
Sehari telah berlalu, terlepas dari kejadian malam itu. Kini Xiao Wang, Chen Li serta Wan Li sedang bersiap-siap di atas atap jerami milik salah satu warga. Dengan pakaian hitam serta cadar yang mereka kenakan, membuat mereka tak ada bedanya dengan seorang ninja.
"Apakah kalian siap?" tanya Wan Li.
"Selalu siap, Paman!" Keduanya berucap dengan penuh semangat.
"Baik, mari kita mulai."
Ketiganya melesat di tengah kegelapan malam. Melompati atap demi atap rumah, hingga beberapa menit mereka telah sampai di gerbang Istana.
Terlihat di sana masih ada yang berjaga meski hari telah larut.
Wan Li melakukan gerakan tangan, memberi kode pada Xiao Wang dan Chen Li.
Kedua anak itu mengangguk, setelahnya melesat dengan kecepatan tinggi, berbaur dengan kegelapan malam.
Beberapa prajurit yang berjaga di pintu gerbang, dibuat pingsan oleh Xiao Wang serta Chen Li. Setelah di rasa semuanya aman, mereka memberikan kode pada Wan Li. Kemudian mereka bersama-sama berlari memasuki istana lebih dalam.
Mengandalkan ingatan Wan Li tentang lika liku istana, tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan kamar Raja Chen Huang.
Wan Li mendekatkan telinganya pada kamar Raja Chen Huang.
"Bagaimana?" tanya Chen Li seraya berbisik, bahkan suaranya nyaris tak bisa di dengar kalau saja pendengaran Wan Li tidak tajam.
"Aman-aman!" balas Wan Li dengan tak kalah berbisik pula.
Setelahnya, Wan Li membuka pintu dengan penuh hati-hati. Mengintip dengan sebelah mata. Tak ada yang bisa ia lihat, selain meja yang berisi barang-barang yang diterangi cahaya temaram berwarna jingga dari lampu lilin.
Kemudian Wan Li serta Chen Li memasuki kamar sedang Xiao Wang berjaga di luar.
"Hmp!"
Wan Li langsung memalingkan kepala Chen Li kala melihat Raja Chen Huang tak memakai busana, bersama dengan dua wanita di sisinya yang juga tak beralas sehelai benang.
__ADS_1
Segera ia menutup kedua mata Chen Li.
"Li'er, jangan mendekat... Kau tunggu saja di luar bersama Xiao Wang! Masalah Chen Huang, biar aku yang urus," bisik Wan Li. Tampak ia begitu gusar dari nada bicaranya.
Chen Li menautkan kedua alisnya. "Memangnya kenapa, Paman!"
Chen Li memajukan kepalanya, berusaha melihat apa yang baru saja di lihat pamannya. Namun belum juga ia sempat melihat, kepalanya telah lebih dulu mendapat tepukan keras dari tangan besar Wan Li.
"Aduh!" Chen Li merengek seraya memegangi jidatnya yang terasa panas. "Apa yang kau lakukan, Paman!" bentak pelan Chen Li.
"E-eh, Li'er maafkan paman!" Wan Li serba salah. Sebisa mungkin ia membujuk Chen Li untuk segera keluar. Namun Chen Li juga sebisa mungkin mencoba untuk melihat hal apa yang membuat wan Li menyuruhnya untuk keluar.
Ulah keduanya, sukses membuat Raja Chen Huang terbangun. Lelaki itu melihat sekelilingnya, mencari-cari sumber keributan. Tak ada apa-apa ia memilih untuk tidur kembali. Kepalanya ia benamkan diantara dua buah gunung lembek, sembari dua jari tangan kanannya ia masukkan ke dalam lembah yang di tumbuhi rumput-rumput tipis. Dalam sekejap, dirinya telah kembali terlelap.
Sementara Wan Li yang memegangi tubuh Chen Li menunduk, mengumpati akan apa yang dilakukan Raja Chen Huang barusan.
"Pak Tua ini!" batinnya kala merasakan dirinya yang mulai panas.
Di sisi lain, Chen Li yang berada di kurungan tangan Wan Li, salah memegangi sesuatu yang sangat keras diantara dua paha Wan Li.
