
Dua orang pemuda saat ini sedang terbaring tak sadarkan diri di Padang rumput yang luas.
Tempat itu di kelilingi oleh bukit-bukit kecil. Terdapat juga sungai panjang yang membelah salah satu bukit tersebut.
Dua orang pemuda itu tidak lain dan tidak bukan adalah Xiao Wang dan Chen Li. Keduanya terbaring tepat di pertengahan Padang rumput.
Namun dikarenakan rumput-rumput hijau agak kekuningan itu tumbuh dengan begitu tingginya, sehingga dua orang itu sangat sulit untuk terjangkau jika di lihat dari bawah.
Dari kejauhan, terlihat rombongan gajah yang berukuran besar sedang berlari menuju kearah dimana dua orang pemuda itu terbaring.
Ukuran gajah-gajah tersebut sendiri memiliki tinggi sekitar 7 meter. Selain itu kecepatannya pun juga sangat mengerikan. Dimana jika gajah Semak Afrika mampu berlari dengan kecepatan 40 km/jam, maka rombongan gajah itu berada di atas gajah Semak Afrika.
Hingga dalam beberapa menit, gajah-gajah tersebut hampir mencapai tempat Chen Li dan Xiao Wang terbaring.
Langkah kaki yang menggetarkan tanah, membuat salah satu diantara dua pemuda itu terbangun.
Xiao Wang memegangi kepalanya yang agak pusing. Energi Qi nya dirasa tinggal sedikit. Seluruh badannya terasa lemas.
Xiao Wang mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Tak ada apa-apa selain rumput-rumput hijau yang menghalangi jarak pandangnya.
"Gempa?" Xiao Wang berucap serentak ketika menyadari tanah yang bergetar. Seiring dengan berjalannya waktu, getaran tersebut dirasa semakin cepat.
"Ada apa ini?"
Untuk membereskan rasa penasarannya, Xiao Wang lalu berdiri. Meskipun dirinya telah berdiri, namun ia masih tetap tidak bisa menjangkau sesuatu. Terpaksa dia harus melompat.
Saat itu lah ia bisa melihat rombongan gajah yang berukuran besar yang berlari kearahnya. Larinya pun sangat cepat.
"Hewan apa itu?" Xiao Wang baru pertama kalinya melihat hewan berukuran besar tersebut. Namun untuk saat-saat seperti ini, tidak ada waktu untuk memikirkan tentang hewan tersebut. Yang ia pikirkan adalah, mengenai keselamatannya.
Segera ia berlari menghindari tempat itu. Namun saat dirinya hendak memulai larinya, tiba-tiba kakinya menabrak sesuatu hingga membuatnya terjatuh menimpa benda tersebut.
"Tubuh!"
Segera ia melihat wajah dari orang tersebut. Alangkah terkejutnya ia ketika mengenali orang tersebut adalah pemuda yang sebelumnya menjadi lawan tandingnya di babak final Turnamen Pemuda Berbakat.
Sementara Chen Li yang tak sadarkan diri mendadak terbatuk-batuk ketika merasakan dadanya tertimpa sesuatu. Setelah itu, dia bangkit sambil tangan yang memegangi kepalanya yang agak pusing.
"Ma-maafkan aku. Aku tidak sengaja!" Xiao Wang berucap cepat, meminta maaf kepada pemuda yang tadi sempat ditabraknya.
Chen Li menatap Xiao Wang dengan tatapan bingung. Dia menatap wajah pemuda itu yang nampak tidak asing baginya. Sesaat ia langsung tersentak ketika otaknya berhasil mengenali pemuda itu.
"Kau..." Perkataannya tergantung ketika dia merasakan pantatnya yang naik turun di tanah.
Getaran itu semakin terasa kuat. Debu-debu pun mulai berterbangan di area Chen Li dan Xiao Wang berada.
__ADS_1
"Terlambat! Tidak ada waktu untuk bercakap-cakap, kita harus bergegas pergi dari sini!" ucap Xiao Wang. Dari nada yang dikeluarkan, terlihat jelas bahwa dia sangat panik.
"Maksudmu?" Chen Li bingung dengan ucapan pemuda itu.
"Tak ada waktu untuk menjelaskan ... Ayo!"
Xiao Wang segera menarik pergelangan tangan Chen Li, setelahnya melesat dengan sangat cepat. Chen Li yang belum siap sampai dipaksa untuk mengikuti langkah kaki Xiao Wang.
Tenaga Xiao Wang seakan terasa kembali terisi penuh. Kecepatan larinya pun kini seimbang dengan rombongan gajah tersebut.
Sementara Chen Li yang kebingungan, ingin menepis tangan Xiao Wang. Namun ia memilih untuk mengurungkan niatnya.
Perlahan, kepalanya ia arahkan di belakang. Dia yakin, pemicu pemuda itu mengajaknya berlari ada di belakangnya. Di sela-sela rumput yang banyak, matanya dapat menangkap sesuatu berwarna cokelat kehitaman bergerak ke arah mereka.
Pandangannya semakin ia pertajam. Tak lama setelahnya, kedua matanya terbelalak. Kecemasan menghampirinya kala itu. Lebih khawatir daripada Xiao Wang. Chen Li begitu mengenali hewan tersebut.
