Perjalanan Menjadi Yang Terkuat

Perjalanan Menjadi Yang Terkuat
Ch. 74 ~ Menjenguk


__ADS_3

Dua Bulan telah berlalu di alam bawah sadar Chen Li. Kini pasukan 500 prajurit telah meningkat kekuatannya. Dari yang tadinya Tingkatan Menengah tahapan kedua, kini naik dua tingkat, menjadi tingkatan Menengah Tahap Keempat.


Tidak hanya itu, bahkan fisik mereka juga ikut meningkat. Jika mereka bertarung dengan kultivator di tahapan yang satu tingkat di atas mereka, mungkin mereka masih bisa mengalahkannya.


Hari ini, para pasukan kembali di kumpulkan. Chen Li berencana untuk mengeluarkan mereka dari alam bawah sadar Chen Li. Setelah itu, mereka akan menyerang kerajaan Air serta Kerajaan Bumi.


"Pasukan Elit Kerajaan Api! Hari ini, adalah hari terakhir kalian berada di alam ini. Setelah ini, kita akan kembali ke dunia nyata. Dan bertempur bersama, melawan dua kerajaan di kekaisaran Han!" Gema suara Chen Li kembali membahana.


Mendengar perkataan Chen Li barusan, tanda tanya mulai menyeruak di benak masing-masing.


Salah satu di antara mereka kemudian memberanikan diri untuk bertanya.


"Mohon maaf, Tuan Muda... Apa maksud dari perkataan Tuan Muda barusan? Kita harus bertempur melawan dua kerajaan di kekaisaran Han? Kerajaan Apa itu Tuan Muda?!" tanya prajurit tersebut seraya membungkukkan badan, melakukan sembah hormat.


"Hmm!" Chen Li menaikan kedua sudut bibirnya.


Kemudian ia mulai menjelaskan masalah di luar atau di dunia nyata. Terkait dengan kerajaan Angin, yang kini telah di ambil alih oleh kerajaan Api. Juga rencana perebutan dua kerajaan tersisa.


Mendengar itu, semua pasukan kembali dibuat bertanya-tanya. Hingga bisik-bisik dapat terdengar dari mereka.


Rencana itu cukup gila, namun mengingat bagaimana mengerikannya kekuatan kedua pemuda di hadapan mereka ini. Rasa-rasanya tidak mustahil untuk melakukannya.


"Tuan Muda. Bukannya aku meremehkan kekuatan Tuan. Tapi menyerang dua kerajaan itu rasa-rasanya begitu mustahil Tuan Muda. Apalagi, kerajaan Bumi terkenal dengan kekuatan pasukannya yang bukan sembarang pasukan." Salah satu prajurit kembali mengangkat bicara.


"Hmm... Kau tak perlu khawatir. Aku sudah memikirkan akan hal itu!" ucap Chen Li santai.


Setelahnya, ia membuka gerbang dimensi menuju dunia nyata.


Satu per satu para pasukan memasuki gerbang itu.


Whush!


Whush!


Whush!


....

__ADS_1


Selang beberapa saat, semuanya telah selesai memasuki portal. Dengan Chen Li serta Xiao Wang yang terakhir memasuki portal tersebut.


Mereka muncul tepat di aula latihan prajurit kerajaan Api. Beberapa prajurit yang kebetulan sedang berlatih di tempat itu, langsung menghentikan latihannya.


Begitu terkejut mereka dengan kemunculan mendadak dari pasukan 500 prajurit serta Xiao Wang juga Chen Li. Sampai-sampai ada yang melompat saking terkejutnya.


"Tu-tuan Muda."


Semuanya lantas memberi hormat kala melihat Chen Li ada di antara pasukan 500 prajurit tersebut.


Salah seorang prajurit langsung berlari. Mecari keberadaan Wan Li. Pasalnya, beberapa hari ini, Wan Li sibuk mencari keberadaan Chen Li serta Xiao Wang yang tiba-tiba saja menghilang tanpa memberi kabar.


Setelah menemukannya, dia bersama Wan Li sama-sama berlari kencang menuju aula Latihan.


"Li'er ... Wang'er! Kemana saja kalian?" Wan Li langsung berteriak memanggil nama Chen Li serta Xiao Wang.


Kedua anak yang di panggil namanya langsung menoleh ke arah sumber suara. Dapat keduanya lihat, Wan Li yang berlari cepat ke arah mereka.


"E-eh, Paman! Kenapa kau begitu tergesa-gesa seperti itu?" tanya Chen Li.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku!"


