
Chen Li saat ini sedang bertarung melawan dua musuh sekaligus. Meski dua orang itu menyerang secara gencar-gencaran di dua sisi berbeda, namun Chen Li tampak tak kesusahan dalam meladeni keduanya sekaligus.
"Tch, anak ini... Minta di potong, kau hah!"
Pria dengan golok yang memancarkan aura merah darah itu berucap kesal sembari melayangkan goloknya. Hendak memenggal kepala Chen Li.
Meski gerakannya begitu cepat, nyatanya Chen Li masih dapat menghindarinya. Pemuda itu dengan cepat menyepak perut lawan, membuatnya termundur hingga beberapa langkah.
Kesal. Pria itu tak berhenti mengumpati Chen Li. Bagaimana tidak, entah sudah berapa lama keduanya berusaha menumbangkan anak itu. Namun tak segaris pun luka yang bisa mereka ciptakan pada tubuh anak tersebut.
Malahan, mereka yang beberapa kali di buat terluka oleh Chen Li.
Wanita tersebut juga ikut menyerang Chen Li menggunakan tombaknya yang terlapisi aura hitam.
Beberapa saat bertukar jurus, Chen Li berhasil memukul mundur wanita itu.
"Tch, buang-buang waktu!" ucap Chen Li.
Setelahnya ia maju menyerang lelaki itu dengan brutal. Setiap lesatan pedangnya begitu tajam nan mematikan.
"Sial, kenapa anak ini begitu menakutkan!" Lelaki itu kembali mengumpat dalam hati.
Seumur-umur hidupnya, baru kali ini ia berhadapan dengan seorang anak kecil. Apalagi, dirinya sampai beberapa kali di buat terdesak. Harga dirinya jatuh saat itu juga.
Beberapa saat, ia akhirnya kembali bisa mengambil jarak. Pedang di genggaman tangannya ia lepas. Tangannya terlalu kebas untuk mengangkat pedang tersebut.
Seakan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Chen Li lekas melesat kembali. Hendak melancarkan serangan terakhir ke arah pria itu.
Namun belum sempat ujung busurnya yang runcing itu mengenai tubuh lawan, sebuah tombak melesat dengan kecepatan tinggi nyaris menusuk lehernya. Beruntung, Chen Li bereaksi cepat.
"Sial!" Chen Li mengumpat keras wanita itu.
Dipandanginya wanita tersebut menggunakan ekor matanya. Setelah itu, Chen Li menarik busurnya, lalu melesatkan tiga buah anak panah api ke arah wanita itu.
Tiga buah anak panah berapi Chen Li hampir saja mengenai wanita tersebut. Kalau saja dia tidak menjadi asap hitam, lalu muncul kembali tak jauh dari tempatnya sebelumnya.
__ADS_1
Sebenarnya wanita itu memang tidak bisa menghindari lesatan anak panah tersebut, dikarenakan kecepatan anak panah itu yang begitu ekstrim.
Beruntung dia masih memiliki suatu teknik tertentu, sehingga memungkinkan dirinya untuk berpindah tempat. Namun tak lebih dari 5 meter, dirinya telah muncul kembali. Meski begitu, konsekuensi yang akan ia terima juga tak main-main. Dimana kekuatannya akan berkurang 40%.
Sementara Lelaki tersebut yang melihat Chen Li disibukkan oleh wanita tersebut. Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, segera ia berlari menjauh sejauh-jauhnya dari tempat itu.
Melihat pria tersebut yang telah kabur dari pertarungan, wanita itu tak bisa mengutuki tindakan lelaki itu.
"Sialan kau! Dasar tak tahu berterima kasih. Sudah di tolongin, malah kabur. Tau begini, ku biarkan saja dia mati tadi!"
"Kau tenang saja, Nenek. Kalian berdua tak akan pernah berpisah. Karena setelah kau, maka lelaki itu juga akan menyusul mu," ucap Chen Li dengan penuh percaya diri.
"Nenek ... nenek! Enak saja kau memanggilku nenek. Lihatlah tubuhku yang gemulai dan berisi ini. Apakah aku terlihat seperti nenek-nenek!" Wanita itu berucap kesal sambil membusungkan dadanya, membuat dua buah kelapa yang ada di balik bajunya tampak semakin membesar.
