PENGKHIANATAN!

PENGKHIANATAN!
Bab 80


__ADS_3

Setelah selesai makan siang, mereka berkumpul di gazebo belakang Mansion.


Udara siang ini tidak terlalu terik jadi enak bersantai disana.


"Awas hati-hati sayang" ucap Ayah Darma ngeri melihat sang Putri.


"Jangankan Ayah, Mama aja suka ngilu lihat kamu sayang" timpal sang Mama dengan terkekeh melihat wajah Suami nya.


Sedangkan Mora sendiri, dia biasa-biasa saja malah lebih tenang.


"Jangankan kalian, Mas Wildan saja suka teriak kalau aku masak dan kesana kemari karena ngeri kata nya" kekeh Mora dengan menatap Wildan sekilas.


"Ya bagaimana tidak ngeri coba Ma, dia masak dengan lincah nya dan seperti tanpa beban" balas Wildan tersenyum.


Mereka langsung saja tertawa kecil, lalu datang seorang pelayan yang membawa makanan kecil kesana.


"Bagaimana kabar Aron?" tanya Ayah.


"Sudah baik, dia sudah bisa berjalan normal meski harus pelan" jawab Wildan


"Syukurlah, semoga dengan teguran itu dia akan sadar dan juga bertaubat" timpal Mama Hesti dengan tersenyum.


Mereka serempak menganggukan kepala nya, lalu mereka membahas yang lainnya.


Segala mereka bahas sampai kehamilan Mora pun jadi bahan pembicaraan keluarga kecil tersebut.


***

__ADS_1


Sedangkan saat ini, Aron dan Santi sudah di dalam perjalanan untuk pulang.


Mereka di perbolehkan untuk pulang karena memang kondisi Aron sudah membaik tetapi mereka harus ke Rs 1 minggu sekali untuk terhapy.


Di perjalanan, Aron terus saja memeluk Santi seolah enggan untuk berpisah.


"Perasaan ini sama seperti dulu aku mencintai Mora, tetapi perasaan ini tidak pernah hadir di antara aku dengan Winda, tetapi malah hadir saat aku bersama Santi" batin Aron dengan tersenyum.


"Hei kenapa malah senyam senyum?" tanya Santi memicingkan mata nya.


"Tidak, aku hanya bahagia saja" jawab Aron santai.


Santi menggelengkan kepala nya , lalu ia merebahkan kepala nya di dada bidang Aron.


Hingga tak berselang lama mobil yang di kendarai oleh Dava sampai juga di halaman Rumah Aron.


Rumah minimalis dengan berlantai 2, sangat sederhana dan juga elegant.


Disana tidak banyak pelayan, hanya ada 2 saja dan itu juga atas kemauan Santi sendiri.


"Naik kursi roda dulu ya" ucap Santi tegas.


"Iya iya Ibu negara ku" balas Aron tersenyum kecil.


Heh.


Santi memicingkan mata nya, ia lalu menyuruh Dava untuk mengeluarkan kursi roda dan ia sendiri membantu Aron keluar dari dalam mobil.

__ADS_1


"Pelan-pelan saja" ucap Santi


Aron menganggukan kepala nya, ia lalu dengan perlahan duduk di atas kursi roda dan Dava mendorong nya.


"Dava, setelah aku nanti sembuh aku akan kembali ke perusahaan membantu mu" ucap Aron.


"Iya Tuan, anda sembuhkan lah dulu diri anda agar nanti kita bisa bekerja kesana kemari lagi" balas Dava tersenyum.


"Awas ya kalau kalian macam-macam" tegas Santi dengan garang.


Glek.


"Enggak San"


"Enggak sayang"


Ucap mereka bersama dengan sama-sama menelan ludah kasar.


"Awas saja kalau berani macam-macam Mas, aku bukan Nona Mora yang akan diam saja. Aku akan langsung motong anu mu" ucap Santi dengan melenggang masuk ke dalam Rumah.


"Kenapa dia sangat garang sekali ya, Dav" ucap Aron dengan bergedik ngeri.


"Entahlah Tuan" balas Dava dengan terkekeh.


Lalu mereka ikut masuk ke dalam, disana mereka bisa melihat Santi yang sedang menata bahan makanan yang mereka beli tadi di perjalanan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2