
-Bandara
Saat ini, Hari sedang menunggu kedatangan Tuan dan Nyonya Besar Widiatma.
Dia datang lebih dulu dari mereka , jadi ia langsung saja ke tempat khusus.
"Hariii" panggil Ayah Darma yang baru saja keluar dari pesawat pribadi nya.
"Tuan" sapa Hari dengan sopan.
"Ayo cepat pergi ke Rs" timpal Mama Hesti dengan wajah panik dan khawatir.
Hari dengan cepat menganggukan kepala, ia lalu membukakan pintu mobil untuk kedua majikannya.
"Jangan terlalu ngebut, yang penting selamat sampai tujuan" ucap Ayah Darma mengingatkan.
"Baik Tuan" balas Hari.
Lalu Hari mengemudikan mobil nya dengan agak cepat, ia tahu bahwa dari Bandara ke Rs lumayan jauh.
Hari juga melihat gurat kekhawatiran di wajah kedua majikannya.
"Mas, coba telepon Roy" ucap Mama Hesti pada Ayah Darma.
"Sebentar Ma" balas nya dengan mengeluarkan ponsel milik nya.
Tut.
Tut.
"Halo Tuan" sapa Roy dari seberang
"Roy, kami dalan perjalanan kesana. Bagaimana kondisi disana?" tanya Mama Hesti dengan cepat.
"Semuanya baik-baik saja, Nyonya. Nona Mora di dalam bersama dengan Tuan Wildan" jawab Roy menenangkan Ibu majikannya.
"Kirimkan ruangan kalian, kami akan segera sampai" ucap Mama Hesti.
"Baik Nyonya" balas Roy.
__ADS_1
Tut.
Mama Hesti lalu mematikan sambungan teleponnya, ia mengembalikan kepada sang Suami lagi.
"Hari, cari jalan pintas Nak" ucap Ayah Darma.
"Iya Tuan, ini jalan pintas yang cepat menuju ke Rs" balas Hari dengan sopan.
Hingga beberapa menit kemudian, mereka sampai juga di halaman Rumah sakit.
Ayah dan Mama Mora langsung saja menuju ke ruangan yang dimana Mora akan melahirkan.
**
Sedangkan di dalam ruangan , Mora sudah pembukaan lengkap.
Ia bahkan sudah mulai mengedan sesuai dengan arahan dari Dokter Lia.
Wildan tak jauh dari Mora, ia terus saja berdoa tepat di kepala Mora bahkan ia juga memegang tangan Mora dengan sangat erat.
"Bismillah sayang, semua nya akan baik-baik saja" bisik Wildan degan lembut.
"Tarik nafas lalu mengedan lagi, Nyonya" ucap Dokter Lia.
"Arrhhhhhhhh"
Oek Oek
"Alhamdulillah sayang, bismillah kembali untuk yang kedua" bisik Wildan dengan kecupan hangat di kening Mora.
Mora mengangguk, ia menarik nafas kembali dan mengedan dengan sisa tenaga nya.
"Aarrhhhhhhh"
Oek Oek Oek
"Alhamdulillah" ucap Wildan dan yang lainnya.
"Yang pertama berjenis kelamin Laki-laki dan yang kedua Perempuan, Nyonya" ucap Dokter Lia dengan senyuman di wajah nya.
__ADS_1
Lalu Wildan di suruh untuk mengadzankan kedua Bayi nya, sedangkan Mora ia segera di bersihkan oleh tim Dokter.
Setelah selesai, Wildan di arahkan untuk keluar terlebih dulu.
Sebelum keluar, Wildan mengecup kening Mora dengan sayang dan lembut.
Ceklek.
Saat Wildan keluar, terlihat wajah tua dari mertua nya yang sedang tersenyum bahagia dan juga ada guratan khawatir.
Wildan lalu memeluk mertua nya bergantian, ia meneteskan air mata nya karena rindu akan kedua orangtua nya.
"Ayah, Ibu. Aku sudah menjadi orangtua dan kalian sekarang menjadi Nenek dan Kakek" batin Wildan dengan tangis diam di pelukan sang Mama mertua.
"Jangan menangis, Ayah dan Ibu mu pasti sangat bahagia di atas sana" bisik Mama Hesti dengan lembut.
Wildan mengangguk dan melepaskan pelukan dari Mama mertua nya.
"Bagaimana kondisi Putri dan Cucu ku?" tanya Ayah Darma.
"Mereka baik Ayah, dan kedua cucu mu sangat sebat" jawab Wildan dengan binar kebahagian.
"Alhamdulillah" ucap mereka dengan senyum bahagia.
Lalu Roy dan Hari bergantian memeluk Wildan untuk memberikan selamat pada Wildan.
Sangat terlihat jelas senyum bahagia di wajah Wildan yang tampan.
Lalu mereka mengikuti langkah perawat yang membawa Mora ke ruangan VVIP, sedangkan sang bayi masih di bersihkan oleh Dokter Lia.
Kabar bahagia tersebut langsung saja di sambut oleh jagat media yang memang sudah menantikannya.
Mereka bahkan sudah ada yang berkumpul di depan Rumah sakit.
.
.
.
__ADS_1