
Sampai malam Aron dan Santi masih di panti asuhan.
Aron seperti enggan untuk pergi dari sana.
Hingga jam 09 malam Aron berpamitan pada Ibu, sebenarnya ia ingin sekali menginap disana tetapi ia juga harus memeriksa beberapa berkas di Rumah.
"Hati-hati di jalan, Nak" ucap Ibu dengan melambaikan tangannya.
Aron dan Santi menganggukan kepala dengan tersenyum.
Lalu Aron melajukan mobil nya keluar dari pekarangan Panti asuhan.
"Sudah lega?" tanya Santi tersenyum.
"Sudah agak lega, besok hanya tinggal menemui Mora dan setelah itu aku akan ke makam Putra ku" jawab Aron tersenyum lembut.
"Itu lebih baik" ucap Santi terkekeh.
Aron tertawa kecil, dan akhir nya sepanjang perjalanan mereka terus saja bercanda dan tertawa.
Mereka tidak menyadari bahwa kedekatan mereka menimbulkan emosi di mobil yang ada di samping nya, yang memang kebetulan sedang ada di lampu merah.
"Sialan kau Aron" geram Winda dengan penuh emosi.
Saat lampu nya sudah hujau , Winda melajukan mobil nya dengan kecepatan penuh.
Ia terus saja mengikuti mobil Aron, hingga saat di jalan yang agak sepi, Winda menabrakan mobil nya pada mobil Aron.
Entah sampai berapa kali Winda melakukan hal itu dan saat di tikungan, mobil Aron lepas kendali sampai menabrak pembatas jalan dan masuk ke dalam jurang.
"Tidakkkkk" teriak Winda dengan histeris saat melihat mobil Aron meledak di dalam jurang.
Brak.
Duar.
Winda tanpa pikir panjang langsung saja memberhentikan mobil nya, tetapi saat ia akan melihat ke jurang, Winda di tangkap oleh beberapa warga yang melihat kejadian.
"Apa apaan ini" bentak Winda dengan keras.
"Anda harus bertanggung jawab Nona, karena Anda yang menabrak mobil tersebut hingga masuk ke dalam jurang" ucap salah satu pria yang ada disana.
Deg.
__ADS_1
Winda merutuki kebodohan nya karena berhenti dan bahkan sampai tertangkap.
Hingga tak lama kemudian, mobil ambulance dan polisi datang kesana.
Beberapa orang langsung saja turun untuk mencari korban.
"Kau lebih baik mati saja, Ron" batin Winda tanpa bersalah.
Polisi langsung memborgol Winda dan memerintahkan anak buah nya untuk membawa nya ke kantor polisi.
"Pak, ada dua orang yang sudah tergeletak" teriak salah satu dari mereka yang ada di jurang.
"Segera bawa ke atas" ucap polisi tersebut.
Tim medis langsung saja bersiap, mereka menerima kedua nya dan segera pergi ke Rumah sakit terdekat.
Polisi dan yang lainnya masih mengamankan laju lalu lintas disana.
**
Mobil yang membawa Mora dan yang lainnya baru saja tiba di Kota, tepat nya di Mansion Wildan.
Mereka semua langsung saja masuk ke dalam, karena hari sudah larut jadi mereka akan menginap disana.
Hingga salah satu dari mereka menyalakan televisi dan disana sedang menayangkan berita kecelakaan.
"Bukankah itu mobil Winda?" tanya Mora dengan menunjuk ke arah tv.
"Ya kau benar Nona, dan itu mobil nya Aron" jawab Frans dengan terkejut.
"Apa yang terjadi dengan mereka, bahkan mobil Aron sampai di derek dari dalam jurang" ucap Afnan dengan bingung.
"Entahlah, aku yakin sekali pasti Winda melakukan sesuatu pada Aron" balas Mora dengan yakin.
Wildan lalu menghubungi pihak Rumah sakit, ia menanyakan korban tersebut di bawa kesana atau tidak.
"Bagaimana, Mas?" tanya Mora saat Wildan selesai berbicara.
"Ya, itu adalah Aron dan Sekertaris nya, Santi. Dan kata saksi disana, bahwa mobil Winda yang menabrak nya sampai masuk ke dalam jurang" jelas Wildan
"Terus bagaimana dengan keadaan Aron, Tuan?" tanya Frans khawatir, meskipun ia pernah benci tetapi ia tidak bisa tenang saat mantan Atasannya celaka.
"Aku tidak tau, karena aku tidak menanyakannya" jawab Wildan kembali.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita kesana?" usul Fira dengan cepat
"Besok saja, Istri ku sedang sakit sayang" tolak Wildan tegas.
"Frans, pergilah jika kau memang khawatir" ucap Mora dengan tersenyum.
Frans lalu menatap Afnan, ia tidak ingin meninggalkan Istri nya tetapi ia juga khawatir.
"Pergilah Mas, besok pagi aku akan kesana dengan yang lainnya" ucap Afnan lembut.
Frans menganggukan kepala nya, ia lalu mengecup kening Afnan terlebih dulu.
"Biar saya temani" ucap Hari
"Aku juga akan ikut" timpal Roy
Mereka bertiga lalu pergi dari mansion setelah berpamitan.
Afnan, Fira dan Elisa langsung saja masuk ke dalam kamar untuk istirahat.
Begitupun dengan Mora, ia sudah berada di kamar bersama dengan Wildan.
"Besok kita kesana ya, Mas" ucap Mora pelan.
"Iya sayang, sekalian kamu periksa" balas Wildan.
"Periksa saja oleh mu, Suamiku juga kan Dokter" ucap Mora terkekeh.
Wildan tersenyum kecil, lalu ia merebahkan diri nya di samping sang Istri.
"Aku ini Dokter ahli tulang, bukan Dokter umum sayang" jelas Wildan dengan memeluk Mora erat.
Mora sontak saja langsung tertawa, ia baru ingat bahwa Suami nya bukan Dokter umum.
"Tidurlah" ucap Wildan lembut.
Tanpa menjawab, Mora memejamkan mata nya dan ia juga memeluk tubuh candu Suami nya.
.
.
.
__ADS_1