Setelah di rasa Wan Li telah menetralkan pernafasannya, Chen Li pun menceritakan akan ke mana saja ia selama ini, bersama Xiao Wang.


"Apa?" Wan Li tersentak. "Kenapa kalian tidak memberitahuku. Aku bisa mengikuti kalian, kan!" Wan Li tampak marah.


"Paman, bukan masalah ajak atau tidak. Tapi waktu itu, paman sedang bersama dengan pujaan hati Paman. Jadi aku tak sampai hati menggangu kebahagiaanmu!" jelas Chen Li.


Mendengar alasan Chen Li, seketika Wan Li terdiam, sekaligus tersipu malu.


"Ai', bagaimana anak ini bisa tahu kalau aku punya kekasih. Bisa kacau kalau begini jadinya," batin Wan Li.


"Sudahlah, tidak usah di pikirkan." Wan Li langsung mengalihkan pembicaraan, tak ingin Chen Li membahas terlalu jauh masalah dirinya dengan kekasihnya.


Ia berjalan melewati Xiao Wang serta Chen Li, menuju tempat di mana Pasukan 500 Prajurit Elit berada. Di perhatikan nya mereka dengan seksama. Sembari berjalan ia juga sesekali akan manggut-manggut.


Salah satu tinjunya ia layangkan, menghantam tiba-tiba salah satu prajurit elit. Sontak, prajurit tersebut tidak sempat menepis tinju Wan Li barusan. Meski begitu, ia hanya merasakan sedikit rasa sakit, sebab Wan Li tidak mengaliri tinjunya dengan energi Qi, juga pukulan tersebut tidak terlalu keras.

__ADS_1


Kembali Wan Li menganggukkan kepala.


"Bagus ... bagus. Kalian mendidik mereka dengan sangat baik. Kualitas prajurit elit kita saat ini tidak kalah dengan prajurit kerajaan Bumi serta kerajaan Air."


Wan Li berjalan mendekati Xiao Wang serta Chen Li setelah selesai memperhatikan para pasukan 500 prajurit elit tersebut. Di tepuk-tepuk pelan pundak Chen Li serta Xiao Wang secara bergantian.


"Paman, 500 Prajurit Elit ini, aku percayakan pada paman, untuk memimpin mereka," Chen Li berkata dengan yakin.


"Benarkah?"


Chen Li menganggukkan kepala.


"Aku tidak bercanda, Paman. Tak ada yang lebih cocok untuk memimpin mereka selain Paman."


Mendengar itu, Wan Li semakin memasang wajah sumringah. Ia lantas berlutut, memberi hormat pada Chen Li.


"Terima kasih, Tuan Muda! ... Hamba Janji, akan menjalankan kewajiban ini dengan baik."


Keterkejutan menghampiri Chen Li melihat tindakan Wan Li barusan. Tidak hanya Chen Li, Xiao Wang pun demikian.


"Paman, apa yang kau lakukan?"


Cepat-cepat Chen Li membangunkan Wan Li, untuk berdiri.


"Li'er, memang sepantasnya aku bersikap demikian... Kau adalah bagian dari keluarga kerajaan. Dan aku, hanya seorang Panglima sahaja. Sangat tidak-tidak baik perangaiku jika aku tidak sopan kepadamu!" Wan Li berkata sembari menunduk.


"Paman, biar bagaimanapun ... Kau tetaplah pamanku. Paman yang merawat dan membesarkan ku sampai sekarang. Paman yang telah mengajariku bagaimana cara memegang pedang. Dan kau tak akan berubah sedikitpun... Jangan bersikap seperti itu lagi, atau aku tidak akan memaafkan paman!" ujar Chen Li disertai dengan nada ancaman di bagian akhir kalimatnya.


"Baiklah, Li'er! Jika itu mau-mu." Wan Li pasrah.


Selang beberapa saat, semuanya lantas kembali ke kamar masing-masing. Dikarenakan hari juga telah menunjukan tanda-tanda gelap akan melanda belahan bumi bagian Xiao Wang serta Chen Li tinggal.


Baik Xiao Wang, serta Chen Li tidak langsung tidur malam itu. Meski hari telah menunjukkan tengah malam.


"Bagaimana, Wang? Apakah kita mulai saja?" tanya Chen Li pada Xiao Wang. Saat ini, mereka berdua tengah berada di luar istana.


"Ya. Sudah lama kita tak menjenguk mereka."

__ADS_1


Keduanya sama-sama mengangguk, setelahnya pusaran debu hitam keunguan tercipta di hadapan mereka. Tanpa pikir panjang, Xiao Wang serta Chen Li pun memasuki pusaran debu tersebut.


__ADS_2