Sementara Wan Li yang merasakan kejantanannya mulai menegang, tiba-tiba merasakan sentuhan tangan seseorang.
"Sial!"
Segera ia bangkit dari posisi jongkok, seraya tangannya memegangi tangan Chen Li, membawanya keluar kamar.
"Kau tunggu di luar bersama Xiao Wang. Masalah di dalam, biar aku yang urus!" tekan Wan Li.
"Tapi kenapa, Paman!" Chen Li tak terima, sebisa mungkin ia memprotes.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Jika kau terus-menerus keras kepala seperti ini, yang ada rencana kita tak akan berjalan lancar nantinya!" Kembali Wan Li menekankan pada Xiao Wang .
Sebenarnya bukan itu alasannya, melainkan sesuatu yang ada dalam kamar lah yang membuat Wan Li melarang Chen Li. Mengingat usia Chen Li yang begitu sangat muda, tak pantas baginya untuk melihat apa yang ada dalam kamar.
__ADS_1
Xiao Wang sendiri mengernyit melihat kedua orang itu. Heran. 'Apakah mereka sudah selesai membunuh Raja Chen Huang?' Setidaknya, begitulah yang di pikirkan Xiao Wang saat ini.
"Paman, Apa yang terjadi?"
Wan Li melirik Xiao Wang sesaat. "Kau ... jaga Chen Li! Jangan sampai ia masuk ke dalam, sampai aku selesai."
Setelah mengucapkan kalimatnya, Wan Li lantas kembali memasuki kamar. Sedang Chen Li begitu kesal dengan sikap Wan Li. Saat hendak masuk, segera ia di tahan Xiao Wang.
"Sebenarnya ada apa ini?" Xiao Wang bertanya penasaran.
"Entahlah, Paman Li tak memperbolehkan aku melihat ke arah tempat tidur Paman Huang!" Chen Li berkata dengan cemberut.
"Memangnya apa yang ada di tempat tidur Raja Chen Huang?"
"Mana aku tahu. Belum juga ku melihatnya, sudah mendapat tepukan keras dari paman Li. Sampai-sampai jidatku jadi merah karenanya." Chen Li menunjuk jidatnya. Memang benar, di sana terdapat bekas tangan Wan Li.
"Sudahlah. Lebih baik kita menunggu Paman saja di sini. Takutnya nanti ada prajurit lewat, bisa gagal rencana kita nantinya."
"Haiss. Baiklah!"
Di sisi lain, Wan Li yang telah masuk dalam kamar, menutup pintu kamar rapat. Tak ingin membiarkan Chen Li serta Xiao Wang memasuki ruangan tersebut.
Dengan langkah kaki mengendap-endap, ia berjalan ke sisi pinggir ranjang.
Seteguk ludah berhasil ia telan kala melihat ketiga orang yang tak berbusana itu tertidur di atas ranjang dengan pulasnya. Benar-benar pemandangan yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
Ini kali pertama bagi Wan Li melihat langsung dengan mata kepala sendiri bagaimana indahnya tubuh seorang wanita tanpa busana. Benda yang berada di balik balutan celananya sendiri kini telah menegang dengan begitu keras, berdenyut-denyut dan terasa sesak. Serasa cairan bening kental telah keluar membanjiri batang tegak di dalam sana.
Apalagi ketika pandangannya ia arahkan pada jari tengah dan telunjuk raja Chen Huang yang kini menusuk ke dalam goa yang di tumbuhi rumput tipis di pinggirannya.
Benar-benar pemandangan yang indah sekaligus menggerahkan.
Entah sudah berapa kali dia meneguk ludahnya. Melihat gunung putih berbentuk bulat dengan bintil pink yang ada di tengah-tengah gunung tersebut, membuatnya ingin menyentuh dan *******-***** benda tersebut. Namun, sebisa mungkin ia menahan dirinya.
__ADS_1
"Setelah ini, aku akan mencari wanita. Segera menikah agar aku bisa merasakan surga dunia. Tidak lagi terperangkap dalam gairah panas, namun kosong yang ku dapat!" tegasnya.