melulu" ledek Mora dengan terkekeh.


"Kamu nya sih cantik sekali" goda Wildan dengan merangkul pinggang Mora.


"Ehh malah gombal" ucap Mora tertawa kecil.


Wildan hanya tersenyum saja, lalu ia membuka pintu mobil untuk Mora.

__ADS_1


Setelah itu, mereka langsung saja berangkat ke Hotel yang dimana di adakan acara nya.


Selama perjalanan, Wildan terus saja menggoda Mora karena ia terlalu cantik.


Bahkan sang sopir pun ikut terkekeh melihat wajah merah dari Mora.


Tak berselang lama, mereka sampai juga di halaman Hotel, disana sudah banyak orang dari berbagai kalangan karena keluarga perempuannya adalah pembisnis.


Wildan dan Mora langsung saja masuk ke dalam, mereka berjalan dengan sangat elegant dan mencuri perhatian oranglain.


"Bukan kah itu Dokter Wil dan Istri nya"


"Ya ampun mereka serasi sekali"


"Sungguh indah ciptaan mu Tuhan"


Begitulah yang terdengar bisik-bisik dari para tamu undangan yang hadir disana.


Setelah mendapatkan tempat duduk , Wildan menyuruh Mora untuk duduk karena acara baru saja di mulai.


"Nak" panggil seseorang dari arah belakang.


Sontak saja Mora dan Wildan langsung menoleh ke arah belakang.


"Ayah, Mama" ucap Mora dengan bahagia.


Mora langsung saja memeluk sang Mama, ia lalu duduk kembali setelah melepaskan pelukannya.


"Kalian juga hadir?" tanya Ayah setelah mengecup kepala Mora lembut.


"Iya Ayah, mempelai pria nya adalah rekan Mas Wildan" jawab Mora tersenyum.


Wildan dan Tuan Darma langsung saja membiarkan istri mereka untuk bercengkrama sedangkan mereka menyingkir sebentar untuk berbicara serius.


Mora dan Mama Hesti terus saja bercerita hingga mereka tidak melihat acara demi acara di pesta tersebut.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2