
Sore hari nya, Mora dan Wildan memilih jalan-jalan di dekat Villa tersebut.
Sedangkan yang lainnya, mereka ada yang pergi ada juga yang berdiam diri di Villa.
"Mas, kembali ke Villa yuk?" ajak Mora dengan lesu.
Wildan menghentikan langkah nya, ia lalu melihat sang Istri.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Wildan khawatir.
"Aku hanya lelah dan sedikit pusing saja, Mas" jawab Mora memejamkan mata nya sebentar.
Wildan langsung saja menggendong Mora, ia membawa nya kembali ke Villa yang tak jauh dari sana.
Tak berselang lama, akhir nya mereka sampai juga di Villa dan Wildan langsung saja membawa Mora ke dalam kamar.
"Tuan" sapa Hari yang memang ada disana.
"Tolong beritahu yang lain, kita akan kembali nanti malam karena Istri ku sakit" ucap Wildan segera.
"Baik" balas Hari patuh dan tanpa bertanya apapun.
Hari lalu memberitahu semua nya agar kembali ke Villa dan bersiap, karena sebentar lagi mereka akan kembali ke Kota.
Di kamar, Wildan membaringkan Mora dengan lembut. Ia bahkan mengecup kening Mora berkali-kali.
"Mas, aku ingin tidur dulu" ucap Mora dengan lirih.
"Tidurlah, Mas akan menjaga mu disini dan nanti Fira yang akan membereskan barang-barang kita" jelas Wildan dengan lembut.
Mora hanya menganggukkan kepala saja, ia serasa tidak punya tenaga untuk sekedar membalas ucapan sang Suami.
***
-Jakarta
Aron menundukan kepala nya saat Dava memberitahu bahwa Widiatma group mengambil semua saham nya yang ada di perusahaan.
Aron tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa dan kemungkinan perusahaannya di ambang ke hancuran.
Karena Widiatma group adalah penanam saham terbesar di perusahaannya.
"Mungkin ini adalah teguran untukku lewat mantan Istri ku, sendiri" ucap Aron dengan memejamkan mata nya.
__ADS_1
Terlihat wajah penyesalan, tetapi sekarang semua nya percuma karena sudah terlanjur.
"Tuan, anda bisa memulai nya kembali dengan semua sisa ini" ucap Dava sopan.
"Ya kau benar Dava, dan aku akan meminta maaf terlebih dulu pada Mora" balas nya dengan lirih.
"Santi, kau cek keuangan sekarang. Apakah kita mampu untuk merampungkan proyek bersama perusahaan Sy atau tidak, dan nanti malam semua karyawan berkumpul di Aula" jelas Aron dengan tatapan pasrah nya.
"Jangan menyerah, kami akan selalu ada bersama mu" ucap Santi lembut.
Aron menganggukan kepala nya, ia memilih untuk beranjak dari sana dan duduk di dekat jendela besar yang langsung menghadap ke arah jalan raya.
Dava dan Santi langsung saja pergi darisana , mereka akan membiarkan Aron untuk sendiri dulu.
"Mora, maafkan aku. Aku sadar, bahwa harta dan kepuasan tidak akan membawa kita kepada kebahagian. Ya aku merasakan semua nya sekarang Mora, di tinggal Putra dan Putri ku, bahkan perusahaan yang aku banggakan , yang aku perjuangkan dan aku agungkan hari ini sudah hampir roboh.
Semua ini karena aku terlalu terlena dan serakah, Mora.
Berbahagialah selalu bersama pasanganmu, Mora" batin Aron dengan terisak.
Aron memejamkan mata nya, ia terisak dalam diam dan hanya air mata nya saja yang mengalir.
Menyesal? Sudah pasti itu yang di rasakan Aron sekarang.
Tetapi semua nya sudah terlambat, karena nasi sudah menjadi bubur.
Aron melangkahkan kaki nya menuju ke dalam kamar mandi. Ia akan membasuh muka nya sebelum pergi ke suatu tempat.
Setelah dirasa cukup, ia langsung keluar dari dalam ruangannya.
"Dava, untuk pengumpulan karyawan di undur jadi besok pagi saja. Aku akan pergi ke suatu tempat terlebih dulu" ucap Aron dengan tegas.
"Baik Tuan" patuh Dava.
"Boleh aku temani?" ucap Santi dengan tersenyum.
Aron menghela nafas kasar dan menganggukan kepala nya.
Lalu mereka berdua pergi ke tempat dimana mobil Aron berada.
Aron melajukan mobil nya dengan tatapan yang kosong dan bahkan terdengar sesekali ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan kasar.
"Mas, percayalah kalau kita ikhlas maka semua nya akan baik-baik saja" ucap Santi dengan lembut.
__ADS_1
"Aku sudah ikhlas San, hanya saja aku belum lega kalau belum meminta maaf pada Mora" balas Aron dengan pelan.
"Besok pagi sebelum ke perusahaan, kita ke mansion Mora terlebih dulu saja , Mas" usul Santi
Aron mengangguk setuju, lalu ia kembali fokus pada jalanan.
Tak berselang lama dan akhir nya mereka sampai juga di tempat tujuan.
Disinilah Aron berada, di panti asuhan tempat Mora di besarkan.
"Ayo, San" ajak Aron tersenyum kecil.
Santi mengangguk, lalu mereka melangkah masuk ke dalam.
"Assalamualaikum" ucap Aron dan Santi.
"Waalaikumsalam" balasan dari dalam.
Ceklek.
"Ibu" panggil Aron dengan mata berkaca-kaca.
Bruk.
"Maafkan Aron bu, maafkan semua kesalahan Aron selama ini pada Ibu" ucap Aron dengan memeluk kaki Ibu panti dengan terisak.
"Maafkan Aron Bu, Aron salah selama ini" ucapnya lagi dengan terisak.
Ibu panti menghela nafas, ia memegang pundak Aron dan menyuruh nya bangun.
"Ayo masuk dulu" ajak Ibu Panti dengan lembut.
Lalu mereka masuk dan duduk di ruang tamu, Aron kembali memeluk wanita paruh baya tersebut dengan erat.
Bahkan ia mengucapkan kata maaf berkali-kali dengan air mata yang terus menetes.
Santi ikut menangis diam melihat bagaimana Aron yang menyesali semua perbuatannya.
Begitupun dengan Ibu panti, ia juga memeluk Aron yang sudah ia anggap sebagai Putra nya sendiri.
"Ibu sudah memaafkan mu, Nak" bisik Ibu dengan tulus.
.
__ADS_1
.
.