Perjalanan Menjadi Yang Terkuat

Perjalanan Menjadi Yang Terkuat
Ch. 26 ~ Kembali Ke Kerajaan Api


__ADS_3

Entah sudah berapa bulan Xiao Wang dan Chen Li berlatih teknik yang diajarkan masing-masing gurunya.


Xiao Wang sudah bisa mengontrol hujan anak panahnya pada satu titik. Meskipun masih ada juga yang kebablasan dan bergerak ke arah lain.


Sementara Chen Li, telah berhasil melepaskan teknik Tapak Pemusnah Jiwa nya dalam radius hingga 5 meter. Meski belum sesuai dengan harapan, namun setidaknya pemuda itu tetap bersyukur atas pencapaiannya itu.


Siang itu, Qingshui dan Dianhuo memanggil Chen Li serta Xiao Wang.


"Ada apa Senior Guru memanggil kami?" Chen Li bertanya kepada kedua senior sekaligus guru bagi keduanya.


"Sudah setahun lebih kalian berada di dunia ini! Kalian juga telah menyelesaikan beberapa pelatihan yang kami berikan. Kultivasi kalian pun telah mencapai Tingkatan Alam tahap satu, sedikit lagi akan menerobos Tingkatan Alam tahap dua." Qingshui berucap sembari memandangi wajah Xiao Wang dan Chen Li bergantian.


Xiao Wang dan Chen Li mengangguk, tanda membenarkan kalimat tersebut.


"Kalian sudah terlalu lama di tempat ini! Sudah waktunya bagi kami untuk melepas kalian. Dan meyerahkan kalian pada guru." Dianhuo memandangi wajah Chen Li dan Xiao Wang yang tampak karut mendengar pernyataan itu.


"... Namun sebelum itu, seperti yang telah di janjikan. Sebelum bertemu guru, kalian boleh kembali ke dunia kalian dan menyelesaikan urusan kalian terlebih dahulu. Setelah itu baru kembali lagi ke dunia ini." Dianhuo kembali berucap.


Kedua anak itu mengangguk. Chen Li mendekati Dianhuo, lalu membungkuk sebanyak tiga kali.


"Terimakasih, atas latihannya beberapa bulan ini, Senior Guru!"


Dianhuo merasa sedikit terharu. Meski selama ini, sering terjadi pertengkaran kecil antar keduanya. Namun baginya, Chen Li tetaplah murid terbaik diantara murid-muridnya yang lain.


Selesai dengan melakukan sembah hormat kepada Dianhuo, Chen Li pun berdalih ke arah Qingshui dan melakukan hal yang sama.


Xiao Wang juga tak ketinggalan. Dia juga melakukan hal yang sama seperti Chen Li terhadap dua guru sekaligus seniornya itu.


"Karena hari ini adalah hari terakhir kalian berada di dunia ini. Maka sebentar malam kita akan melakukan perayaan besar-besaran," ucap Dianhuo.


"Kau benar! Anggap saja, sebagai penutup dari latihan ini." Qingshui juga ikut menambahkan.


Setelahnya, keempat orang itu beranjak dari tempatnya masing-masing. Bersama-sama mencari hewan buruan yang akan mereka jadikan sebagai menu malam ini.


Tibalah saatnya malam dimana perayaan tersebut di laksanakan.


Acara pertama, pemberian hormat untuk terakhir kalinya. Selesai dengan memberi hormat, Chen Li langsung melesat memeluk tubuh Dianhuo secara tiba-tiba.

__ADS_1


"A-apa yang kau lakukan! Lepas!" Dianhuo merasa lain ketika di peluk oleh seorang lelaki. Meski Chen Li baru berusia 9 tahun. Namun entah mengapa, dia merasa tidak nyaman.


"Huaaah, guru!" Chen Li merengek. Pelukannya semakin di pererat, sembari mengeluarkan ingus dengan menggunakan hanfu Dianhuo sebagai lap.


Dianhuo kesal sekaligus jijik. Segera ia melepas lingkaran lengan Chen Li, setelahnya mendorong pemuda itu kasar. Meski begitu, Chen Li tetap tak putus akal. Pemuda itu mengejar Dianhuo, hendak kembali memeluknya.


Aksi kejar-kejaran pun dapat disaksikan dari keduanya. Membuat tawa renyah menghiasi acara perpisahan itu.


Setelah menyaksikan aksi konyol yang dipertontonkan kedua orang itu, mereka pun mulai menyantap hidangan dengan berbagai macam menu telah tersedia di sana. Sambil menyaksikan indahnya kembang api dengan berbagai macam warna menghiasi langit malam yang kelam.


***


Xiao Wang dan Chen Li bangun ketika matahari telah tinggi. Saat tersadar, mereka menemukan keduanya telah berada di tempat yang asing. Berbeda dengan tempat sebelumnya, sebelum mereka tertidur.