Melihat kelakuan wanita itu, entah mengapa Chen Li malah merasa jijik. Dirinya yang masih polos akan hal itu, sehingga ia tak tahu kalau wanita itu sebenarnya sedang memancingnya.
Sementara wanita itu merasa kesal karena Chen Li malah menampakkan wajah jijiknya. Sebelumnya ia melakukan hal demikian karena wanita itu yakin bahwa Chen Li ini sebenarnya sudah tua tapi merubah wujudnya menjadi anak kecil.
Namun tak disangka respon Chen Li malah demikian, membuatnya semakin kesal.
"Aku harus cepat menyelesaikan nenek ini, sebelum orang tadi berlari jauh!" Chen Li membatin.
Gerakan tangannya memainkan pedang dengan begitu lincah. Wanita itu tak bisa menepis atau pun menghindar. Pasalnya gerakan Chen Li begitu sulit di tebak. Saat ia hendak menghindari serangan Chen Li, entah mengapa serangan lain kembali menghantamnya.
Beberapa saat.
Slash!
Salah satu lengan wanita itu telah terpotong. Sempat wanita itu menggerutu kesal. Namun Chen Li kembali melesat kearahnya dan mengambil kembali lengan yang satunya.
Wanita itu menjerit kesakitan. Namun, bukannya iba Chen Li malah mengeluarkan perkataan yang membuat sakit wanita itu bertambah.
"Maafkan aku, Nenek! Tapi aku harus segera membunuh Nenek. Agar aku bisa mengejar teman nenek. Setelah itu, kalian akan hidup bersama di akhirat!" Ucap Chen Li dengan polos sembari menebas kepala wanita tersebut tanpa rasa bersalah.
Wanita itu ingin membantah, namun belum sempat mengeluarkan suaranya, kepalanya telah memisahkan diri dari badan.
__ADS_1
Setelah selesai membereskan wanita tersebut, Chen Li lekas menghilang dari sana.
***
Seorang pria saat ini sedang berlari cepat. Tampak dia sedang terburu-buru. Sesekali ia akan memeriksa di belakangnya, takut seseorang akan mengejarnya.
Merasa dirinya telah aman, Ia pun menghentikan larinya.
"Hah ... huh... Hah ... huh!"
Terdengar deru nafas yang tak beraturan dari pria tersebut.
"Aku harap, Dori masih bisa bertahan dari anak kecil itu!" gumamnya sambil berusaha menetralkan deru nafasnya.
"Ehh ... tapi jika ia berhasil lolos dari bocah tersebut, bisa-bisa aku yang akan mati nantinya." Kembali ia bergumam sambil membayangkan nasibnya jika pria itu kembali bertemu dengan Wanita tersebut.
"Ah, bodoh ah. Yang penting aku bisa selamat!"
"Apa yang kau pikirkan Paman?"
Suara anak kecil tiba-tiba saja terdengar menegurnya. Dan tentu saja membuat pria itu tersentak kaget.
Dengan cemas dan sedikit bergidik, pria itu mengangkat pandangannya ke arah pohon-pohon di sekitarnya. Tak ada apa-apa selain siluet dari pohon-pohon tersebut yang di terpa cahaya bulan.
Hening sesaat. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Hanya nyanyian burung hantu beserta lolongan serigala malam yang mengisi keheningan malam. Pria itu terdiam dengan pandangan tak henti-hentinya menilik sekitar. Takut jika saja anak itu telah berada di dekatnya.
Merasa tak ada sesuatu, pria itu menghela nafas lega.
"Mungkin hanya perasaanku saja!" Pria itu berusaha menepis pikirannya tentang suara yang di dengarnya barusan.
Tak berapa lama, terdengar sesuatu terjatuh dari rimbunan semak.
"Aduh... Sial!"
Pria itu tersentak kaget mendengar suara itu. Kini badannya kembali tergetar hebat. Kini ia yakin bahwa wanita yang sebelumnya menyelamatkan nyawanya, kini telah mati oleh anak kecil itu.
__ADS_1