PENGKHIANATAN!

PENGKHIANATAN!
Bab 87


__ADS_3

Setelah kedua nya terlelap, Wildan lalu menidurkan di boxs bayi yang bersebelahan dengan Mora.


"Mau makan?" tanya Wildan pada Mora


"Iya Mas, aku lapar hehe" jawab Mora dengan tersenyum malu.


Wildan mengecup pipi Mora dengan gemas, lalu ia mengambil makanan yang sudah disiapkan untuk Mora.


Mora makan sangat lahap, apalagi ia sudah mengeluarkan tenaga yang sangat hebat tadi.


"Mas, maaf minum nya" ucap Mora dengan tersenyum.


"Nih sayang, makan yang banyak" balas Wildan lembut.


Lalu Wildan kembali duduk di hadapan Mora, ia mengusap lembut kepala Mora.


Mora mendongkak, ia menatap Wildan dengan senyuman teduh nya.


"Terimakasih, sayang" ucap Wildan lembut


"Untuk?" tanya Mora sambil membersihkan sisa makannya.


"Untuk semua nya, untuk kau bersedia bertaruh nyawa hanya demi anak-anak kita dan untuk kau yang bersedia terus bersama denganku" jawab Wildan lembut


"Dan aku sangat bahagia akan itu" ucap Mora tersenyum.


"Sini, aku tau kamu pasti lelah" ucap Mora kembali dengan menepuk samping nya.


Wildan terkekeh, ia lalu merebahkan tubuh nya di samping sang Istri yang memang kebetulan ranjang nya yang size jadi muat untuk 2 orang.


Wildan memeluk pinggang Mora yang masih terduduk, ia mulai memejamkan mata nya yang cukup melelahkan.

__ADS_1


Mora mengusap lembut rambut Wildan, ia tersenyum melihat Suami nya yang sudah terlelap begitu saja.


"Terimakasih juga karena kau aku tau akan arti bahagia yang sesungguh nya" gumam Mora mengecup kening Wildan.


Mora lalu ikut memejamkan mata nya, ia cukup tenang karena sang Baby juga terlelap dengan nyenyak karena kenyang.


Tak lupa juga ia mengunci pintu dengan remot yang ada di samping


*


Ke esokan pagi nya, mereka sudah bangun dan sudah rapih juga segar.


Apalagi Baby twins, mereka sudah cantik dan ganteng.


Mama Hesti membawa mereka berjemur di pinggir kaca besar yang tembus akan cahaya matahari.


"Ya ampun, kenapa Wartawan nya makin banyak" ucap Mama Hesti dengan kaget.


"Benarkah Ma?" tanya Mora penasaran.


"Ayah dan Mas Wildan sudah disana juga" ucap Mora.


"Iya Nak, mereka akan klarifikasi semua nya tanpa memperlihatkan wajah Baby twins" balas Mama Hesti.


"Memang itu kemauan aku Ma, aku gak mau mereka di kenal banyak orang dulu" ucap Mora.


"Itu bagus sayang, demi keselamatan mereka. Kita tidak tau orang yang benci sama kita" balas Mama Hesti sambil berjalan menghampiri Mora dengan mendorong boxs Baby twins.


Oekk Oekk


Miraa menangis dengan kencang, ia terlihat sangat haus karena belum minum Asi sejak tadi.

__ADS_1


"Ma, tolong kemarikan princess ku" ucap Mora dengan tersenyum.


"Mungkin dia sudah haus ya, sayang" balas Mama Hesti dengan memberikan baby Miraa.


Sedangkan Mama Hesti, ia menatap Cucu laki-laki nya yang masih terlelap dengan sangat tampan.


Ia mengecup pipi nya dengan gemas.


***


Berita bahwa kelahiran sang pewaris dari Sy dan Widiatma sudah tersiar dan terdengar kemana-mana.


Bahkan Aron dan Santi pun ikut bahagia atas kelahiran nya, mereka dengan antusias mengirimkan banyak hadiah untuk bayi Mora dan Wildan.


"Secepatnya kita akan menyusul mereka mempunyai Baby, ya Mas" ucap Santi dengan mengusap perut nya.


"Iya sayang, sabar ya mungkin besok kita di beri kepercayaan untuk punya Baby" hibur Aron dengan tersenyum.


Ya, pasangan mereka belum juga di karuniai keturunan, padahal mereka juga sudah cek ke Dokter kandungan dan semua nya baik-baik saja.


Mungkin Tuhan belum menghendaki nya, mereka berdua terus saja bersabar akan hal itu.


Santi dan Aron langsung pulang setelah membelikan beberapa hadiah untuk Wildan dan Mora.


Mereka akan mengirimkan nya lewat anak buah Dava, karena mereka belum ada rencana akan pulang ke tanah air.


Santi langsung saja membersihkan diri nya saat mereka sampai di kamar. Sedangkan Aron, ia duduk di balkon kamar nya dan menikmati udara malam hari.


"Mungkin ini karma karena aku telah menyianyiakan Putera ku sendiri" batin Aron dengan sendu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2