PENGKHIANATAN!

PENGKHIANATAN!
Bab 68


__ADS_3

Hari demi hari terlewati dan tak terasa kandunyan Mora sudah memasuki usia 4 bulan.


Hari-hari nya terlewati dengan damai, apalagi ada Wildan di samping nya yang selalu menamani dan juga menuruti semua keinginannya.


Tepat hari ini, Mora akan memeriksa kandungannya bersama dengan Mama Hesti.


Sedangkan Wildan sudah berangkat sejak tadi karena ada jadwal operasi.


"Mama, ayo" ajak Mora saat keluar dari kamar.


"Ayo sayang, kita di jemput oleh Hari" ucap Mama Hesti dengan lembut.


"Oh iya, tadi Mas Wildan sudah memberi tahu aku" balas Mora.


Lalu mereka keluar dari mansion, disana sudah ada Hari yang sudah berdiri di pinggir mobil.


"Silahkan Nyonya" ucap Hari sopan.


"Terimakasih, Hari" balas Mama Hesti dan Mora.


Hari lalu melajukan mobil nya ke arah Rumah sakit terbesar di Kota itu.


Selama perjalanan, Mora bercerita dengan senang bersama sang Mama.


"Sayang, Ayah dan Mama akan kembali ke Negara A minggu besok" ucap Mama Hesti.


"Loh kenapa mendadak sekali, Ma" protes Mora.


"Perusahaan disana tidak ada yang menangani, sayang. Disini kan sudah ada Roy dan kamu juga membantu nya walau dari Rumah juga" jelas Mama Hesti lembut.


"Hah baiklah Ma, tapi nanti kalau aku melahirkan Mama dan Ayah kembali kesini" ucap Mora tidak ingin di bantah.


"Baiklah sayang" balas Mama Hesti.


Hingga mobil mereka sudah sampai di halaman Rs, disana sudah ada Wildan yang menunggu kedatangan mereka.


"Mas" panggil Mora saat keluar dari dalam mobil.


Wildan tersenyum kecil, lalu ia menghampiri sang Istri.

__ADS_1


"Ayo masuk sayang, Ma" ajak Wildan dengan merangkul sayang sang Istri.


Lalu mereka langsung saja menuju ke ruangan Dokter Lia.


Hari langsung saja kembali lagi ke perusahaan setelah berpamitan pada Wildan.


*


Di ruangan Dokter Lia, Mora berbaring di atas ranjang pasien.


Di sebelah nya Wildan dengan setia menemani sang Istri.


Dokter Lia langsung saja menyiapkan alat untuk USG.


Pakaian Mora di tarik ke atas sedikit dan melihatkan perut buncit nya. Lalu Dokter Lia mengolesi nya dengan jel.


"Keadaannya sangat baik, sehat dan juga lengkap ya. Wah seperti nya mereka sangat malu-malu untuk menampakan jenis kelaminnya" ucap Dokter Lia tersenyum.


"Tidak apa Dok" balas Mora lembut.


Setelah selesai, Mora di bantu oleh Wildan memperbaiki pakaiannya.


Lalu ia di bantu untuk duduk di samping sang Mama mertua.


"Baiklah Dok, Terimakasih" balas Mora terkekeh kecil.


Setelah selesai, Mora dan Mama Hesti langsung saja keluar dan akan langsung menuju ke Mall.


Hari ini, Mora dan Mama Hesti akan pergi berbelanja untuk kebutuhan anak panti.


"Ingat jangan lelah, nanti Mas akan menjemput kalian di Panti asuhan" tegas Wildan sebelum Mora masuk ke dalam mobil.


"Iya Mas, aku pergi dulu ya" pamit Mora dengan menyalami tangan Suami nya.


Cup.


"Hati-hati" balas Wildan lembut.


Mora lalu pergi bersama dengan sopir pribadi sang Mama, karena Hari sudah kembali bekerja.

__ADS_1


Setelah kepergian Mora, Wildan lalu masuk ke dalam ruangan nya.


*Tok


Tok*


"Masuk" ucap Wildan dengan wajah datar nya.


"Tuan, ada telepon dari Rs Negara A" ucap salah seorang perawat.


"Sambungkan ke sini" balas Wildan.


Perawat tersebut menganggukan kepala nya dan pergi dari sana.


Tak lama kemudian telepon di ruangan Wildan pun berbunyi.


"Halo Dokter Wil" sapa seorang pria disebrang sana.


"Ya Halo, ada apa Dok?" tanya Wildan langsung.


"Bisakah anda merekomendasikan Dokter tulang yang handal untuk salah satu pasien ku disini" jawab Pria tersebut dengan helaan nafas kasar.


"Kirimkan saja riwayat penyakit nya, nanti aku pelajari dulu baru setelah itu aku akan beritahu" ucap Wildan.


"Baiklah, kalau begitu aku tutup" balas nya dengan menutup sambungan telepon.


Wildan lalu memeriksa kembali pekerjaannya, ia memang tidak ada jadwal operasi ataupun konsultasi, tetapi ia mempunyai beberapa pekerjaan yang harus segera di selesaikan.


Hingga Wildan menerima satu email dari teman sesama Dokter yang barusan menelpon.


"Hmm ini cukup rumit dan juga aku pernah membaca diagnosa ini" gumam Wildan dengan yakin.


Lalu Wildan kembali membaca diagnosa nya, ia terus saja membaca dengan teliti dan mengingat siapa yang mempunyai penyakit tulang seperti ini.


Deg.


"Bukankah ini" gumam Wildan dengan wajah terkejut nya saat mengingat siapa yang mempunyai diagnosa ini.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2