
Setelah selesai membantai orang-orang yang ada di tempat itu, Chen Li dan Xiao Wang berniat masuk lebih dalam.
Namun, belum juga mereka beranjak, kini mereka telah di hadang oleh ratusan orang, dengan setelan yang dipakainya memiliki simbol yang sama semua.
Melihat kedatangan orang-orang itu, baik Xiao Wang maupun Chen Li tak bisa lagi untuk menahan seringai mereka.
"Anak kecil, beraninya kalian mengacau di tempat kami! Cari mati kau hah?" Seorang pria yang berada di posisi terdepan, mengeluarkan suara bentakan keras terhadap Xiao Wang dan Chen Li.
Tak ada tanggapan dari kedua anak itu. Sementara rombongan yang berada di belakang pria itu kini tampak berbisik-bisik kala melihat beberapa rekan mereka yang mati mengenaskan oleh kedua bocah itu.
"Sudahlah, Paman! Langsung saja ke intinya... Tujuan kami datang ke sini, adalah untuk membantai kalian!" Chen Li yang menjawab pertanyaan pria itu.
"Oi! Oi! Seorang anak kecil yang bahkan baru tahu memegang pedang, mau membantai kelompok kami! ... Apakah kau tidak sedang bercanda, bocah?" Pria itu kembali berucap.
Tak ada tanggapan dari Xiao Wang maupun Chen Li.
Saat ini, kedua anak itu sedang sibuk mengukur kekuatan lawan. Rombongan orang itu kebanyakan berada di Tahapan Tinggi. Tak sedikit pula diantaranya berada di tahapan Bumi. Dengan kultivasi Tahapan Langit hanya beberapa orang.
"Bagaimana ini?" tanya Chen Li, meminta pendapat Xiao Wang.
Meski kultivasi kedua anak itu berada di atas mereka. Namun, membutuhkan waktu beberapa jam untuk menghabisi mereka dengan jumlah mereka yang lumayan banyak.
"Kau tenang saja! Serahkan mereka semua padaku. Kau hanya perlu membereskan sisanya." Xiao Wang berucap dengan penuh keyakinan.
"Apakah kau yakin?"
Anggukan kepala Xiao Wang menandakan ia memang yakin dengan perkataannya barusan.
"Baiklah!"
Setelahnya, Chen Li berniat menghindar dari tempat itu.
"Hoi, Anak Kecil. Belum apa-apa, kau sudah kabur. Katanya mau membantai!" Pria tersebut kembali berucap. Intonasi yang dikeluarkannya pun tampak meledek Xiao Wang dan Chen Li.
"Tch, Pak Tua. Hanya sekelompok semut merah... Seorang saja di antara kami sudah lebih dari cukup menghapus kalian semua." Xiao Wang membalas perkataan pria itu.
Mendengar ucapan Xiao Wang, pria itu menjadi sedikit naik pitam. "Tch, sombong sekali kau Bocah!" bentaknya. Setelahnya, ia berniat menyerang Xiao Wang. Namun belum juga selangkah, dirinya telah merasakan suhu di udara yang serasa begitu mencekam.
Pemuda itu melakukan suatu segel tangan. Seiring dengan gerakan tangan Xiao Wang, awan hitam mulai di giring angin, terkumpul di atas sana. Tak ada setitik pun cahaya sang mentari yang berhasil tembus dari tebalnya awan tersebut.
Tak hanya itu, suhu di sekitar terasa begitu menekan. Petir pun juga terdengar menggelegar di balik lebatnya awan hitam itu.
__ADS_1
Di sisi lain, rombongan yang di pimpin pria tersebut, kini tampak bergetar. Baru kali ini mereka merasakan kekuatan yang amat sangat besar. Tak pernah mereka temui sebelumnya dibelahan dunia mana pun kekuatan yang seperti di keluarkan oleh bocah ini.
"Apa yang terjadi?"
"Kenapa suhu terasa begitu mencekam?"
"Siapa sebenarnya bocah itu?"
Berbagai pertanyaan mulai dikeluarkan beberapa orang dari rombongan tersebut.
Sebenarnya, mereka berniat untuk berlari, kala melihat perubahan drastis pada cuaca. Insting masing-masing orang mengatakan bahwa sesuatu yang sangat berbahaya akan segera menimpa mereka, jika tak kunjung menghindar.
Namun mereka juga tak berani bertindak gegabah. Bisa saja kepala mereka akan terpotong nantinya, oleh orang-orang berkekuatan langit itu.
Setidaknya, mereka masih memiliki harapan bertahan hidup, kala melihat beberapa kultivator tahapan langit berada di sana.
Namun, mereka juga tak bisa menjamin akan hal itu. Pasalnya, ganasnya cuaca seolah-olah semakin menjadi-jadi. Yakin dan percaya, bahwa para Kultivator Langit sekalipun tak akan bisa menahan serangan yang akan datang.
"Hujan Penembus Jantung!" Xiao Wang berteriak lantang.
Tak lama setelahnya, di balik tebalnya awan hitam di atas sana. Mulai mengeluarkan sesuatu berwarna bening yang sangat banyak.
Namun tak ada yang pernah menyangka bahwa hujan tersebut yang akan merenggut nyawa mereka.
