
Xiao Wang bertukar serang dengan sosok berjubah hitam di udara. Di atas sekte Elang Hitam, keduanya saling melepaskan jurus.
Beberapa saat, keduanya sama-sama mengambil jarak.
"Tidak ku sangka, kau masih bisa bertarung imbang dengan ku, meski kultivasi-mu satu tingkat di bawahku."
Sosok berjubah berkata sembari sunggingan kecil di tampakkan-nya. Meski senyuman itu adalah sebuah topeng untuk menutupi ekspresi khawatir-nya.
"Kau terlalu banyak bicara pak Tua. Aku tak ada waktu untuk meladeni mu seharian!" ketus Xiao Wang.
Setelahnya, ia mengaliri pedangnya dengan energi Qi begitu banyak. Kembali Xiao Wang melesat ke arah sosok tersebut. Kali ini, ia menyerang dengan brutal sekaligus ganas.
Di sisi lain, Sosok yang menjadi lawan Xiao Wang merasakan lesatan pedang pemuda itu yang kian memberat. Semakin ia menepis libasan pedang Xiao Wang menggunakan pedangnya, saat itulah ia merasakan tangannya yang kebas.
Sebisa mungkin dia berusaha untuk kembali menciptakan jarak, namun entah mengapa anak itu seperti tak melepaskannya, dan terus-terusan menempel pada dirinya.
"Sial! Kenapa anak ini begitu bergairah dalam hal pertarungan. Tau begini, tak ku ajukan diri untuk bertarung dengannya tadi!" batin sosok tersebut. Menyesal dirinya telah menwarkan diri untuk membunuh anak ini sebelumnya.
Selang beberapa saat, tak bisa lagi ia mengikuti gerakan Xiao Wang. Hingga pedang di genggamannya sendiri terlepas dan terjatuh di tanah.
Semakin khawatir sosok tersebut. Sebisa mungkin ia mencoba untuk menghindari setiap lesatan tajam pedang Xiao Wang. Namun tak bisa ia melakukannya. Pedang Xiao Wang bergerak terlalu cepat.
Beberapa detik telah berlalu. Kini luka-luka sayatan pedang Xiao Wang telah memenuhi seluruh tubuh sosok tersebut.
Bukk!
Satu tinju telak dari Xiao Wang mendarat tepat pada perut lawan. Lingkaran energi berwarna putih dapat terlihat sesaat setelah tinju menghantam kulit sosok tersebut.
Whush!
Tubuh sosok berjubah hitam melesat dengan kecepatan tinggi, menghantam keras tanah. Membuat tanah yang semula cembung, kini mulai retak dengan cekungan sedikit terlihat di sana.
Xiao Wang menghilang, lalu muncul kembali di samping sosok berjubah hitam itu berada. Begitu kaget dia ketika melihat wajah sosok tersebut yang begitu aneh dari manusia pada umumnya.
Dua tanduk tumpul terlihat di kedua sisi kepalanya. Mata yang berwarna merah. Telinga yang panjang dan meruncing. Serta hidung yang menyerupai hidung Babi.
__ADS_1
"Kau adalah Iblis, bukan?" tanya Xiao Wang. "Tch, tak ku sangka mereka menggunakan kalian untuk menangkap kami!"
Si Iblis tak menanggapi perkataan Xiao Wang. Dirinya sibuk memulihkan kondisinya secara diam-diam, sebelum Xiao Wang kembali menyerangnya.
Sejenak, sunggingan tipis terukir di bibir mungil Xiao Wang.
Slash!
Kepala iblis itu telah terpotong dan menggelinding di tanah. Kedua mata merah dari sang iblis sendiri masih melotot, seolah-olah ia begitu tak percaya akan kematiannya.
"Kau mau memulihkan diri secara diam-diam?" Xiao Wang tersenyum licik. "Sayangnya, aku terlalu baik untuk membiarkan mu pulih!"
Setelahnya Xiao Wang berlalu dari sana. Berjalan menuju beberapa murid serta tetua sekte yang dari tadi menonton pertarungan mereka dari bawah. Walaupun sebenarnya mereka tidak menonton tadi. Hanya langit malam tak berbintang dengan suara dentingan-dentingan pedang serta tumbrukan energi yang mereka dengar di atas sana.
"Sial! Bocah itu bukan manusia!"
"Kau benar... Bagaimana bisa iblis itu di kalahkan ya dengan mudah?!"
Mau tak mau, murid-murid tersebut harus berhadapan dengan Xiao Wang. Walaupun mereka tak menginginkan itu.
Trang!
Tring!
Trang!
Dentingan demi dentingan pedang terdengar menghiasi kelamnya malam itu. Xiao Wang sendiri melakukan pembantaian secara besar-besaran. Tak peduli siapapun yang datang menghadangnya, akan tetap mati melalui pedangnya.
