
"Apa yang terjadi?" tanya Wan Li pada seorang prajurit yang saat ini tengah berlutut di hadapannya.
"A-ampun Yang Mulia. Kerajaan Angin datang menyerang kerajaan Api! Sekarang mereka sudah berada di perbatasan," jelas prajurit tersebut.
"Apa! Berani sekali mereka menyerang kerajaan di saat-saat seperti ini!" geram Wan Li.
Kerajaan Api dan kerajaan Angin memang kerap terjadi konflik antar keduanya. Semua bermula oleh kerajaan Angin yang kian mencari perkara yang bisa mereka jadikan acuan permusuhan antar keduanya.
Sebenarnya dulu sebelum Pertempuran Besar dua tahun lalu terjadi, kedua kerajaan itu memiliki hubungan baik. Bisa di bilang kedua Kerajaan itu dulunya bersahabat.
Namun setelah insiden Turnamen Pemuda Berbakat dua tahun lalu, Kerajaan Api mengalami penurunan drastis dalam hal kekuatan, sehingga hal itu pula lah yang menyebabkan Kerajaan Angin mulai menjauh. Karena menganggap Kerajaan Api tak berguna lagi.
"Sial!" Wan Li berdecak kesal. "Kita tidak bisa mengandalkan prajurit saat ini. Pasalnya, tidak sedikit prajurit yang mengalami luka serius setelah kejadian tadi. Juga saat ini mereka dalam proses penyembuhan."
"Paman tenang saja. Kerajaan Angin, biar aku dan Xiao Wang yang urus." Chen Li berkata yakin.
Wan Li menatap lekat kedua anak itu. Tak ada keraguan sama sekali di mata keduanya.
"Apakah kau serius? Li'er, jangan bercanda! Ini sama sekali tidak lucu!" ujar Wan Li.
"Paman, apakah tampang kami menunjukan kalau kami sedang bergurau?" tanya Chen Li.
Wan Li terdiam. Memang benar apa yang di kata Chen Li barusan.
"Baiklah, kalau begitu. Mari kita bersama-sama mengusir kerajaan Itu!" tegas Wan Li.
"Kenapa tidak menghancurkan kerajaan lemah itu sekalian, biar semuanya tau bagaimana hebatnya Kerajaan Api sekarang!"
Wan Li menautkan kedua alisnya mendengar pernyataan Chen Li barusan.
"Sudah-sudah, mari kita mulai saja perjalanannya. Tidak baik menunggu terlalu lama!" Xiao Wang menengahi keduanya.
Ketiga orang itu pun melesat dengan kecepatan tinggi, menuju perbatasan kerajaan Api dan kerajaan Angin.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama bagi Xiao Wang, Chen Li, serta Wan Li untuk sampai di tujuan. Dapat ketiganya lihat, beberapa prajurit kerajaan Api yang jumlahnya tiga ratusan, saat ini tengah melawan kerajaan Angin yang jumlahnya sekitar ribuan. Kalau saja Chen Li, Xiao Wang serta Wan Li terlambat semenit saja. Mungkin Pasukan kerajaan Api yang ada di sini pasti akan habis.
"Sial! Tunggu apa lagi, mari kita turun!"
Ketiganya pun lantas turun bergabung dengan pasukan. Ketiganya menyerang dengan sangat brutal, hingga dalam sekejap, tempo pertarungan yang semula di kuasai oleh kerajaan Angin, kini telah berbalik. Kerajaan Api yang telah mendominasi.
Pasukan kerajaan Angin yang semula merasa di awan-awan, kini mulai gusar kala melihat aksi tiga orang itu yang membantai habis-habisan anggota mereka. Terutama dua orang anak kecil yang saat ini tengah di kelilingi oleh lautan musuh.
"Siapa tiga orang itu?"
"Apakah Kerajaan Api memiliki orang sekuat itu?"
"Tidak... Mereka pasti menyewa kultivator tahapan langit dari kerajaan atau kekaisaran lain!"
Berbagai pertanyaan serta tanggapan di keluarkan orang-orang dari kerajaan Angin. Tak pernah masuk dalam perhitungan sebelumnya ketiga orang itu.
Di sisi lain, saat ini seorang Pria dengan gagah berani mengangkat pedangnya dan menusukkan pada jantung lawan. Kembali ia mencabut pedang tersebut dan menebaskan pada leher prajurit kerajaan Angin. Dengan Kuda yang di pacu cepat, beberapa kepala telah berhasil ia lepas dari badan.
Saat sedang sibuk menebas pasukan kerajaan Angin, mendadak anak panah melesat dengan kecepatan tinggi. Tepat mengenai dada bagian kirinya membuat pria itu terjatuh dari kuda.
