PENGKHIANATAN!

PENGKHIANATAN!
Bab 75


__ADS_3

Setelah acara makan selesai, Mora minta untuk di temani jalan-jalan di sekitar halaman brlakang yang banyak pohon buah-buahan.


"Bi, siapa yang menanam buah-buahan ini? Bukannya ini buah-buahan yang ada di Indonesia?" tanya Mora penasaran.


"Tuan Wildan Nyonya, dia mengirimkan bibit nya dan menyuruh kami menanam nya dan memang buah-buahan ini sangat enak" jawab Bibi ramah.


"Kayak nya enak kalau makan jambu air dengan rujak Bi" celetuk Mora dengan menahan air liur nya.


"Sebentar Bibi panggilkan dulu orang untuk mengambil nya dan membuat bumbu rujak nya" ucap Bibi dengan cepat.


Sedangkan Mora, ia duduk di kursi yang ada di sana sambil menunggu Bibi.


"Sabar ya, Nak. Kita akan makan rujak kok" gumam Mora sambil mengusap lembut perut nya.


Tentang kehamilan kembar nya memang hanya keluarga saja yang tahu, tidak ada orang lain yang mengetahui nya.


Terlihat Bibi datang dengan seorang pengawal dan juga pelayan.


Bibi menyuruh pengawal tersebut untuk mengambil jambu air dan ia sendiri membuat sambal rujak nya bersama Mora dan pelayan.


"Bibi pakai kacang" pinta Mora dengan antusias.


"Jadi rindu Ibu, kalau di panti pasti buat bumbu rujak nya pakai kacang" batin Mora.


Setelah selesai semuanya, Mora langsung saja memakannya dengan antusias apalagi dengan cuaca yang lumayan panas.


"Bibi, bagikan pada yang lain ini terlalu banyak" ucap Mora.


"Baik Nyonya" balas pelayan.


Mora lalu masuk ke dalam Rumah dengan membawa satu mangkuk rujak jambu air.


Ia duduk di ruang keluarga sambil menunggu Wildan pulang.


Tak lama kemudian terdengarlah suara deru mesin mobil yang masuk ke halaman Rumah tersebut.

__ADS_1


"Ah akhir nya kamu pulang juga, Mas" gumam Winda dengan bahagia.


Lalu ia melangkah menuju ke arah pintu utama , terlihat disana Wildan datang dengan membawa papper bag di tangannya.


"Assalamualaikum, sayang" ucap Wildan dengan mengecup kening Mora lalu beralih ke perut nya.


"Waalaikumsalam, Daddy" balas Mora lembut lalu ia menyalami sang Suami.


Wildan lalu mengajak Mora untuk masuk ke dalam, mereka berdua duduk di ruang keluarga.


"Kamu ngidam sayang?" tanya Wildan saat melihat rujak di atas meja.


"Iya, tadi aku jalan-jalan sama Bibi eh lihat ada jambu air yang sudah matang jadi deh ingin rujak hehe" jawab Mora dengan tersenyum kecil.


Wildan tersenyum, ia lalu mengusap lembut perut Mora dengan sayang.


"Apa kabar anak-anak Daddy?" ucap Wildan lembut.


"Jangan nakal ya sayang, jangan buat Mommy susah" ucap nya lagi dengan lembut.


"Siap Daddy" balas Mora dengan suara khas anak kecil.


Wildan lalu menyodorkan papper bag pada Mora.


"Apa ini Mas?" tanya Mora


"Itu gaun untuk mu sayang, nanti malam kita akan ke pesta pernikahannya Dokter Bimo" jawab Wildan sambil memeluk Mora


"Jadi jalan-jalan nya besok saja ya, karena aku besok tidak ada jadwal" ucap Wildan kembali.


"Baiklah, Mas" balas Mora lembut.


Wildan lalu mengajak Mora untuk masuk ke dalam kamar, ia sudah ingin membersihkan tubuh nya yang terasa lengket.


Mora dengan hati-hati menyiapkan air untuk Suami nya, lalu ia juga menyiapkan pakaian ganti untuk sang Suami.

__ADS_1


"Mas, sana sudah siap" ucap Mora.


"Terimakasih sayang" balas Wildan tersenyum.


Mora menganggukan kepala, lalu ia memilih untuk ke dapur untuk menyiapkan makan siang untuk mereka.


Pergerakan Mora memang tidak terlalu bebas karena kehamilannya, tetapi ia masih bisa untuk membuat makanan.


Mora meminta bantuan Bibi pelayan untuk menyiapkan bahan-bahannya, sedangkan ia yang memasak nya.


"Nyonya, biar kami saja" ucap Bibi karena merasa ngeri lihat majikannya yang kesana kemari dengan perut besar nya.


"Tidak apa Bi, kalian cukup memberikan apa yang aku butuhkan saja" balas Mora lembut.


"Baiklah,tapi kalau lelah biar kami yang mengerjakan" pasrah Bibi.


Mora mengangguk, lalu ia meminta ini dan itu pada Bibi pelayan.


Sedangkan yang lainnya menyiapkan minuman serta makanan ringan sebagai penutup.


Tak lama kemudian, Wildan datang kesana dan menggelengkan kepala nya saat melihat sang Istri yang begitu lincahnya memasak makanan.


"Sayang, biar Bibi yang lanjutkan ya" ucap Wildan


"Tidak apa Mas, ini sudah mau selesai kok" balas Mora tersenyum.


Dan tak berselang lama makanan nya pun sudah jadi, Mora menyuruh pelayan untuk menyajikan nya dan ia sudah duduk bersama Wildan.


"Kalau lelah jangan di paksakan sayang" ucap Wildan mengusap lembut dahi Mora.


"Iya Mas, maaf ya" balas Mora tersenyum.


Wildan hanya menganggukan kepala nya, lalu mereka makan siang dengan hasil pasakan Mora.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2