Melihat keganasan Xiao Wang dalam hal membunuh anggota Sekte Elang Hitam, beberapa orang mulai menampakkan wajah khawatir.
Sejenak, semuanya terdiam. Tak ada yang berani maju menyerang Xiao Wang.
Ditengah-tengah murid serta Tetua sekte Elang Hitam yang mengelilinginya. Xiao Wang berdiri dengan pedang yang telah tercemar oleh noda darah. Tubuh manusia sebagai pijakannya.
"Xiao Wang! Apakah kau sudah tak waras? Kau telah menyimpang dari ajaran sekte aliran Putih!" Salah satu tetua berucap lantang. Mencoba bernegosiasi dengan Xiao Wang.
__ADS_1
Ya! Melihat anak itu yang seperti orang yang haus akan darah, serta cara bertarungnya yang tak ada bedanya dengan aliran Hitam barusan. Satu-satunya cara yang pas untuk menghentikannya adalah dengan memberinya peringatan. Mengingat Xiao Wang berasal dari aliran Putih. Bukan tidak mungkin ia akan menyadari kesalahannya dan menyesal telah membunuh banyak nyawa.
"Cih! Jika membunuh orang-orang seperti kalian akan mencabut status ku sebagai aliran putih, Kenapa aku harus peduli?! Bukankah kalian dulunya juga berasal dari aliran Putih?" Xiao Wang menatap sinis tetua yang memperingatinya barusan.
Mendengar respon dari Xiao Wang, beberapa tetua langsung membelalakkan matanya. Begitupun juga dengan beberapa murid yang telah lama belajar di sekte Elang Hitam.
Mereka tahu betul, bagaimana dulunya Xiao Wang adalah seseorang yang begitu mengutamakan aturan dan mengamalkan ajaran dari aliran putih.
"Tidak salah lagi, kau bukan manusia!"
"Yah, kau benar! Aku tak peduli. Yang terpenting adalah memusnahkan kalian."
Selesai dengan perkataannya, Xiao Wang lantas melesat. Kembali memainkan pedangnya membantai anggota sekte Elang Hitam.
Maju dan terus maju. Setiap langkah kakinya, maka dua nyawa akan langsung melayang sekaligus.
Saat hendak membunuh salah satu murid. Mendadak pedangnya tertahan oleh pedang lain. Xiao Wang menoleh ke arah pemilik pedang tersebut.
"Xiao Wang. Apa kabar?" sapa tetua tersebut sembari melemparkan senyum kecil sekaligus remeh ke arah Xiao Wang.
Xiao Wang sendiri mengetahui bahwa tetua tersebut adalah salah satu dari 5 terkuat Tetua sekte Elang Emas terdahulu.
Memilih untuk tak menjawab pertanyaan pria tersebut. Xiao Wang lantas menyerang tetua itu. Sembari menyerang, Xiao Wang juga mengukur kekuatan pria itu, yang kini telah berada di Tahapan Langit puncak. Sungguh sangat diluar ekspektasi nya. Dimana tetua ini dulunya berada di Tingkatan Langit tahap pertama, sekitar dua sampai tiga tahun lalu.
Beberapa saat keduanya bertukar serang. Raut wajah tetua tersebut kian memburuk seiring dengan berjalannya waktu. Tak pernah di sangka kekuatan Xiao Wang yang begitu sangat mengerikan, mengingat usianya yang masih terlampau muda.
Tak butuh waktu lama bagi Xiao Wang untuk menumbangkan Tetua itu. Saat hendak membunuhnya, mendadak Xiao Wang menghentikan aksinya kala mendengar ucapan dari lawannya.
"Tunggu dulu Xiao Wang! Kau bisa memberiku satu kesempatan untuk mengikuti-mu. Sebenarnya aku tak berniat berkhianat. Namun aku juga tak memiliki pilihan lain kala itu. Hai Yue memaksaku dengan mengancam akan membunuh istri serta anak-anak ku! ... Lagi pula, jika sekte Elang Emas telah kembali, kau akan membutuhkanku bersama beberapa murid untuk menjadi bagian dari sekte kita bukan?"
Panjang lebar tetua itu mencari alasan. Berharap Xiao Wang bisa mengerti dan berbelas kasih terhadapnya.
"Cih aku tak membutuhkan orang-orang seperti kalian untuk menjadi bagian dari sekte ku. Lagipula kau terlalu banyak memakan kesempatan, dan kau selalu menyia-nyiakan dua kesempatan tersebut. Bagaimana aku akan memercayaimu?"
Mendengar itu, Pria tersebut tersedak nafasnya sendiri. Belum juga ia bereaksi lebih, lesatan pedang Xiao Wang telah lebih dulu membelah kepalanya hingga tubuhnya menjadi dua bagian. Memisahkan tubuh bagian kanan dan tubuh bagian kirinya.
__ADS_1