
Pria itu kembali melayangkan pedangnya ke arah Chen Li. Teman-temannya pun tak tinggal diam. Kini semua yang masih bisa bergerak, mendekat kearah Chen Li. Menyerangnya secara gencar-gencaran.
Meski begitu, perbedaan kultivasi yang bagaikan langit dan bumi. Membuat Beberapa orang itu tak mampu memojokkan Chen Li. Menyentuh pun tak bisa.
Merasa telah jenuh untuk bermain-main, Chen Li berniat mengakhiri pertarungan tersebut. Dengan gerakan lincah, dia mulai menyerang dari arah yang tak terduga.
Tebasan demi tebasan dilancarkan Chen Li. Menargetkan kedua lengan mereka.
Tangan-tangan mulai berjatuhan satu persatu. Tak hanya itu, Chen Li tak ingin membiarkan lagi bagi mereka untuk bernafas.
Slash! Slash! Slash...
Pedang Chen Li bergerak dengan begitu cepat. Saat pemuda itu berhenti menggerakkan pedangnya. Pria yang sebelumnya di serang Chen Li mendadak terdiam membatu. Sebelum akhirnya beberapa bagian tubuhnya mulai bergeser. Licin.
Satu persatu anggota tubuhnya mulai berjatuhan. Ya! pedang Chen Li barusan telah memotong pria itu menjadi beberapa bagian.
Beberapa orang yang kini tak memliki kedua lengannya menatap pria tersebut dengan tatapan ngeri.
Otak mulai berserakan. Cairan lengket mulai terlihat dari otak tersebut yang terpisah-pisah. Kedua bola matanya keluar, menggelinding ke tanah. Darah mulai membanjiri tanah tempat pria itu berpijak sebelumnya.
Beberapa kultivator Tahapan Bumi itu kini mulai tergetar hebat. Keringat dingin mulai menyeruak dan membasahi setelan hitam yang mereka kenakan. Perut serasa panas, ingin rasanya mereka muntah sangking takutnya terhadap bocah itu. Ditambah, darah yang tak berhenti mengalir dari bekas potongan di kedua lengan masing-masing. Menambah sensasi nyeri.
Chen Li kembali menampakkan senyum menyeramkan. Setelahnya pemuda itu kembali menghilang. Saat muncul kembali di belakang mereka, salah seorang dari beberapa kultivator tersebut telah ambruk dengan badan yang terbelah dua.
Satu persatu dari mereka kehilangan jiwa dengan raga yang terbelah. Entah itu terbelah dua, maupun tiga.
Kini tinggal seorang lagi yang masih berdiri dengan mata terpejam keras. Menunggu gilirannya di potong. Beberapa saat menunggu, namun ia tak kunjung merasakan lesatan pedang yang menghantam tubuhnya.
Lelaki itu mulai ragu. Dibukanya kedua mata perlahan-lahan.
"Aneh! Apakah aku sudah mati?" Batinnya.
"Pak Tua! Apa yang sedang kau pikirkan?" Chen Li memukul-mukul pelan pundak pria itu menggunakan telapak tangannya.
Kaget. Lelaki itu sampai melompat. Namun karena ia tak biasa dengan kedua tangannya yang ringan, membuatnya tak bisa menyeimbangkan tubuh dan terjatuh terguling-guling di tanah.
Pria itu meringis kala kedua lengannya yang kini gundul dengan darah merah menghiasinya terkena kotoran tanah.
__ADS_1
"Jangan mendekat... Jangan mendekat!" Lelaki itu berusaha menggeser-geser kedua kakinya, menendang tanah. Berharap dia bisa menghindar dari anak kecil ini.
"Pak Tua! Aku bisa saja mengampuniku, asalkan kau mau membantuku dengan menyebutkan di mana markas kalian!" ucap Chen Li sambil menampakkan ekspresi aneh. Membuat pria itu semakin merinding.
"Bu-bunuh saja aku! Meski kau melakukan cara apapun, a-aku tetap tak akan memberitahumu!" Pria itu berucap cepat. Namun dikarenakan dirinya terlalu takut saat itu, sehingga perkataannya tampak gagap.
"Hmm, benarkah!" Chen Li malah tersenyum mengerikan.
Pemuda itu semakin mendekati pria yang kini nampak pasrah.
