
Xiao Wang serta Chen Li merasakan kepalanya berputar-putar. Saat itulah mereka menyadari bahwa keduanya telah kembali ke dunia nyata.
Dapat mereka lihat, pasukan di dua kubu yang tampak berlutut dengan tubuh yang tak henti-hentinya bergetar hebat. Entah apa sebabnya? Banyak di antara pasukan tersebut yang tidak sadarkan diri. Menyisakan beberapa orang saja yang masih mempertahankan kesadarannya.
"Apa yang terjadi?"
Xiao Wang menoleh ke arah Wan Li, yang saat ini tengah berlutut.
Kedua pupil mata Xiao Wang serta Chen Li yang semula berwarna merah darah, kini mulai kembali normal.
Dua sosok makhluk menyeramkan yang sebelumnya tercipta dari aura membunuh Xiao Wang serta Chen Li mendadak hancur, menyisakan debu-debu merah yang menyebar ke berbagai arah. Perlahan tapi pasti debu merah tersebut berubah menjadi oranye lalu berwarna emas seutuhnya.
Para prajurit yang semula merasakan aura yang begitu menyeramkan menyapa mereka, kini aura tersebut berganti menjadi begitu Agung. Memaksa mereka untuk tunduk pada pemilik aura tersebut.
Beberapa saat, tak di rasa lagi aura tersebut. Membuat semuanya bernafas lega.
Xiao Wang serta Chen Li yang melayang, kini mereka memilih untuk mendarat. Menghampiri Wan Li, lantas berucap.
"Paman, apa yang terjadi?" tanya Chen Li sembari membantu Wan Li berdiri.
Wan Li tak langsung menjawab. Ia memilih untuk menarik napas sejenak.
"Apakah kalian tidak ingat hal apa yang terjadi barusan?" tanya Wan Li. Jika kedua anak itu bingung melihat semuanya yang pingsan dan menampakkan wajah takut, Wan Li pun tampak bingung melihat kedua anak itu tak mengingat kejadian tadi.
"Memangnya apa yang terjadi, Paman?" tanya Xiao Wang.
Wan Li menatap lekat kedua mata anak itu.
"Tampaknya, kedua anak ini memang tidak mengingat akan apa yang mereka lakukan barusan?" batinnya.
Ia pun menceritakan kejadian tadi kepada Xiao Wang serta Chen Li.
Raut wajah kedua anak itu menampakkan keterkejutan sekaligus tak percaya.
"Benarkah? Kenapa aku tidak mengingatnya?" ujar Chen Li. Ia berusaha mengingat kembali kejadian tadi namun tetap saja, tak ada yang bisa dia ingat.
"Apakah kau lupa? Bukankah tadi kita berada di dimensi jiwa? Otomatis hal yang barusan terjadi di sini tak bisa kita ingat."
Xiao Wang mengedarkan pandangannya ke arah para pasukan kerajaan Angin. Tampaknya mereka telah mampu bergerak merubah posisinya. Namun tubuh mereka masih terlihat bergetar, walau tak sekuat sebelumnya.
__ADS_1
"Sepertinya begitu!" Chen Li membenarkan ucapan Xiao Wang.
"Tunggu! Kau bilang apa tadi? Dimensi Jiwa?" Tanya Wan Li. Baru kali ini ia mendengar tentang dimensi jiwa.
Xiao Wang serta Chen Li sama-sama mengalihkan pandangan ke arah Wan Li.
"Iy–!" Belum sempat Chen Li menyelesaikan perkataannya, Xiao Wang telah lebih dulu memotongnya.
"Tidak Paman. Aku tak mengatakan Dimensi Jiwa?" Xiao Wang mencubit paha Chen Li, sembari memberikan kode kecil pada pemuda itu.
Wan Li yang melihat tingkah kedua ank itu merasa aneh. Saat hendak bertanya lebih jauh, mendadak perkataannya terhenti di tenggorokan kala seorang pria menghampiri mereka.
"Jenderal Wan Li! Kaulah itu?" tanya orang itu.
Xiao Wang, Wan Li, serta Chen Li sama-sama menengadahkan kepala, melihat siapa orang tersebut.
"E-eh, Yang Mulia Chen Guan!" ucap Wan Li. Ia lantas menunduk, memberi hormat pada pria tersebut yang ternyata adalah Chen Guan.
Chen Li serta Xiao Wang menautkan alis melihat sikap Formal Wan Li terhadap orang itu.
"Paman, siapa orang ini?" tanya Chen Li.
"Dia adalah Chen Guan. Saudara Ayahmu, sekaligus Pamanmu!"
