PENGKHIANATAN!

PENGKHIANATAN!
Extra Part


__ADS_3

Saat sore tiba, Mora dan Wildan berniat untuk pulang ke Rumah pondok yang memang sudah disediakan untuk mereka tinggali.


Tetapi Wira tidak ingin ikut pulang, ia ingin bersama dengan baby cantik nya, Agus.


"Biarkan saja Tuan muda disini, Nyonya. Nanti saya akan mengantarkannya pulang jika dia ingin pulang" ucap Agus dengan sopan.


Mora menghela nafas, ia lalu menganggukan kepala nya pada Agus.


"Baiklah jika kamu mau disini, tapi jangan nakal ya sayang" ucap Mora pada Putra nya.


"Siap Mommy" balas Wira dengan cepat.


Lalu Mora, Wildan dan Miraa pergi dari sana, mereka berpamitan pada Agus dan keluarga Winda.


Setelah kepergian Mommy nya, Wira langsung saja menghampiri Yuli yang sedang menggendong bayi kecil tersebut.


"Nenek, boleh gak aku kasih nama Baby nya?" tanya Wiraa dengan berharap.


Yuli lalu menatap Agus dan Jana untuk meminta jawaban, dan dengan kompak mereka menganggukan kepala nya.


"Memang nya kamu punya nama untuk Adik bayi?" tanya Jana mengelus kepala Wiraa


"Punya Kakek, Nama nya Arrabela Wiraatmaja" jawab Wiraa dengan bangga.


"Baby Bela" panggil Agus.


"Ya Baby Bela itu panggilan kalian untuk nya dan Wira akan memanggil nya Adik Atma" ucap Wiraa dengan tersenyum.


Agus dan kedua orangtua Winda hanya bisa tersenyum dan menganggukan kepala nya.


"Nenek, tidurkan Adik Atma disini" ucap Wira sambil menunjuk tempat tidur bayi milik Baby Atma.

__ADS_1


Yuli menganggukan kepala nya, ia lalu menidurkan sang Cucu di bawah.


Lalu Wira langsung saja mengajaknya berbicara layak nya anak dewasa.


"Lihatlah sayang, Putra Nyonya Mora bahkan selalu berada di sisi bayi cantik kita. Aku harap mereka akan tetap bersama meski mereka hanya akan menjalin sahabat saja" batin Agus dengan tersenyum tulus.


*


Hingga hampir malam Wira masih belum mau kembali pulang, ia tetap berada di samping Baby Atma.


Agus dan kedua mertua nya sudah membujuk nya tetapi ia tetap saja menolak nya dan tidak mau pulang.


"Paman, biarkan aku menginap disini" mohon Wira dengan memelas.


"Paman tidak bisa mengambil keputusan sayang, Paman takut Daddy dan Mommy mu marah" balas Agus dengan lembut.


Wira langsung murung dan menundukan kepala nya, ia tidak mau pulang tetapo ia juga takut Mommy dan Daddy nya marah.


Agus tak tega melihat wajah Tuan muda nya, ia lalu berinisiatif menelpon sang Atasan.


Tut.


Tut.


"Ya kenapa Agus?" tanya Mora saat panggilannya sudah terhubung.


"Nyonya, bisakah Tuan muda kecil menginap disini?" tanya Agus balik.


Agus menatap Wira yang sedang berharap, bahkan wajah nya terlihat sangat menggemaskan.


"Boleh, asalkan besok siang dia harus pulang" jawab Mora dengan tegas.

__ADS_1


"Thaks Mom" teriak Wira dengan penuh semangat dan bahagia.


"Baik Nyonya, kalau begitu saya matikan dulu" ucap Agus sopan.


"Ya" balas Mora


Tut.


"Yeay terimakasih Paman" ucap Wira dengan bahagia.


Agus mengangguk, lalu ia membiarkan Wira bermain kembali bersama dengan sang Putri.


"Bu, saya mau mandi dulu sebentar" ucap Agus


"Iya Nak, biar Tuan kecil dan Baby Bela bersama Ibu dan Ayah" balas Bu Yuli.


Agus mengangguk, lalu ia pergi ke kamar nya dengan menghela nafas kasar.


Ceklek.


Di dalam kamar masih saja tercium harum wangi Winda, Agus menatap kesekeliling nya yang sepi.


Biasanya Winda akan menyambut nya dengan suka cita dan menyuruh nya mandi.


Tetapi sekarang, semua nya sudah tinggal kenangan dan juga hanya kesunyian yang ada.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2