Perjalanan Menjadi Yang Terkuat

Perjalanan Menjadi Yang Terkuat
Ch. 58 ~ Sosok Misterius


__ADS_3

"Apa! Kenapa mereka bisa lepas?!" Seorang pria begitu marah kala mendengar laporan dari beberapa orang yang kini nampak berlutut di tengah-tengah aula pertemuan.


"A-ampun Ketua. Anak itu begitu kuat, sampai-sampai kami sendiri bukan tandingannya!" jelas salah satu diantara yang berlutut, membela.


"Hmm, sehebat apa Anak itu sampai-sampai kultivator Tahapan Langit saja tak bisa menanganinya!" tanya pria tersebut yang tak lain adalah Hai Bao, ketua Sekte Elang Hitam.


"Lebih kuat dari tahapan Langit, Ketua!"


"Lebih kuat dari Tahapan Langit?!" Kaget. Hai Bao lantas berbicara dengan nada meninggi.


"Hmm, sepertinya aku tak bisa menangani mereka. Satu-satunya cara adalah meminta bantuan dari ras Iblis!" batin Hai Bao.


"Baik, tinggalkan tempat ini!"


Beberapa orang yang berlutut memberi sembah hormat, lalu berjalan meninggalkan aula pertemuan.


"Menurut kalian, Bagaimana kita harus menangani Xiao Wang?" tanya Hai Bao pada beberapa tetua.


Sekte Elang Hitam sendiri kini naik tingkatan menjadi Sekte Besar dalam satu tahun terakhir. Bahkan di antara empat sekte besar aliran Hitam, Sekte Elang Hitam masuk dalam urutan kedua sebagai sekte Aliran Hitam terkuat.


Hal itu bisa saja terjadi. Mengingat kebanyakan tetua berada di Tingkatan Langit tahap Tiga dan empat. Hai Bao sendiri telah mencapai Tingkatan Langit Tahap lima.


Meningkatkannya kekuatan Sekte Elang Hitam yang signifikan tidak terlepas dari bantuan dari ras Iblis.


"Mana baiknya, menurut Ketua, itu yang kita ambil!" ucap salah satu tetua, menjawab pertanyaan Hai Bao.


***


Xiao Wang berhadapan dengan puluhan prajurit Kerajaan Api. Sementara Wan Li di bawa Chen Li meninggalkan tempat itu.


Melihat tahanan di bawa kabur, beberapa orang berniat mengejarnya, namun belum juga mereka menyentuh Chen Li, tubuh mereka mendadak terdiam membatu. Aura yang di keluarkan Chen Li begitu menakutkan mereka.


Wan Li sendiri begitu terkejut kala merasakan aura membunuh Chen Li yang begitu pekat. dia saat ini tak ada bedanya dengan aliran Hitam.


"Li'er, apa yang terjadi padamu. Kenapa kau memiliki aura membunuh sepakat ini?" tanya Wan Li.


Sejenak, langkah kaki Chen Li berhenti. Dia memandangi wajah Wan Li sesaat, sebelum kembali melanjutkan langkahnya.


"Tidak ada waktu untuk membahas masalah itu paman. Yang terpenting saat ini adalah, kita harus segera keluar dari tempat ini," ucap Chen Li tanpa menoleh.

__ADS_1


"Tapi Li'er. Aura membunuh yang pekat, bisa saja membawamu pada masalah mental. Telah banyak korban yang terperangkap dalam aura ini. Sangat berbahaya jika kau tak bisa mengendalikannya."


Wan Li berhenti bergerak. Ia menatap Chen Li dengan tatapan tajam.


"Kau tenang saja, Paman. Aura ini tak akan mampu mengendalikan ku." Chen Li berucap yakin.


Setelahnya, kembali mereka bergerak ke luar.


Di sisi lain, Xiao Wang di hadapkan oleh prajurit-prajurit yang bergerak menyerang dirinya. mengalahkan mereka dalam beberapa menit, itu mudah saja. Namun yang menjadi masalah bagi Xiao Wang adalah, melumpuhkan tanpa harus membunuh.


Xiao Wang menyimpan pedangnya. Ia memusatkan Qi pada kedua tinjunya.


Bukk!


Bukk!


Bukk!


Satu per satu prajurit mulai berjatuhan di lantai. Kadang ada yang terpental menabrak dinding bawah tanah.


Sembari ia meninju mereka kakinya juga tak berhenti bergerak. Sesegera mungkin dia keluar dari tempat itu. Sebab, jika ia tak cepat, maka prajurit yang terlempar akan kembali bangun dan melesat ke arahnya.


Butuh waktu sekitar tiga jam lebih, sebelum akhirnya Xiao Wang berhasil keluar. Meski begitu, masih ada juga yang sempat berlari hendak menyerangnya.


Melihat teman mereka yang terpental dan menabrak keras dinding, membuat beberapa orang yang sebelumnya memiliki niat untuk kembali maju, mengurungkan niatnya.


Sebelumnya mereka berpikir, Xiao Wang tak akan sampai membunuh mereka, mengingat perkataan Mantan Jenderal Wan Li barusan. Hal itu juga lah yang membuat mereka terus-menerus menyerang Xiao Wang. Jatuh Bangun.