"Sial. Siapa yang berani menyerang-ku diam-diam!" geramnya.
"Hahaha! Chen Guan... Kenapa kau ini begitu bodoh. Begitu besarkah kecintaan mu terhadap kerajaan Api sampai-sampai berjuang hingga titik darah penghabisan?! Apakah kau tak mengetahui bagaimana Kakakmu, Chen Huang di istana saat ini tengah bersenang-senang dengan beberapa wanita ... sedang Kau? Tch, bodoh!"
Seorang lelaki berbaju besi lengkap dengan pedang yang berkilap di terpa cahaya matahari tiba-tiba berdiri di hadapan lelaki tersebut yang ternyata adalah Chen Guan.
Chen Guan melirik pria tersebut. Dia mengetahui lelaki itu sebagai Mui Wu, Salah satu dari Jenderal Kerajaan Angin.
"Jangan mencoba memprovokasi aku, Mui sialan!" Chen Guan berusaha berdiri, namun dirinya tidak bisa menyeimbangkan tubuh, membuat dia kembali terjatuh.
"Hahaha! Chen Guan. Kau ini terlalu polos atau terlalu bodoh."
Jenderal Mui Wu berjalan mendekati Chen Guan. Sesampainya di hadapan pria itu, kakinya lantas melayang dan menyepak muka Chen Guan membuat lelaki itu terpental dengan muka yang lebih dulu mendarat di tanah.
__ADS_1
"Percuma saja kau mengelak, namun itulah kenyataannya. Kau tidak lain hanyalah seorang adik yang di jadikan anjing oleh saudaranya sendiri."
Chen Guan merasakan telinganya yang panas kala mendengar perkataan Jenderal Mui Wu barusan. Memang benar. Ia juga menyadari bahwa dirinya hanyalah seekor anjing peliharaan kakaknya. Dimana setiap ada masalah genting, Raja Chen Huang akan menurunkan dia untuk menyelesaikan masalah tersebut, sedang Chen Huang tidur nyenyak di dalam kamar besarnya beserta dengan wanita-wanita di sisinya.
"Kalau saja Kakak Chen Long masih hidup, aku pasti tak akan bernasib seperti ini!" batin Chen Guan.
Dia sendiri lahir tidak satu rahim dengan Chen Huang serta Chen Long. Dirinya dilahirkan oleh seorang Selir. Meski begitu, Chen Long tetap menganggapnya sebagai saudara satu rahim. Lain halnya dengan Chen Huang.
Tangan Chen Guan mengepal pasir dengan keras. Ingin rasanya ia menonjok muka jenderal itu. Namun apalah dayanya. Bangkit, bahkan bergerak pun begitu susah ia lakukan.
"Kenapa? Kau marah!" Jenderal Mui Wu menginjak tangan Chen Guan. Bahkan untuk menambah sensasi yang di rasa Chen Guan, Jenderal Mui Wu memutar-mutar kakinya.
Ringisan kesakitan dapat terdengar dari mulut Chen Guan. Tangan satunya berusaha meninju betis Jenderal Mui Wu. Namun bukannya melepaskan, Jenderal Mui Wu malah menginjak kepala Chen Guan membuat wajahnya terbenam pada tanah yang berpasir.
Chen Guan berusaha memberontak, namun kaki jenderal Mui Wu terlalu kuat menekan tangan beserta Kepalanya.
"Sial! Apakah ini akhir dari hidupku?" batinnya pasrah.
"Singkirkan kaki busuk mu itu dari tubuh Tuan Chen Guan!" Suara seseorang tiba-tiba terdengar. Memperingati Jenderal Mui Wu.
Pria itu menoleh ke samping kanan, berusaha mencari keberadaan asal suara tersebut.
Dapat ia lihat, seorang pria yang tak terasa begitu asing, berjalan ke arah mereka. Tatapan tajam itu, membuat mental Jenderal Mui Wu sedikit menciut.
"Siapa kamu?!"
Wan Li melirik Pria itu sembari seringai sinis di tampaknya.
"Oi! Oi! Beberapa tahun tak bertatap muka, ternyata kau telah melupakan ku, Jenderal Mui Wu!"
Jenderal Mui Wu memincingkan mata, berusaha mengingat baik-baik wajah pria tersebut. Namun ia tak dapat mengetahui pasti siapa sebenarnya orang itu.
"Siapa kamu?" Jenderal Mui Wu mengarahkan pedangnya pada Wan Li, berjaga-jaga jika saja pria itu menyerang dirinya.
__ADS_1
Wan Li semakin memperlebar sunggingan di bibirnya.
"Apakah kau masih ingat insiden di Desa Jiangshi, sepuluh tahun silam?"