PENGKHIANATAN!

PENGKHIANATAN!
Bab 92


__ADS_3

Winda memang sudah menerima semua nya, bahkan ia juga mencoba ikhlas untuk kehidupannya yang sekarang di dalam hukuman dari perbuatannya.


Tetapi ia hanya ingin bertemu dengan Ayah dan Bunda nya dan juga Mora untuk meminta maaf, tetapi lidah nya terasa kelu saat ingin mengucapkan hal itu pada Suami nya.


"Hei kenapa bengong?" tanya Suami nya yang sudah segar karena telah mandi.


"Tidak, ayo makan" ucap Winda tersenyum.


Lalu mereka berdua makan dengan nasi dan lauk seadanya, di kehidupan ini Winda benar-benar tahu apa itu hal sederhana dan makanan yang sangat sederhana.


Tetapi ia masih bersyukur karena di berikan Suami yang memang baik dan selalu pengertian. Dia memang tegas tetapi tidak pernah main tangan pada Winda.


"Ada apa?" tanya Agus, Suami Winda.


Winda menatap Suami nya dengan mata berkaca-kaca, ia menundukan kepala nya lagi.


"Aku rindu Ayah dan Bunda" lirih nya dengan menyeka air mata yang sudah menetes.


"Besok aku akan coba izin pada Tuan Hari, kalau bisa kita akan ke NTT untuk menemui Ayah dan Bunda mu" balas Agus lembut.


Winda langsung menggelengkan kepala dengan kuat, ia tidak ingin Suami nya kena masalah atas keinginan dirinya.


"Tidak usah, cukup kau telepon saja aku sudah lega" ucap Winda dengan cepat.

__ADS_1


"Baiklah tunggu sebentar aku akan menelpon orang yang disana" balas Agus beranjak dari duduk nya.


Tek berselang lama, Agus kembali lagi dan membawa ponsel nya yang sudah terhubung dengan kedua mertua nya.


"Ini" ucap nya dengan memberikan ponsel pada Winda.


"Nak" panggil Bunda Yuli.


"Bunda, bagaimana keadaan kalian? Apa kalian sehat?" tanya Winda dengan meneteskan air mata nya bahagia.


"Kami sehat Nak, bagaimana kabarmu juga? Jangan menangis kami baik-baik saja bahkan kami sehat dan bahagia tinggal disini" jawab nya dengan tersenyum.


"Aku juga baik, aku bahagia jika kalian bahagia Ayah, Bunda. Aku sudah ikhlas, aku menerima semua ini dengan lapang dada dan aku merasakan kebahagian" ucap Winda dengan tulus.


"*Syukurlah Nak, Ayah dan Bunda bahagia mendengar nya. Agus itu anak baik dan Ayah juga yakin kalian akan bahagia walaupun hidup sederhana" ucap Jana dengan bijak.


"Ayah juga sudah ikhlaskan semua nya, Ayah dan Bunda tidak akan kembali ke Kota ataupun Jakarta. Disini kami menemukan kebahagian sesungguh nya walaupun di dalam hutan" ucap nya lagi dengan tulus*.


Winda mengangguk dengan tersenyum dan air mata yang menetes.


Lalu mereka menyudahi pembicaraannya, dan Winda memberikan ponsel Suami nya.


"Terimakasih" ucap Winda dengan tulus bersamaan dengan air mata yang sudah keluar.

__ADS_1


Agus mengangguk, ia memeluk Winda dengan erat dan hangat.


"Kau tahu? Semua akan bahagia jika kita ikhlas dan juga merelakan semua nya. Apa kau tahu bahwa Aron juga sudah menikah dengan Santi dan ia juga baru sembuh dari sakit nya setelah 4 bulan terakhir?" tanya Agus lembut.


"Aku tidak mau tahu, aku cukup mendoakan yang terbaik untuk mereka dan juga Mora. Titipkan maafku pada Mora dan juga Wildan" jawab Winda.


Agus mengecup kening Winda dengan dalam, ia bahagia karena Winda sudah berubah lebih baik.


"Aku akan sampaikan, karena aku akan ke Jakarta besok lusa untuk memberikan laporan pada Tuan Hari" balas Agus lembut.


Winda mengangguk, ia kembali memeluk Agus dengan erat.


Beban yang mengganjal di hati nya kini sudah terlepas , ia merasakan bahwa hati nya sudah lebih baik dan juga plong.


"Aku sudah bahagia, aku tidak akan menganggu kebahagian orang lain lagi, aku tidak ingin semua nya terulang kembali.


Maafkan aku Ayah, Bunda, Mora, Aron dan Wildan. Kini aku sadar akan semua kesalahan ku.


Hampir 1 tahun aku disini dan juga aku merasakan bagaimana kehidupan yang sesungguh nya, mencari uang dengan sendiri itu ternyata lebih nikmat hasil nya" batin Winda dengan tersenyum lega.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2