
Setelah selesai menemui para wartawan, Wildan dan Ayah Darma langsung saja masuk kembali ke ruangan Mora.
"Kau harus extra menjaga mereka, Ayah takut akan ada musuh bisnis kita yang menyerang" ucap Ayah Darma saat mereka di dalam lift.
"Itulah kenapa aku dan Mora tidak mempublikasi kan mereka Ayah, aku takut akan ada saingan bisnis kita yang macam-macam" balas Wildan.
Ayah Darma menganggukan kepala membenarkan ucapan Wildan.
Mereka lalu masuk ke ruangan Mora yang terdengar sangat ramai.
Ceklek.
"Wah ramai sekali" ucap Ayah Darma tersenyum.
"Selamat pagi Tuan" sapa Roy, Hari dan Frans bersama.
Wildan dan Ayah Darma hanya mengangguk saja tanda balasan sapaan mereka.
Lalu para laki-laki duduk di sofa yang ada disana, mereka membiarkan para wanita untuk berkumpul.
"Frans, kau tidak membawa serta Putra mu?" tanya Ayah Darma
"Tidak Tuan, dia bersama Ibu saya di Rumah" jawab Frans sopan.
"Kenapa tidak di ajak?" tanya Wildan.
"Soalnya saya sama Afnan akan ke perusahaan terlebih dulu dan juga banyak wartawan disini nya" jawab Frans kembali.
Wildan mengangguk, lalu mereka membahas seputaran bisnis mereka.
__ADS_1
Ayah Darma hanya mendengarkan saja tetapi ia juga sering memberi saran dan juga nasihat.
Sedangkan para wanita, mereka sibuk mengerumuni baby twins.
Bahkan Fira mencubit pipi Baby Miraa karena gemas nya.
"Aku tak menyangka kau akan melahirkan bayi kembar, Mor" ucap Afnan terkekeh.
"Aku juga tidak menyangka, tetapi memang Mas Wildan mempunyai gen kembar" balas Mora tersenyum.
"Kak, aku bawa pulang saja ya" celetuk Fira dengan gemas.
"Eh jangan dong, kamu kan lagi hamil dan sebentar lagi punya bayi sendiri" ucap Elisa terkekeh.
"Masih lama, nih baru aja 2 bulan" balas Fira dengan cemberut.
Hari tersenyum seraya menggelengkan kepala nya melihat sang Istri, ya Hari dan Fira memang sudah menikah dan Fira sedang hamil muda.
Fira hanya tersenyum kecil saja, ia juga membalas pelukan sang Kakak Ipar.
"Kenapa bisa menggemaskan seperti ini ya, aku jadi pengen unyel-unyel" ucap Elisa dengan tersenyum kecil.
"Mommy nya juga menggemaskan, ya pasti anak-anak nya juga menggemaskan" celetuk Mora dengan percaya diri.
"Ck"
Decak mereka dengan sebal, sedangkan sang Mama hanya tersenyum saja sambil menggelengkan kepala.
"Kau terlalu percaya diri" ucap Afnan sebal.
__ADS_1
"Itu harus, karena itu akan membuat kita maju" balas Mora dengan santai.
"Aishh sudahlah, aku dan Frans pamit dulu ya karena harus ke perusahaan" pamit Afnan pada Mora dan Mama Hesti.
"Makasih untuk kado dan udah jenguk nya ya, Af. Salam untuk Ibu mertua mu" balas Mora tersenyum lembut.
Afnan mengangguk sambil tersenyum, ia lalu menghampiri Suami nya dan berpamitan pada Ayah Darma.
Setelah kepergian Afnan, Fira , Elisa dan Suami nya juga berpamitan karena memang mereka akan bekerja.
Wildan menyuruh Ayah dan Mama mertua nya untuk pulang lebih dulu, dan nanti sore baru ke Rumah sakit lagi.
Setelah setuju, Wildan menelpon sopir pribadi nya untuk menjemput kedua mertua nya.
"Hati-hati Ayah, Mama" ucap Mora lembut.
"Ya sayang, nanti sore Mama akan kesini lagi" balas Mama Hesti.
Mora dan Wildan menganggukan kepala, lalu setelah mengantarkan sang mertua, Wildan duduk bersama dengan Mora yang sedang menggendong baby Wira.
"Princess bangun dong sayang, ayo kita main sama Daddy" ucap Wildan dengan mengusap lembut pipi Putri nya.
"Dadd, jangan di bangunin ih nanti nangis" ucap Mora dengan kesal.
Wildan hanya terkekeh dan memindahkan sang Putri ke boxs bayi nya, setelah itu ia membawa buah-buahan segar untuk sang Istri.
.
.
__ADS_1
.