Perjalanan Menjadi Yang Terkuat

Perjalanan Menjadi Yang Terkuat
Ch. 37 ~ Kembali Melanjutkan Perjalanan


__ADS_3

Whush!


Chen Li dan Xiao Wang tiba-tiba muncul dari sebuah portal. Keduanya yang tak bisa menyeimbangkan tubuh, mendadak terjatuh. Sialnya, Kepala Chen Li yang duluan menyentuh tanah sedang Xiao Wang mendarat dengan mulus.


"Aduh... Sial!" gerutu Chen Li. Beruntung kepalanya mendarat tepat pada sesuatu yang agak lembek nan becek. Saat ia mengangkat wajahnya, kotoran hitam terlihat memenuhi seluruh mukanya.


Melihat hal itu, Xiao Wang tak bisa menahan tawanya.


"Hahaha!" Xiao Wang sambil memegangi perutnya.


"Apa yang kau tertawaan. Cepat bantu aku membersihkan lumpur ini!" ucap Chen Li dengan kesal.


Mendengar bentakan pemuda itu, Xiao Wang berusaha sekuat tenaga menahan tawanya. Setelahnya ia mulai mengeluarkan semburan air yang begitu deras dari telapak tangannya.


Semburan air itu terlalu keras, sampai-sampai menerbangkan Chen Li.


"His... Ma-maafkan aku. Aku tak sengaja."


Segera Xiao Wang menghampiri Chen Li, berusaha menangkap tubuh anak itu. Namun terlambat, tubuh Chen Li sudah terlanjur menabrak sebuah batang pohon dengan keras hingga membuat pohon tersebut tumbang.


"Apakah kau tak apa-apa?" tanya Xiao Wang segera. Setelahnya ia mulai membantu Chen Li berdiri.


"Apakah kau sengaja?" tanya Chen Li dengan nada membentak.


"Kan sudah ku katakan sebelumnya. Bahwa aku tak sengaja!" Xiao Wang membela diri.


Chen Li ingin menyanggah, namun ia memilih untuk menutup mulut. Tak ingin memperpanjang masalah yang memang terlalu kecil untuk di perpanjang.


Chen Li menerima uluran tangan Xiao Wang. Setelah itu ia mulai berdiri.


"Mari kita lanjutkan perjalanan!" ucap Chen Li sembari berlalu meninggalkan Xiao Wang yang sempat mematung.


Setelahnya, Xiao Wang mulai mengikuti langkah Chen Li. Namun, hanya dalam beberapa langkah, Chen Li telah merasakan nyeri di bagian dadanya.


Ringisan kesakitan terdengar pelan dari mulut Chen Li. Namun dapat di tangkap oleh pendengaran tajam Xiao Wang. Segera Xiao Wang mendekati Chen Li, lalu memapah tubuhnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Xiao Wang agak panik. "Apakah aku mendorongmu terlalu keras, tadi ... sampai-sampai kau menabrak pohon itu sangat keras?"

__ADS_1


"Ti-tidak! Aku tak apa." Chen Li berusaha tetap kuat, meski rasa nyeri di dadanya kian bertambah sesak.


Dengan di bantu oleh Xiao Wang, keduanya pun segera duduk di bawah sebuah pohon rindang.


Segera beberapa pil penghilang rasa nyeri Chen Li keluarkan dalam cincin ruangnya. Setelah itu ia langsung menelannya.


Beberapa saat menyerap khasiat pil tersebut. Chen Li merasa agak mendingan. Setelah itu ia lantas berdiri, hendak melanjutkan kembali perjalanan.


"Apakah kau merasa baikan?" tanya Xiao Wang. Dirinya tampak masih merasa bersalah, karena mengira nyeri di dada Chen Li itu akibat dari perbuatannya tadi.


"Ya, aku merasa agak mendingan." Chen Li menjawab sembari senyum kecil terpasang di bibirnya. Meski begitu, sebenarnya rasa nyeri itu masih terasa menyesakkan dadanya.


"Jika kau tak kuat, jangan di paksakan. Kita bisa beristirahat di tempat ini selama beberapa waktu. Nanti setelah kau merasa baikan, kita mulai kembali perjalanan."


"Kau tak perlu merasa bersalah seperti itu!" Chen Li berucap demikian, karena melihat wajah Xiao Wang yang begitu khawatir. "Lagipula, bukan kau penyebabnya!"


Xiao Wang menatap wajah Chen Li. "Kalau bukan aku, lantas siapa?"


"Entahlah, mungkin saat berada dalam goa itu!" ucap Chen Li singkat.