Namun kali ini, pemikiran tersebut di buang jauh-jauh, kala melihat teman mereka yang sekarat. Bunyi patahan tulang dapat terdengar sejenak tadi, membuat beberapa prajurit yang berada di sampingnya jadi ngeri.


Tanpa memedulikan ekspresi mereka, Xiao Wang membalikkan badan, dan berjalan meninggalkan mereka.


Tak ingin melepas Xiao Wang begitu saja, salah seorang prajurit menarik busur yang telah di lapisi racun pada mata anak panahnya, setelahnya prajurit tersebut melepaskan anak panah tersebut.


Anak panah tersebut melesat dengan kecepatan tinggi, nyaris menembus leher Xiao Wang, beruntung refleks yang di keluarkan Xiao Wang cepat. Anak panah tersebut ia tangkap.


"Cih, sialan. Di kasih kesempatan, malah menyia-nyiakan."


Xiao Wang berkata kesal, sembari mengeluarkan aura membunuh miliknya.

__ADS_1


Semua yang ada di tempat itu sampai di buat tergetar hebat karenanya. Serasa sedang di perhatikan oleh raja kematian. Semuanya tampak bergidik ngeri.


Xiao Wang sendiri melempar anak panah di genggamannya ke arah pria yang sebelumnya melepaskan anak panah ke arahnya. Tepat pada mata pria tersebut, anak panah mendarat. Cairan memuncrat, rengekan kesakitan pun terdengar.


Racun kian menyebar ke seluruh tubuhnya. Hingga dalam hitungan menit, prajurit itu kini telah meleleh oleh racunnya sendiri. Melihat dari reaksi yang di tunjukan oleh racun tersebut, seharusnya racun itu berasal dari bisa Siluman Ular Naga.


Tak ingin terlalu larut dengan orang-orang ini, Xiao Wang lantas berbalik dan melanjutkan perjalanan, menuju tempat yang di janjikan.


"Apakah kalian telah lama menunggu ku?" tanya Xiao Wang ketika dia telah sampai di luar.


"Lumayan."


Setelahnya, Xiao Wang, Chen Li serta Wan Li langsung melesat dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan istana kerajaan Api. Menuju salah satu penginapan yang ada di tempat itu.


Sebelum memasuki penginapan, ketiga orang itu sempat mengenakan jubah hitam untuk menutupi wajah mereka. Mengingat, di ibukota kerajaan Api ini, poster tentang gambar ketiganya telah banyak tersebar. Tak hanya Chen Li dan Wan Li, bahkan wajah Xiao Wang juga ada di beberapa tempat. Siapa lagi yang menyebarkan kalau bukan sekte Elang Hitam.


Saat memasuki penginapan, mereka bisa merasakan aura hitam pekat mengisi seluruh ruangan.


Seperti penginapan-penginapan sebelumnya, Penginapan ini terdiri dari lantai tiga, dimana lantai bawahnya merupakan restoran.


Terlihat juga tak ada yang berani berbicara. Kalaupun ada, pastinya secara bisik-bisik. Tak ingin menyinggung pemilik aura tersebut.


Xiao Wang, Chen Li serta Wan Li setelah memesan satu kamar, ketiganya lantas menuju salah satu meja kosong. Menu yang di pesan pun juga banyak. Bukan untuk mereka, melainkan untuk Wan Li, dikarenakan dirinya yang kurus menandakan ia tak pernah makan dalam beberapa bulan terakhir.


"Paman, sebenarnya apa yang menimpa Paman? Kenapa mereka bisa menangkap mu?" Chen Li bertanya sembari memasukan makanan dalam mulutnya.


Wan Li menghentikan aksi makannya sejenak. Menarik nafas panjang, lalu menghembuskan lewat mulutnya. Setelahnya ia mulai bercerita akan bagaimana nasibnya pasca perang.


Dia bercerita bahwa setelah Pertempuran besar dua tahun lalu, Wan Li yang melawan Jenderal Shen Lou tiba-tiba saja di hadang oleh beberapa Iblis. Dari pertarungan itu, dia mendapat luka yang cukup serius. Bahkan nyawanya sempat terancam waktu itu. Beruntung dia masih sempat menyelamatkan diri.


Namun setelah berhasil menghindar dari Iblis tersebut, dirinya yang sekarat mendadak di tangkap oleh beberapa prajurit. Hingga dua tahun dia di penjara, dengan siksaan telah ia terima selama kurun waktu tersebut.


Mendengar cerita Wan Li, Chen Li langsung menggebrak meja. Ia terlalu terbawa dalam alur cerita Wan Li. Beruntung, Chen Li tidak menggunakan Qi, sehingga meja tersebut tidak hancur.


Aksi Chen Li sukses mengundang perhatian banyak orang yang sedang menyantap makanan. Tak terkecuali orang yang mengeluarkan aura hitam pekat tersebut.


"Lihatlah pemuda itu, begitu berani dia menyinggung pria yang duduk di pojok!"


"Kau benar, apakah ia tak merasakan aura hitam pekat yang di keluarkan pria tersebut."

__ADS_1


"Aku yakin, setelah ini, ia hanya akan tinggal nama saja."


Bisik-bisik dari beberapa orang yang duduk di sebelah Xiao Wang, Chen Li serta Wan Li, membicarakan mereka. Tentu saja pembicaraan mereka dapat di tangkap oleh pendengaran ketiganya.


__ADS_2