PENGKHIANATAN!

PENGKHIANATAN!
Bab 46


__ADS_3

Wildan mengajak Mora untuk makan malam di luar, ia sudah lama tidak makan di luar bersama sang Istri.


"Mas, Mora ingin makan pecel lele" ucap Mora dengan tersenyum.


"Baiklah Tuan Putri" balas Wildan.


Mora tertawa kecil dan masuk ke dalam mobil, mereka sengaja pergi berdua karena ingin bersantai.


Wildan langsung melajukan mobil nya ke arah jalan raya , disana ia mencari pedagang pecel lele.


"Mas, kita ke jalan X disana ada yang jualan pecel lele sangat enak" ucap Mora.


"Oke" balas Wildan semangat.


"Apa Mas pernah makan pecel lele?" tanya Mora.


"Belum sayang, makannya Mas sangat ingin sekali mencoba nya karena teman Mas ada yang bilang bahwa pecel lele itu sangat nikmat" jawab Wildan dengan antusias.


Mora tersenyum, ia lalu menunjukan jalan nya pada sang Suami.


Hingga mereka sampai juga di depan warung tenda yang ada di pinggir jalan raya.


Mora dan Wildan langsung saja keluar dari dalam mobil, mereka memesan makanan dan minuman.


Mereka duduk lesehan disana dengan tenang, bahkan wajah Mora begitu berbinar menunggu pesanannya.


Hingga tak lama kemudian, pesanan mereka sudah datang, dan Mora langsung saja melahap nya.


Mereka makan dengan suasana yang tenang dan hening, hanya terdengar beberapa orang memesan ataupun suara motor dan mobil.


Mora dan Wildan memutuskan untuk jalan-jalan terlebih dulu sebelum kembali lagi ke mansion.


Dan setelah selesai makan, mereka berdua langsung keluar dari sana.


"Ayah, lihatlah keponakanmu ini baru saja keluar dari tempat makan kumuh dan pinggir jalan" ejek Winda dengan wajah jijik nya sambil menatap Mora dan Wildan.


"Apa Suami mu tak sanggup untuk mengajak mu makan malam di restoran mewah?" tanya Jana dengan penuh ejekan.

__ADS_1


Mora dan Wildan hanya saling pandang dan tersenyum kecil saja, mereka memilih mendengarkan ocehan kedua nya saja.


"Ck, sebaik nya kau ceraikan saja dia karena dia hanya menumpang saja" ejek Winda lagi.


"Lalu apa yang kau bawa itu, Winda? Bukankah itu plastik dari penjual pinggir jalan juga. Berarti kita sama dong" balas Mora sambil menunjukan plastik yang di bawa oleh Winda.


"Ahh itu bukan dari pinggir jalan sayang, itu dari Restoran X bukan?" tanya Wildan dengan penuh senyum mengejek.


"Bukan Mas, itu di depan Restoran X ada penjual itu" kekeh Mora dengan sinis.


"Sial" batin Winda dan Jana.


Winda dan Jana langsung saja pergi darisana karena sangat malu di lihat banyak orang yang sedang mengantri.


Mora lalu tertawa kecil dengan melangkah masuk ke dalam mobil yang sudah di bukakan oleh Wildan.


"Mereka itu ada-ada saja, malu sendiri kan" ucap Wildan terkekeh.


"Biarkan saja, Mas" balas Mora tersenyum.


Wildan mengajak Mora jalan-jalan terlebih dulu, ia bahkan melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang karena ingin menikmati udara malam dengan tenang.


"Kamu ngantuk?" tanya Wildan tersenyum kecil.


Mora hanya menganggukan kepala nya sambil memejamkan mata nya.


Malam belum terlalu larut tetapi mungkin tubuh Mora kelelahan jadi ia sudah terserang kantuk.


Wildan langsung saja melajukan mobil nya ke arah jalan pulang, ia melajukan mobil nya agak cepat karena kasihan dengan Mora.


**


-Rumah Sakit


Sedangkan di Rumah sakit, Aron sedang menunggu Putri nya yang sedang di periksa karena ia mengalami kejang-kejang kembali.


Bahkan panas nya tidak turun-turun sejak dibawa ke Rumah sakit.

__ADS_1


"Bi, kenapa Putri ku terkena DBD ya padahal kan semua nya terlihat beresih" gumam Aron dengan khawatir.


"Bibi juga tidak tau Tuan, kita berdo'a saja agar Nona Cinta baik-baik saja" ucap Bibi dengan tulus.


"Mas" panggil Santi yang baru saja tiba dari Rumah nya.


"Apa yang terjadi? Tadi aku pergi bukannya masih baik-baik saja?" tanya Santi dengan panik.


Aron memeluk Santi dengan penuh ketakutan, ia takut kehilangan Putri nya kembali sama seperti dulu ia kehilangan Bayi Mora.


"Aku tidak tau, mungkin ini hukuman karena dulu aku mau saja membunuh Putra ku dan Mora" lirih Aron di pelukan Santi.


"Mas, minta maaflah pada Mbak Mora agar kau lebih tenang" ucap Santi.


"Benar apa kata Nona Santi Tuan, minta maaflah pada Nyonya Mora agar kau tenang dan juga lega" timpal Bibi dengan lembut.


Aron melepaskan pelukannya, ia menatap Santi dan Bibi bergantian lalu menganggukan kepala nya.


"Ya aku harus meminta maaf pada Mora" batin Aron dengan yakin.


Hingga fokus mereka teralihkan pada pintu kar darurat di buka oleh Dokter.


"Dok, bagaimana keadaan Putri saya?" tanya Aron dengan cepat.


Dokter menghela nafas lalu ia menggelengkan kepala nya.


"Maaf Tuan, kami tidak bisa menyelamatkan Nona Cinta" ucap Dokter dengan penuh penyesalan.


Deg.


Aron langsung saja luruh ke lantai dengan air mata yang sudah menetes.


"Tidakkkkkk" teriak Winda yang baru saja tiba bersama dengan kedua orangtua nya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2