
Wildan terbangun dini hari, ia merasa haus dan mengerjapkan mata nya.
"Haus sekali" gumam Wildan lalu mengambil air putih yang ada di nakas pinggir ranjang.
Setelah itu, Wildan menatap wajah Mora yang sedang terlelap dengan tenang.
"Cantik" gumam Wildan tersenyun.
Hingga ia tersentak saat Mora menggeliat dan memeluk nya dengan erat.
"Emmm, Mas" ucap nya dengan mengerjapkan mata.
Wildan tersenyum kecil, lalu ia memberikan air pada Mora yang sudah ikut duduk.
"Aku ganggu ya, sayang?" tanya Wildan
"Tidak Mas, aku memang haus jadi bangun" jawab Mora tersenyum.
Wildan lalu memeluk Mora sambil duduk , ia menghirup aroma sampo yang ada di rambut sang Istri.
"Aku menginginkan mu, sayang" bisik Wildan dengan merdu.
Mora hanya menganggukan kepala saja, ia juga merindukan sang Suami karena sudah beberapa hari ini mereka sama-sama sibuk.
Wildan merebahkan Mora dengaj perlahan, tanpa melepaskan penyatuan bibir nya.
Dan hanya sekejap saja mereka sudah sama-sama polos tanpa sehelai benang pun.
Hingga pada akhir nya kamar yang sunyi itu menjadi bising akibat suara kenikmatan dari dua insan suami istri tersebut.
Terdengar adzan subuh mereka baru menyelesaikannya, Wildan langsung saja membawa tubuh sang Istri masuk ke dalam kamar mandi.
**
__ADS_1
-Rumah sakit Widiatma.
Frans, Hari dan Roy masih di Rumah sakit, mereka menunggu kabar dari Dokter tentang kondisi Aron dan juga Santi.
Mereka juga bahkan belum sempat Istirahat sepulangnya dari Puncak.
"Frans, kau sudah menghubungi Dava?" tanya Roy.
"Sudah, mungkin dia akan kemari pagi nanti karena ia juga sedang mengurus perusahaan yang sedang kacau" jawab Frans.
Roy menghela nafas kasar, ia cukup terkejut saat mendengar cerita dari saksi bahwa mobil Winda terus saja menabrak mobil Aron dari belakang hingga mengakibatkan kecelakaan.
Ceklek.
Dokter keluar dari dalam ruangan yang dimana ada Aron dan Santi di dalam nya.
"Bagaimana keadaan mereka, Dok?" tanya Frans.
"Mereka sudah di pindahkan ke ruangan yang Tuan minta, bahkan mereka di satu ruangankan" jelas Dokter lagi.
"Dan satu lagi, besok Dokter Wildan akan memeriksa kaki wanita nya karena saya mengira kaki nya terbentur hingga menjadi kaku dan susah akan berjalan" ucap nya lagi.
Frans, Roy dan Hari hanya diam mendengarkan ucapan Dokter. Mereka menghela nafas kasar saat mendengar penjelasan Dokter.
"Baik Dok, terimakasih" ucap Roy mewakili mereka.
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi" balas Dokter.
Roy menganggukan kepala nya dan membiarkan Dokter tersebut pergi.
Setelah itu, mereka bertiga langsung saja pergi ke ruangan dimana Aron di rawat.
Ceklek.
__ADS_1
Frans membuka pintu, disana ia bisa melihat tubuh Aron yang terpasang alat-alat di tubuh nya.
"Aron, bertahanlah. Aku tau kamu itu orang baik, bangunlah dan tunjukan pada kami bahwa kau sudah berubah" bisik Frans lirih.
Lalu ia duduk di kursi yanga da di pinggir ranjang Aron, ia mengusap lengan Aron dengan lembut.
"Frans, bagaimana dengan keluarga Santi?" tanya Hari.
"Aku tidak tau, nanti kita tunggu Dava saja" jawab Frans bangkit dari duduk nya.
Lalu Frans menghampiri kedua nya, ia duduk di sofa yang ada di ruangan sana.
"Kalian pulanglah, ini sudah pagi bahkan sebentar matahari akan muncul" ucap Frans saat melihat jam sudah menunjuk angka 05 pagi.
"Yasudah kami pulang lebih dulu, nanti sebelum ke perusahaan kami akan singgah kembali kesini" balas Roy.
"Ya, hati-hati di jalan" ucap Frans.
Roy menepuk pundak Frans lembut, lalu mereka berdua pergi dari sana.
Frans menghela nafas, ia merasa kasihan dengan Aron akan semua ini.
"Mungkin ini teguran untukmu, Aron" gumam Frans dengan lirih.
Lalu ia mengunci ruangan dan setelah itu ia merebahkan diri di atas sofa.
Frans memilih untuk tidur sebentar sebelum nanti ia akan pulang setelah Dava datang kesana.
.
.
.
__ADS_1