"Sudahlah, tak usah di bahas lagi. Mari kita lanjutkan perjalanan! Tidak baik terlalu menunda-nunda... Lagipula aku juga sudah tak merasakannya lagi!" ucap Chen Li kembali. Setelah itu ia lantas melesat dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Xiao Wang.


Beberapa saat terbang dengan kecepatan tinggi, kedua anak itu dapat mendengar suara keributan dari kejauhan. Keduanya menebak, asal suara keributan itu berasal dari salah satu cabang dari kelompok yang sebelumnya mereka bantai.


"Bagaimana kalau kita beristirahat di sini terlebih dahulu!" Xiao Wang memberi saran.


Chen Li tampak berpikir sebentar, sebelum akhirnya menyetujui saran Xiao Wang.


Bukan tanpa alasan. Dikarenakan hari yang mulai berganti malam. Selain itu, kedua anak itu juga merasa sedikit kelelahan, karena sebelumnya mereka telah melakukan suatu kegiatan yang banyak menguras tenaga. Tak ada salahnya kan untuk beristirahat sejenak.


Xiao Wang segera beranjak meninggalkan Chen Li, untuk berburu siluman di sekitaran wilayah itu. Sebenarnya Chen Li juga ingin mengikuti Xiao Wang berburu, namun ia segera di cegah oleh pemuda itu, dengan alasan kondisinya kurang membaik.


Sambil menunggu Xiao Wang datang, Chen Li diam-diam memulihkan diri. Dengan mata terpejam, Chen Li fokus menekan rasa nyeri tersebut menggunakan energi Qi nya.


Secara samar, pendengaran Chen Li menangkap suara derap kaki seseorang yang menuju ke arahnya.


Segera ia membuka kedua mata, lalu mulai bersembunyi di atas pohon yang sebelumnya ia gunakan untuk bersandar.

__ADS_1


Chen Li dapat melihat siluet seseorang dari balik rimbunan dedaunan. Orang tersebut berhenti melangkah tepat di bawah Chen Li.


Tanpa pikir panjang, Chen Li segera mengeluarkan berlari dari cincin ruangnya, setelahnya ia melompat. Hendak menghujam orang itu.


Trang!


Suara dentingan dua besi yang saling beradu terdengar mendengking di gendang telinga.


Saat itulah Chen Li menyadari bahwa sosok tersebut adalah Xiao Wang.


"Eeh, Wang! Kau sudah kembali rupanya." Chen Li segera menurunkan belatinya. Begitupun juga dengan orang itu yang tidak lain adalah Xiao Wang.


Xiao Wang menanggapi Chen Li dengan memasang sunggingan kecil, meski tak tampak oleh Chen Li.


Setelahnya, Xiao Wang mulai mengeluarkan ranting-ranting kering dan daging rusa dari cincin ruangnya.


Chen Li juga tak ingin ketinggalan. Setelah mengumpulkan kayu-kayu kering tersebut, ia lalu mulai mengeluarkan api dari tangannya.


Dibawah naungan sinar sang rembulan, Xiao Wang dan Chen Li duduk bercerita sembari menunggu daging rusa tersebut matang.


"Oh iya! Aku hampir melupakannya." Xiao Wang berucap tiba-tiba.


"Apa yang kau lupakan?" tanya Chen Li seraya mengangkat sebelah alisnya.


Xiao Wang tak menanggapi. Ia malah mengeluarkan sesuatu dari ruang hampa.


"Telur?" Chen Li bertanya saat melihat benda tersebut.


Xiao Wang mengangguk, membenarkan Xiao Wang. Setelah itu ia mulai menceritakan tentang bagaimana dia mendapatkan telur itu.


Xiao Wang menjelaskan bahwa ia mendapat telur itu dari dalam goa, setelah tubuhnya terhempas keras oleh kepalan tinju dari monster tersebut.


Chen Li mengangguk mendengar cerita Xiao Wang. "Pantas saja saat aku berteriak waktu itu, kau tak menanggapi-ku. Ternyata kau malah sibuk dengan telur itu."


Xiao Wang mengangguk. Sementara Chen Li juga mengeluarkan telur Naga Api nya. Mencocokkan dengan telur yang ada di genggaman Xiao Wang.


"Hmm, mirip!" Chen Li berucap setelah selesai menganalisa.

__ADS_1


Memang telur tersebut sedikit mirip dengan telur Naga Api. Yang membedakan, telur Naga Api Chen Li memiliki bintik-bintik berwarna merah, sedang Xiao Wang memiliki bintik-bintik berwarna biru.


__ADS_2