
-Widiatma Group
Hingga siang hari , Jana terus saja membuat onar disana tanpa lelah nya. Bahkan ia sudah beberapa kali di usir tetapi dia tidak pergi sama sekali.
Hingga pada akhir nya Roy menyuruh resepsionis untuk mengantar Jana ke ruangan Mora.
"Maaf Tuan, silahkan anda ikuti saya untuk ke ruangannya Bu Mora" ucap Resepsionis tersebut pada Jana.
Dengan langkah yang pasti, bahkan semangat yang kentara, Jana melangkah mengikuti perempuan tersebut.
Sorot mata yang tajam, wajah dingin nan tangan terkepal terlihat di diri Jana.
Tetapi, bagi karyawan hanya 3 orang yang menurut mereka sangat mengerika disana, Tuan Besar Widiatma, Roy dan yang terakhir si cantik Mora.
Mereka mengira bahwa Mora adalah wanita lemah lembut, baik dan juga terlihat yang selalu memakai pakaian tertutup. Itu memang benar ada nya di diri Mora, tetapi jika Mora sudah marah ia akan terlihat sangat kejam dan juga sorot mata yang mematikan.
*
Sesampai nya di depan pintu ruangan Mora, sang resepsionis langsung saja pergi dari sana.
"Moraaaa,keluar kau" teriak Jana dengan menggema.
Ceklek.
"Masuklah, Paman" ucap Roy dengan santai.
Jana, ia sudah sangat ingin memukul Roy kalau tidak di halangi oleh Asistennya.
*Tap
Tap*
Deg.
"Ba bagaimana bisa" ucap Jana dengan kaget saat melihat keluarga di depannya.
"Tentu saja bisa, karena yang terbakar bukan aku tetapi orang-orang mu" balas Tuan Darma denngan dingin.
__ADS_1
Jana menggelengkan kepala nya dengan kuat, bagaimana tidak kaget di depannya sudah ada Darma dan Istri nya, begitupun dengan Orangtua Roy.
"Kenapa Paman? Apa kau sudah merasa jantung mu akan berhenti berdetak? Jangan dulu" ucap Mora dengan santai sambil duduk di pangkuan Wildan.
"Kau" bentak Jana dengan rahang yang mengeras dan penuh emosi.
"Ishh aku takut sekali, sayang. Lihatlah wajah nya sangat menyeramkan" rengek Mora dengan wajah sinis nya.
Jana mengepalkan tangannya dengan kuat, ia sudah merasa sangat ingin menghajar mereka semua yang ada di hadapannya.
"Semua nya sudah selesai, Jan. Semua kekayaan yang aku berikan padamu, sudah aku ambil alih kembali. Nyatanya kamu dan Yuli tidak pernah puas akan semua itu, kamu dan Istrimu sama serakah nya akan harta" ucap Nyonya Hesti dengan tegas.
"Kau tahu Jana, bahwa Yuli itu bukan Adik kandung ku dia itu hanyalah Anak angkat orangtua ku. Tetapi aku selalu menutupi nya karena aku takut Yuli akan di bully oleh dunia" jelas Nyonya Hesti.
"Jadi, semua yang kalian miliki sudah aku ambil semua nya, termasuk mansion yang kau tempati sekarang" tegas Nyonya Hesti dengan datar.
"Tidak bisa, itu semua hak kami dan kau sudah memberikannya pada kami" teriak Jana dengan penuh emosi.
"Kalau kau mau, silahkan beli kembali perusahaan itu" ucap Tuan Darma dengan santai nya.
Brak.
"Kau pasti sudah mendengar semua nya, Yuli. Jadi aku tidak akan menjelaskannya kembali" ucap Nyonya Hesti.
Yuli menatap Kakak nya dengan tajam, ia tidak menyangka bahwa dirinya hanyalah anak angkat keluarga nya.
"Roy, bawa mereka berdua ke kantor polisi dan berikan semua bukti nya pada polisi" tegas Mora
"Baik Nona" balas Roy dengan patuh.
Roy lalu memerintahkan anak buah nya untuk membawa Jana dan Yuli.
"Ingat ini, aku akan membalas kalian semua nya" teriak Jana dengan penuh emosi.
Lalu mereka berdua di seret paksa karena selalu memberontak.
Selama perjalanan , mereka terus saja berusaha kabur hingga anak buah Roy langsung saja mengikat tangan dan kaki nya.
__ADS_1
*
Sedangkan di ruangan Mora, terlihat wajah lega dari semua orang.
"Hei, kenapa Putri Ayah tidak mau memeluk Ayah sejak tadi?" tanya Tuan Darma dengan wajah memelas.
"Tidak Ayah, aku tidak ingin jauh dari Mas Wildan" ucap Mora dengan menggelengkan kepala dan memeluk tubuh Wildan.
"Memangnya kenapa? Apa suami mu membuat ulah?" tanya Mama Hesti.
Mora menggeleng dengan tegas, ia hanya tersenyum cengengesan saat di tatap oleh keluarga nya.
"Mungkin baby nya tidak ingin jauh dariku, Ma, Ayah" ucap Wildan dengan mengusap lembut perut Mora.
"Ayah, kita akan jadi Oma dan Oppa" pekik Mama Hesti dengan bahagia.
Begitupun dengan Ayah Darma, ia tersenyum bahagia akan kabar bahagia ini.
"Selamat ya , Nak" ucap Ayah dan Ibu Roy dengan tersenyum.
"Terimakasih, Paman, Bibi" balas Mora dengan senyum manis nya.
Dengan rasa bahagia, Ayah Darma langsung saja mengumumkan pada seluruh karyawan bahwa mereka akan mendapatkan bonus bulan ini karena kehamilan Mora.
Bahkan ia juga memerintahkan Roy dan Hari untuk memberikan sembako dengan cukup pada setiap panti yang ada disana.
"Nanti malam kita akan mengadakan makan malam untuk syukuran atas kehamilan mu, sayang. Dan untuk membahas pernikahan Roy dan Elisa" ucap Mama Hesti dengan semangat.
"Aku menurut saja, Ma" balas Mora tersenyum.
Lalu mereka pergi dari sana, di setiap lantai bahkan devisi semua karyawan sedang bersorak bahagia karena mendapat akan kehadiran pewaris Widiatma dan juga bonus besar.
Mora sangat bahagia ketika melihat wajah berbinar dari mereka semua nya.
.
.
__ADS_1
.