Jika mereka memiliki pandangan jeli, maka mereka akan menemukan keganjalan pada bentuk dari tetesan air hujan tersebut. Dimana memiliki ujung yang runcing, selain itu juga bentuknya yang memanjang. Persis semacam anak panah yang terbuat dari air. Sangat beda jauh dengan hujan yang biasanya turun.
Xiao Wang mulai menggerakkan tangannya, berusaha mengendalikan hujan anak panah itu pada satu titik.
Ribuan anak panah yang keluar dari awan hitam tersebut bergerak dengan kecepatan tinggi sesuai dengan arahan tangan Xiao Wang.
Tak lama setelahnya, teriakan memilukan dapat terdengar dari mulut rombongan orang tersebut.
Tak ada yang bisa mengelak dari ribuan hujan anak panah tersebut yang datang tiba-tiba, dan langsung menghujam mereka dari berbagai sisi.
Memang anak panah pertama mereka masih mampu menahannya. Namun anak-anak panah itu bukan datang satu dua kali. Melainkan puluhan kali menghujani mereka.
Sehingga tak ada yang bisa mengelak. Semuanya mati tanpa bisa melakukan perlawanan berarti.
Sementara itu. Kultivator dengan tahapan langit, tak tinggal diam melihat ribuan anak panah itu. Segera mereka menciptakan perisai energi di atas mereka, guna melindungi diri dari hujaman anak-anak panah tersebut.
Namun sialnya, anak panah tersebut terlalu kuat. Hanya dengan sepuluh hantaman anak panah air, membuat perisai yang mereka cipta langsung retak.
__ADS_1
Mulut serta mata mereka terbuka lebar. Tak menyangka akan hasil yang mereka peroleh. Sialnya, belum sempat melakukan sesuatu, puluhan anak panah telah datang, dan menghujam mereka, hingga menembus tubuh.
Beberapa saat, hujan anak panah tersebut berhenti turun. Xiao Wang bernafas lega setelahnya. Meski ia telah berusaha semaksimal mungkin untuk mengontrol anak-anak panah itu, namun ada saja anak panah yang nakal, dan bergerak di sembarang tempat. Xiao Wang sendiri sampai terkena anak panah itu di bagian lengannya.
"Wang, apakah kau tak apa?"
Chen Li tiba-tiba muncul, lalu membantu Xiao Wang mengobati lengannya. Chen Li mengaliri lengan Xiao Wang dengan energi Qi guna menghentikan pendarahannya. Setelahnya, ia lantas mengeluarkan beberapa pil dalam cincin penyimpanannya.
Setelah mengonsumsi pil pemberian Chen Li, Xiao Wang tak lagi merasakan rasa sakit. Meski lukanya belum menutup sempurna. Namun setidaknya Xiao Wang telah merasa agak mendingan.
"Terima kasih!" ucap Xiao Wang, berterima kasih kepada Chen Li.
"Tak perlu sungkan! Sebagai seorang kawan, tak ada salahnya kan kita untuk saling tolong menolong!" ucap Chen Li.
Setelah di rasa semuanya telah mati, kedua anak itu kembali bergerak dari tenda satu ke tenda lainnya, mencari sesuatu yang berharga, dari kelompok tersebut. Tak lupa juga mereka melepaskan para gadis yang di tawan oleh kelompok itu.
Setelah itu, baru keduanya kembali bergerak, mencari cabang markas kelompok tersebut di tempat lain.
***
Cabang demi cabang, telah kedua anak itu datangi. Dan setiap mereka bertamu, pasti semuanya tersapu rata. Tak ada yang selamat dari kedua anak itu.
Sementara itu di tempat lain, seorang pria saat ini sedang bersenang-senang di sebuah kamar, bersama dengan beberapa orang wanita.
Sesekali erangan nakal akan terdengar dari mulut beberapa wanita tersebut.
Saat hampir mencapai puncaknya, lelaki tersebut tiba-tiba menghentikan aksinya, kala seseorang mengetuk pintu kamar. Dan tentu saja membuat ia sangat kesal dengan itu.
"Siapa yang berani menggangguku saat aku sedang bersenang-senang!" ucapnya dengan suara membentak. Membuat orang yang sebelumnya mengetuk pintu tampak bergetar hebat.
"Eeh. Tu-tuan! A-ada se-sesuatu yang sa-sangat penting yang hendak aku bicarakan padamu, Tu-tuan!" Pria di balik pintu bersuara dengan nada yang tergetar.
"Apakah kau tak bisa menungguku selesai ... Hah! Berani kau datang lagi dan menggangguku. Maka ku pastikan lehermu terlepas setelahnya!" Kembali bentakan keras terdengar dari mulutnya.
Setelah itu, tak ada lagi suara di balik pintu membuat ia menghela nafas setelahnya.
"Sayang, kenapa kau mengeluarkan bentakan yang sangat keras. Aku sampai dibuat takut olehmu!" Seorang wanita dengan suara pelan menggoda, berucap sembari dua buah kelapanya ia sodorkan pada wajah pria tersebut.
Amarah pria tersebut agak mereda. Segera ia meremas kelapa tersebut lalu menghisap bintil kecil itu dengan ganas. Kemudian ia berkata. "Maafkan aku sayang. Aku tidak suka jika ada yang menggangguku saat aku sedang bersama kalian."
Pria itu kemudian mendekatkan wajahnya pada lembah yang dikelilingi rumput tipis milik salah satu wanita lain, kemudian memainkan indera perasanya di dalam lembah tersebut.
__ADS_1