Xiao Wang mengernyit. "Kita berada di mana?" Xiao Wang bertanya pada Chen Li sambil mengucek-ucek kedua matanya, dikarenakan dunia masih nampak buram di matanya.


Chen Li juga bingung menjawab pertanyaan Xiao Wang. Pasalnya, tempat itu juga terasa begitu asing baginya.


"Senior guru!" Chen Li tiba-tiba teringat akan kedua gurunya.


"Mereka berdua di mana?" Chen Li berkata sembari pandangannya ia arahkan di sekelilingnya. Namun pemuda itu tak kunjung menemukan keberadaan Qingshui dan Dianhuo.


Chen Li mengangguk. "Dan kau, Xiao Wang!" Chen Li berbalik bertanya, dan di angguki oleh Xiao Wang.


"Berarti memang benar, kita tidak sedang bermimpi." Xiao Wang tampak berpikir. "Lalu mengapa kita berada di tempat ini? Bukankah semalam kita bersama dengan guru Qingshui dan Dianhuo?"


"Entahlah!"


Saat menoleh ke samping, Chen Li tidak sengaja menemukan sebuah gulungan yang masih tersegel, di atas sebuah batu besar yang terdapat goresan berupa tulisan.


Keduanya pun menghampiri batu tersebut. Di sana, mereka menemukan pesan dari Qingshui dan Dianhuo. Dari tulisan pada batu tersebut, kedua anak itu mengetahui bahwa saat ini mereka sedang berada di dunianya.


Gulungan yang ada di atas batu itu adalah, gulungan portal. Jika mereka telah menyelesaikan urusannya masing-masing di dunia itu, mereka bisa membuka segel gulungan tersebut, untuk kembali ke dunia dimana Dianhuo dan Qingshui melatih mereka sebelumnya.


Xiao Wang dan Chen Li melakukan sujud kepada batu tersebut sebanyak tiga kali. "Terima kasih, Senior Guru!" ucap keduanya secara bersamaan.


Chen Li meraih gulungan itu. "Sekarang, kita berada di mana?"

__ADS_1


Meski dalam batu tertulis bahwa mereka telah kembali ke dunia, tempat dimana mereka dilahirkan. Namun, baik Xiao Wang maupun Chen Li, tak ada yang mengenali tempat itu.


"Entahlah!" Xiao Wang mengangkat bahu.


Sejenak, kedua anak itu terdiam. Sedang memikirkan sesuatu. Tiba-tiba, mereka mendengar suara keributan dari arah datangnya angin.


"Apakah kau mendengar suara itu?" tanya Chen Li memastikan bahwa suara yang ia dengar barusan bukan hanya suara bisikan angin semata.


"Ya, aku mendengarnya! Suara itu berasal dari arah sana!" Xiao Wang mengangkat tangannya. Menunjuk ke arah datangnya angin.


Untuk membayar rasa penasaran, kedua pemuda itu melesat dengan kecepatan tinggi. Mencari asal suara keributan tersebut.


"Asap!"


Dari kejauhan, kedua pemuda itu melihat kepulan asap yang sangat tebal, bergerak ke atas. Menandakan bahwa kebakaran hebat telah terjadi di sana.


Kedua pemuda itu semakin mempercepat langkah. Dalam beberapa detik, mereka telah sampai di sebuah desa dengan mayat yang bergelimpangan di mana-mana. Rumah-rumah kini telah di lahap oleh si jago merah.


Bau darah, asap, gosong bercampur aduk menghiasi udara.


"Apa yang terjadi?" Xiao Wang berucap, sembari memeriksa salah satu mayat yang kini tergeletak tanpa kaki sebelah.


"Hmm! Dilihat dari kondisi mayat ini, seharusnya kejadian ini baru saja terjadi beberapa waktu yang lalu. Belum lama!" ucapnya kembali.


Chen Li memegangi dagunya. "Harusnya penyebab semua ini, masih ada di sekitaran sini. Pastinya mereka belum jauh dari tempat ini!"


"Kau benar!"


Kedua pemuda itu mulai berpencar. Memeriksa kondisi desa itu. Tau-tau, ada sesuatu yang bisa mereka gunakan sebagai petunjuk nantinya.


Beberapa saat keduanya kembali bertemu.


"Apakah kau menemukan sesuatu?" tanya Xiao Wang.


"Tidak!" Chen Li mengeluarkan sesuatu di balik bajunya. "Apakah kau mengenali simbol ini?" Chen Li menunjukkan sobekan kain dengan gambar tengkorak merah.


Xiao Wang mengernyit. Kedua bahunya terangkat, tanda dia juga tak mengetahuinya. "Simpan saja. Barangkali kita bisa mendapat petunjuk dari simbol itu!"

__ADS_1


"Kau benar!"


__ADS_2