PENGKHIANATAN!

PENGKHIANATAN!
Bab 41


__ADS_3

-Indones**ia**


1 minggu kemudian, Mora dan Wildan datang ke panti asuhan untuk bertemu dengan Ibu panti dan juga anak-anak.


Mora membawa beberapa mainan, buku baru dan yang lainnya.


Ia bahkan membawa makanan untuk makan siang bersama dengan mereka.


"Antusias sekali Nyonya ku" goda Wildan dengan tersenyum lembut.


"Aku sudah rindu dengan mereka , Mas. Sudah lama juga aku tidak menjenguk Ibu" ucap Mora tersenyum manis.


Wildan hanya menganggukan kepala, lalu ia kembali fokus melajukan kembali mobil nya.


"Sayang, bagaimana dengan mereka?" tanya Wildan.


"Tidak apa, Mas. Besok ada proyek yang akan di perebutkan di perusahaan mu dan Pamanku Jana akan di kalahkan oleh menantu nya sendiri" jawab Mora santai.


"Tetap hati-hati ya sayang" ucap Wildan lembut.


Mora tersenyum, ia lalu memeluk lengan Wildan dengan hangat.


"Aku akan selalu baik-baik saja karena kau ada bersama ku, Mas" ucap Mora dengan yakin.


"Tentu, karena aku akan selalu membuat mu aman, nyaman dan bahagia" balas Wildan dengan yakin.


Mora dan Wildan sama-sama tersenyum dengan bahagia, pernikahan mereka yang baru 1 bulan sudah sangat di uji dengan masalah Paman Mora yang terus mencari masalah.


Tak lama kemudian, mereka sampai juga di halaman panti asuhan, Mora dan Wildan lalu membawa semua hadiah untuk anak-anak keluar.


Setelah itu, ia masuk ke dalam bersamaan.


**


Sedangkan di Mansion Aron. Saat ini Winda sedang menunggu kedua orangtua nya yang akan datang dan akan menetap disana.


Aron? Dia sedang bekerja walaupun di hari weekend karena ada berkas untuk proyek besar. Begitulah alasannya!


Tak lama kemudian, terdengarlah mesin mobil yang berhenti di halaman mansion Aron.


"Ah itu pasti Ayah dan Bunda" gumam Winda dan ia langsung saja beranjak ke depan.

__ADS_1


Putri nya ia titipkan pada Art yang sedang istirahat di halaman belakang.


"Ayah, Bunda" panggil Winda bahagia.


"Nak, bagaimana kabarmu?" tanya Yuli dengan tersenyum hangat.


Winda hanya tersenyum saja, lalu ia membawa Ayah dan Bunda nya untuk masuk ke dalam mansion.


Mereka duduk di ruang keluarga, bahkan Winda sudah menempel pada sang Bunda.


"Bagaimana dengan keluarga disana, Ayah?" tanya Winda.


"Sudah beres, dan sekarang kita harus segera melenyapkan Putri nya" jawab Jana tersenyum


"Ah aku sudah sangat ingin segera bermain dengannya, Ayah" ucap Winda berbinar.


"Mulai besok, kau sudah bisa bermain bersama Bunda mu" balas Jana dengan tersenyum miring.


Yuli dan Winda sangat bahagia, mereka sudah sangat ingin membuat Mora menderita.


"Mora itu hanyalah wanita bo*oh, masa dia mau menikah dengan Dokter yang kere terus perusahaan nya di biarkan oleh Roy yang menjalankannya" ketus Winda dengan kesal.


"Besok kita akan ke mansion nya, dan kita akan memberitahu bahwa kalian adalah sepupu" ucap Yuli dengan mengusap lembut bahu Winda.


"Nyonya maaf, Nona muda ingin menyusu" ucap Bibi yang datang bersama Cinta.


"Ahh Putri ku, kemarikan Bi" pinta Winda.


Bibi langsung saja memberikannya pada Winda , setelah itu ia segera pergi dari sana.


Winda langsung saja memberi nya asi, ia tersenyum saat melihat Putri nya menyusu dengan lahap.


"Cantik sekali Cucu, Oma" ucap Yuli dengan berbinar.


"Iya Oma" balas Winda dengan terkekeh.


Hingga perhatian mereka teralihkan saat ada yang masuk, dan siapa lagi jika bukan Aron.


"Ayah, Bunda" sapa Aron dengan menyalami mereka.


"Aron, duduklah Nak" ucap Jana dengan semangat.

__ADS_1


"Ada apa, Ayah?" tanya Aron dengan bingung.


Jana langsung saja duduk di samping Aron, ia akan meminta sesuatu pada menantu nya.


"Aron, Ayah minta kau besok mengalah di perebutan proyek di perusahaan Sy dan biarkan Ayah yang memenangkan nya" pinta Jana dengan tegas.


Aron langsung menggelengkan kepala nya, ia tidak akan mengalah pada siapapun termasuk itu Ayah mertua nya sendiri.


"Tidak bisa Ayah, itu terserah Tuan Hari saja yang memilih nya" balas Aron lebih tegas.


"Mas" ucap Winda dengan menatap suami nya tajam.


Aron menatap ketiga nya dengan bergantian, lalu ia bangkit dari duduk nya.


"Aku akan tetap berjuang mendapatkan proyek itu dan disana kita berjuang sendiri-sendiri" tegas Aron dengan emosi.


Lalu Aron melangkah pergi ke kamar nya dengan langkah yang tegas, bahkan ia tak menghiraukan saat Istri nya berteriak.


"Enak saja menyuruh ku mengalah, memangnya aku tidak butuh uang apa" gerutu Aron saat masuk ke dalam kamarnya.


Aron lalu duduk di sofa, ia memejamkan mata untuk meredakan emosi nya.


Brak.


"Mas, kenapa kamu tidak mau mengalah dengan Ayah?" tanya Winda dengan lantang seraya menatap Aron dengan tajam.


"Hei pelankan suara mu, Winda. Semakin kesini kau semakin berani ya" bentak Aron dengan kesal.


"Aku juga punya perusahaan, punya karyawan Winda. Semua karyawan ku bekerja dengan keras untuk mendapatkan hasil besok. Jika Ayah mu menginginkan nya, maka bekerja keraslah" bentak Aron kembali.


Aron lalu langsung pergi keluar dari kamar, ia sangat muak pada Istri dan keluarga nya.


"Mau kemana Mas, ini sudah malam" teriak Winda.


"Bukan urusan mu" balas Aron dengan datar.


Aron pergi dengan mengendarai mobil nya sendiri, ia butuh ketenangan saat ini.


Pikirannya kacau karena Istri nya yang selalu mengoceh saja.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2