"Pamanku?" kembali Chen Li mengulangi perkataan Wan Li, takutnya ia salah dengar.
"Ya!" Wan Li menoleh ke arah Chen Guan. "Pangeran, Ini adalah Chen Li. Anak dari Raja Chen Long!" Wan Li memperkenalkan Chen Li pada Chen Guan.
Kedua orang itu saling berpandangan sesaat. Chen Guan bergerak mendekati Chen Li perlahan. Matanya tampak berkaca-kaca. Ada rasa haru di hatinya melihat anak saudaranya masih hidup.
Tanpa aba-aba, dirinya langsung memeluk erat Chen Li. Chen Li sendiri tampak bingung dengan sikap orang ini. Ia begitu tak mengenalinya, meski ia tahu bahwa orang ini adalah Pamannya, namun tetap saja ia merasa lain ketika di peluk lelaki itu.
Bagi kebanyakan orang yang tak mengenal Xiao Wang serta Chen Li lebih dalam. Kedua anak itu tampak seperti pemuda polos dan lugu seperti pemuda pada umumnya. Namun jangan salah sangka, pemikiran mereka lebih dewasa di banding pemuda seumurannya, meski mereka belum tahu tentang masalah perempuan.
Chen Li tak menolak ataupun membalas pelukan pria itu. Matanya tertuju pada Wan Li yang tampak juga berkaca-kaca.
Beberapa saat, Chen Guan melepaskan pelukannya.
"Sepuluh tahun berlalu, sejak kematian Kakak Chen Long. Tak ku sangka, saudari Lin Ra ternyata melahirkan-mu dengan selamat. Mengingat orang-orang suruhan Kakak Chen Huang waktu itu yang mengejar Jenderal Wan Li serta saudari Lin Ra," ucap Chen Guan dengan antusias.
__ADS_1
Chen Guan lalu menanyakan akan kabar Lin Ra.
"Ratu Lin Ra telah meninggal, saat melahirkan Chen Li, Yang Mulia," ujar Wan Li.
Mendengar itu, Chen Guan kembali menampakkan raut wajah kusut.
"Sudahlah Paman! Lebih baik kita lanjutkan ini di Istana saja. Lihatlah di sekeliling kita. Banyak prajurit yang meminta pertolongan kita," ujar Chen Li, mengalihkan perhatian. Ia tak mau terlalu larut dalam masalah yang telah berlalu. Meski sebenarnya Chen Li juga merindukan Ibu serta ayahnya.
"Kau benar!"
Mereka pun menghampiri beberapa prajurit. Baik dari pihak kerajaan Angin, maupun Api. Setelahnya, mereka kembali berkumpul.
"Bagaimana?" tanya Wan Li kepada Ketiga orang itu.
"Semuanya mengalami kasus yang sama. Dimana, tidak ada penyakit namun mereka seolah ketakutan. Aku rasa, masalah utamanya terletak pada mental mereka." Xiao Wang menjelaskan apa yang ia temukan.
"Kau benar, aku juga menemukan hal serupa dengan mu!" Chen Guan menambahkan.
"Hmm, Kalau masalah mental. Akan sulit untuk mendapatkan penawarannya. Butuh waktu dan proses untuk menyembuhkannya. Di tambah, Dewa Obat juga tidak di ketahui di mana saat ini dia berada." Wan Li memegangi dagunya, mencoba memikirkan jalan keluar dari permasalahan ini.
"Dewa Obat!" Xiao Wang teringat akan sesuatu.
Cepat-cepat ia mengeluarkan sesuatu dari cincin penyimpanannya.
Sebuah Pluit dapat terlihat di genggaman tangannya. Pluit yang dahulu Sempat ia dapatkan dari pria yang berjuluk Dewa Obat.
"Benda apa yang kau pegang, Xiao Wang?" tanya Chen Li.
"Entahlah, benda ini ku dapat dari Dewa Obat!"
"Apa? Dewa Obat?"
Terbelalak mata Wan Li mendengar ucapan Xiao Wang barusan. Pasalnya, sangat sulit untuk mendapat perhatian dari pria tua itu. Juga, tidak sembarang orang yang bisa bertemu dan berinteraksi dengannya. Apalagi sampai di berikan sesuatu oleh Dewa Obat.
Xiao Wang menganggukkan kepala, tanda membenarkan ucapan Wan Li barusan.
"Dia bilang, jika aku membutuhkannya maka, cukup dengan meniup peluit ini, maka dia akan membantuku."
"Aku rasa, kita tidak perlu meminta bantuannya." Chen Li menyela.
__ADS_1