"Ga-gajah!" ucapnya sedikit bergetar.
Besar dan tumbuh di alam liar bersama Wan Li, membuat Chen Li mengetahui nama-nama hewan beserta kekuatannya.
Segera ia menepis kasar tangan Xiao Wang. Larinya yang semula agak melambat, kini bertambah cepat. Lebih cepat dari Xiao Wang sendiri.
Xiao Wang yang melihat Chen Li berlari terbirit-birit merasa heran sesaat, sebelum akhirnya juga ikut mempercepat larinya.
Entah mengapa rombongan gajah itu seakan tak mau melepaskan mereka berdua. Gajah-gajah tersebut terus saja mengikuti Xiao Wang dan Chen Li, bahkan ketika mereka berbelok arah.
Di hadapan Chen Li dan Xiao Wang saat ini adalah jurang yang sangat curam. Kedua pemuda itu mendadak menghentikan larinya.
"Bagaimana ini?" Tanya Xiao Wang meminta pendapat Chen Li, sementara rombongan gajah itu semakin mendekati mereka.
"Tak ada pilihan lain ... Lompat!" selesai dengan mengucapkan kalimatnya, Chen Li langsung melompati jurang tersebut.
"Aaaaa!" Suaranya terdengar menggema di bawah sana.
Xiao Wang merasa ragu untuk mengikuti jejak Chen Li. Namun ia juga tak punya pilihan lain sementara gajah-gajah tersebut semakin mendekatinya. Dia pun memutuskan untuk melompat.
"Aaaaa!"
Tangan mungilnya berusaha menggapai dinding-dinding batu. Butuh usaha beserta luka sebelum akhirnya tangannya berhasil memegang salah satu batu yang menancap keras.
"Huuh, akhirnya!" Jantungnya berdebar cepat, keringat membasahi bajunya. Kini dia tampak kotor beserta kulitnya yang agak gatal, disebabkan kotoran pasir menempeli badannya.
"Bagaimana rasanya!"
Tiba-tiba saja suara seseorang terdengar di sampingnya. Dan tentu saja membuat debar jantungnya yang semula agak mendingan, kini kembali tergetar hebat. Hampir saja tangan Xiao Wang terlepas menggenggam batu tersebut. Beruntung ia dengan cepat memposisikan dirinya.
__ADS_1
"Huuh, hampir saja!" Xiao Wang menghela nafas panjang, sebelum akhirnya sorot matanya menatap tajam kearah Chen Li yang kini tampak tertawa kegirangan karena berhasil mengageti dirinya.
"Kenapa kau mengagetkanku. Untung saja aku tak terjatuh tadi," bentak kecil Xiao Wang.
"Hahaha..." Chen Li menanggapinya dengan tertawa.
Sejenak, keduanya terdiam. Suasana hening sesaat.
"Siapa namamu!" Chen Li berucap tiba-tiba, memecah suasana.
Xiao Wang menatap mata Chen Li sesaat. Ada rasa tidak asing ketika tatapan keduanya bertemu.
"Xiao Wang ... Namaku Xiao Wang!"
"Owh." Bibir Chen Li membentuk huruf 'O'
"... Namaku Chen Li!" Ujarnya kembali memperkenalkan diri.
"Umm." Xiao Wang menanggapi hanya dengan menganggukkan kepala.
"Ehh ngomong-ngomong, kenapa prajurit kerajaan Api hendak menangkap mu waktu itu?" tanya Xiao Wang.
Sejenak, Chen Li terdiam mendengar pertanyaan yang dilontarkan Xiao Wang. Ekspresinya mulai berubah, dari yang tadinya sumringah, kini berubah agak murung.
Melihat perubahan pada wajah Chen Li, membuat Xiao Wang menjadi serba salah. Kini dia menyesal telah menyinggung masalah itu.
"Maafkan aku!" ucap Xiao Wang.
Chen Li melirik Xiao Wang sesaat. Sudut bibirnya kembali terangkat. "Tidak apa-apa!" Chen Li pun mulai menceritakan tentang persoalan dirinya dengan kerajaan Api.
Singkatnya, dirinya adalah putra dari Raja kerajaan Api terdahulu, yang kemudian kerajaan ayahnya diambil alih oleh saudaranya sendiri dengan cara tak beradab. Kedua orang tuanya meninggal pada hari itu juga. Dia di besarkan oleh salah satu jenderal kerajaan Api, yaitu Wan Li.
"... Itulah sebabnya mereka hendak menangkap ku waktu itu!" Chen Li mengakhiri kalimatnya.
Xiao Wang mengangguk. Ada rasa empati terhadap apa yang dialami oleh Chen Li. Terlihat raut wajah Chen Li kembali berubah.
"Kau tenang, Sobat. Aku akan membantumu untuk membalas dendam atas kematian kedua orang tuamu!" ucap mantap Xiao Wang, yang mencoba untuk menenangkan Chen Li.
"Terima kasih, Xiao Wang!"
"Umm!"
Keduanya terus saja bercengkrama tanpa ada sedikitpun terbesit di pikiran mereka untuk naik di atas jurang. Hingga suara siluman yang sangat mereka kenali terdengar dari dalam jurang yang gelap.
"Ssssstt!" Suara mirip ular itu sukses membuat kedua anak itu panik
__ADS_1