
Xiao Wang dan Chen Li melesat dengan kecepatan tinggi, menuju kerajaan Api. Dikarenakan Kekaisaran Han ini yang begitu luas, kedua anak itu membutuhkan waktu sekitar 3 hari perjalanan sebelum akhirnya mereka sampai.
Xiao Wang dan Chen Li sampai di pintu gerbang ibu kota. Menunggu antrean panjang, penglihatan tajam Xiao Wang, menangkap lukisan seorang anak kecil, persis seperti wajah Chen Li. Terpajang jelas di dinding tembok pagar.
"Li, lihat di tembok tinggi itu. Bukankah itu wajahmu?"
Xiao Wang mengajak Chen Li untuk melihat dinding tembok yang berjarak sekitar sepuluh meter dari tempat mereka berdiri.
Chen Li memicingkan mata, berusaha melihat jelas gambar pada lukisan tersebut. Wajah yang ada di gambar, memang persis seperti apa yang ia lihat di cermin air.
"Kau benar! Tampaknya bukan hanya di kekaisaran Tang, kita jadi buronan. Di kekaisaran ini juga kita menjadi buronan."
Xiao Wang terdiam sejenak.
"Kau benar. Hahaha! Sekte Elang Hitam dan Raja Chen Huang..." Seringai licik nan kejam terpasang jelas di bibirnya. "Bagaimana kalau kita memburon mereka balik!"
"Tentu saja hal itu harus terjadi!"
Kedua anak itu tertawa kecil sesaat. Membuat orang-orang yang berada di sekitar mereka, yang juga saat itu sedang mengantri, melihat keduanya seperti orang gila.
Tanpa memedulikan tatapan dari orang-orang, Xiao Wang juga Chen Li lantas keluar dari barisan antrean.
Kalau bisa terbang, kenapa harus mengantri. Ada yang susah, mengapa harus menempuh jalur sulit.
Setelah berada cukup jauh dari keramaian, Chen Li serta Xiao Wang pun terbang, menyeberangi tembok raksasa yang tingginya beberapa puluh meter.
Setelahnya, mereka memilih untuk turun dan berjalan kaki, di tengah keramaian.
"Apa yang kau pikirkan? Dilihat dari raut wajahmu, sepertinya kau sedang mengkhawatirkan sesuatu!" ucap Xiao Wang tiba-tiba ketika melihat wajah Chen Li yang sedikit cemas.
__ADS_1
Chen Li menghentikan langkahnya.
"Aku memang sedang memikirkan Paman Li. Di mana dia saat ini? Aku meninggalkannya saat pertempuran besar, tanpa meminta ijin terlebih dahulu," jelas Chen Li dengan suara sedikit parau.
"Hmm! Kalau begitu, mari kita cari dia."
"Kemana?"
"Entahlah!"
Kebetulan ada seorang warga yang sedang memikul ranting-ranting kering, melewati keduanya. Tanpa pikir panjang, Xiao Wang langsung menghentikan langkah pria tersebut.
"Paman, apakah kau tahu kejadian sekitar dua tahun lalu." Xiao Wang bertanya pada pak tua tersebut.
"Siapa yang bisa melupakannya... Pertempuran yang begitu banyak memakan korban jiwa. Tak terkecuali istri beserta anakku, juga mati di hari itu!"
Pandangan pria tersebut tiba-tiba menilik sekitarnya. Sebelum kembali ia mengarahkan pandangannya pada Xiao Wang dan Chen Li bergantian.
Setelahnya, ketiga orang itu beranjak, menuju kediaman pria itu.
Ranting-ranting kering yang ada di punggungnya ia letakkan di pinggir gubuk, ketika mereka telah sampai. Kemudian pria tersebut duduk di balai-balai bambu di serambi rumah, sembari menyandarkan tubuhnya pada dinding yang terbuat dari bambu.
Xiao Wang serta Chen Li juga mengikuti pria tersebut duduk di geladeri rumah.
Tak ada yang mengangkat bicara, membuat suasana hening sesaat.
"Nak! Kenapa kalian menanyakan tentang kejadian dua tahun lalu?" ucap pria tersebut memecah suasana.
Kedua anak itu saling berpandangan. "Apakah Paman mengetahui pria yang menolong anak kecil yang di kelilingi prajurit waktu itu?"
__ADS_1
Pria tersebut tampak berusaha mengingat apa yang di kata Chen Li. "Oh, pria yang waktu itu. Kalau tidak salah, dia adalah mantan jenderal kerajaan Api. Namanya Wan Li!" tutur pria tersebut setelah ia mengingatnya.
"Iya paman, namanya memang Wan Li! Apakah Paman mengetahui di mana dia sekarang?" tanya Chen Li dengan penuh antusias.
"Kalau aku tak salah. Sepertinya setelah Pertempuran Besar dua tahun lalu, dia di tangkap dalam keadaan sekarat. Dan saat ini ia di kurung di penjara bawah tanah!"
Mendengar itu, Chen Li menjadi naik pitam. Namun sebisa mungkin ia mengekspresikan wajahnya agar tak di ketahui pria tersebut, bahwa ia saat ini sedang menahan emosi.
"Baik, paman. Kalau begitu, kami mohon permisi." Chen Li mulai bangkit.
"Kenapa kalian begitu terburu-buru?"
"Ada suatu urusan yang tak bisa kami tinggal, Paman! Kami mohon pamit!" Chen Li membungkuk. Setelahnya Chen Li mulai beranjak dari sana, dan di ikuti oleh Xiao Wang.
Chen Li menggerakkan kakinya dengan cepat. Menuju ke arah istana.
"Li, tenangkan dirimu!"
Xiao Wang jadi khawatir melihat sikap Chen Li. Takutnya anak itu malah bertindak gegabah, dan berujung menimbulkan suatu yang membahayakan nyawanya.
"Kenapa aku harus tenang sementara Paman saat ini sedang tak baik-baik saja di sana!" ucap Chen Li dengan nada meninggi.
"Setidaknya, kita bisa mengatur rencana terlebih dahulu untuk menyusup dan menyelamatkan paman Wan Li, tanpa menimbulkan banyak korban jiwa."
Chen Li menghentikan langkahnya. Emosinya berusaha ia kontrol.
"Kau benar."
Xiao Wang tersenyum sesaat. "Nah. Ini baru, baik!" Xiao Wang merangkul punggung Chen Li.
__ADS_1
Setelahnya mereka mulai menyusun rencana.