***
Xiao Wang terbang dengan kecepatan tinggi. Mencari-cari keberadaan Chen Li. Namun dirinya telah dua kali mengelilingi desa tersebut, akan tetapi tak kunjung ia menemukan keberadaan pemuda itu.
"Kemana perginya anak itu?" ucap Xiao Wang kesal.
Beberapa saat, hembusan angin menerbangkan bau amis.
"Darah!"
"Hmm, dari mana asal darah ini?" Xiao Wang kemudian bergerak dari arah berlawanan dengan hembusan angin.
Sesampainya dia di sana, dapat pemuda itu saksikan banyaknya anggota tubuh yang berserakan di tanah, terpisah-pisah. Rintihan kesakitan pun terdengar dari beberapa orang yang masih mempertahankan kesadarannya, dengan keadaan tak berkaki dan tak memiliki tangan.
Xiao Wang mendekati salah satu dari mereka yang sadar.
"Paman, apa yang terjadi padamu, dan orang-orang ini?"
Pria yang di tanya Xiao Wang menoleh kearah pemuda itu.
"Bunuh aku... Bunuh!" rengek pria tersebut seraya menggelinjang. Meski luka-luka bekas potongan pada keempat alat geraknya telah bertambah parah akibat tergores oleh tanah berpasir, namun pria tersebut seolah tak mempedulikannya.
Xiao Wang mengernyit. dia kembali mengulangi pertanyaannya. Namun bukannya mendapat jawaban, Xiao Wang malah mendapat perkataan kasar dari orang tersebut.
Merasa kesal, Xiao Wang memilih untuk meninggalkan orang itu.
"Tolong! Tolong...." Suara teriakan beberapa orang yang meminta pertolongan dapat Xiao Wang dengar jelas.
__ADS_1
Beberapa saat berjalan, ia menemukan beberapa gadis yang sedang terikat kedua tangannya.
Segera ia berlari menghampiri mereka.
"Apa yang terjadi pada kalian?" tanya Xiao Wang sembari melepas ikatan tali yang mengikat mereka satu persatu.
Salah satu gadis kemudian menceritakan akan hal yang menimpa mereka. Serta aksi seorang anak kecil yang tanpa rasa takut melawan puluhan orang itu. Hebatnya, anak kecil itu tak merasa jijik sedikitpun dan malah tersenyum senang ketika membantai dan memotong anggota tubuh lawan.
Xiao Wang tampak berpikir sesaat. Ia mengira anak kecil yang di cerita oleh gadis tersebut adalah Chen Li.
Setelah itu, Xiao Wang berniat kembali melanjutkan perjalanannya.
Xiao Wang terus berjalan melewati mayat demi mayat. Ada sedikit rasa ngilu kala melihat banyaknya anggota tubuh yang terpisah-pisah.
Daging dan darah kini mulai berserakan tanah. Xiao Wang merasakan perutnya yang berputar-putar. Ingin rasanya pemuda itu mengeluarkan isi perut, namun segera di tahannya sekuat tenaga.
Pemuda itu terus berjalan menyusuri jalanan manusia itu.
Beberapa saat berjalan, Xiao Wang mendengar suara pertarungan. Ia menghentikan langkahnya, berusaha mendengar lebih jelas suara tersebut.
"Benar, itu suara pertarungan!" ucap Xiao Wang.
Saat hendak melangkah, Xiao Wang mendengar suara teriakan kesakitan seseorang dari arah dimana dia mendengar suara pertarungan tersebut.
Segera ia mempercepat laju larinya. Beberapa saat, Ia menghentikan langkahnya.
Dapat dia saksikan beberapa meter dari tempatnya berdiri, seorang anak kecil yang tak lain adalah Chen Li sedang membantai beberapa orang.
Mirisnya, cara anak itu membantai orang-orang itu begitu sadis. Tak ada rasa belas kasih yang ditampakkannya.
Xiao Wang sendiri sampai di buat ngilu melihat aksi orang itu.
Melihat Chen Li telah selesai dengan kesibukannya, Xiao Wang lantas mendekati anak itu.
Xiao Wang memegangi pundak Chen Li.
Chen Li yang terkejut langsung membanting tangan Xiao Wang. Beruntung, reaksi yang di tunjukan Xiao Wang cepat dan tangkas. Sehingga tidak terjadi sesuatu yang serius padanya.
__ADS_1
"Kau... Apa yang kau lakukan! Kenapa kau menyerang-ku?" Xiao Wang bersuara dengan nada kesal.