Perjalanan Menjadi Yang Terkuat

Perjalanan Menjadi Yang Terkuat
Ch. 63 ~ Kebusukan Jenderal Shen Lou


__ADS_3

Memilih fokus pada tujuan awalnya, Wan Li mencoba sebisa mungkin menepis pikiran kotor itu. Meski sangat di sayangkan untuk menghapusnya.


Wan Li mengeluarkan pedang Naga Api dalam cincin ruang miliknya, setelahnya mendekati Chen Huang perlahan-lahan.


Saat matanya salah menangkap tubuh dua wanita yang terbaring di atas ranjang, pupil mata hitamnya melebar, dengan ludah yang tak berhenti ia teguk.


"Fokus Wan Li–Fokus!"


Kepalanya ia geleng cepat, berusaha membuang jauh-jauh semua pikiran itu. Setelahnya, kembali ia berjalan mendekati Raja Chen Huang.


Saat hendak menghunjamkan pedangnya pada tubuh Raja Chen Huang, mendadak pintu kamar ter–dobrak dengan keras. Seorang prajurit dapat terlihat terpental dan menabrak dinding dengan keras.


Di mulut pintu, berdiri Chen Li dengan Busur Bulan di tangannya.


"O–ow... Maafkan aku paman! Salah tembak!" Chen Li berkata dengan nada di buat-buat. Setelahnya kembali ia beranjak, menghadapi para prajurit yang mulai berdatangan di tempat itu.


Wan Li memukul jidatnya. "Kenapa anak ini begitu ceroboh... Mereka bisa menyerang prajurit dengan diam-diam, tanpa menimbulkan keributan, kan!"


Di sisi lain, Raja Chen Huang beserta dua wanita di sisinya langsung terbangun kala mendengar suara dobrakan pintu tadi.


Begitu terkejut ketiganya saat melihat seseorang dengan pedang yang hendak menusuk mereka. Kedua wanita segera berteriak seraya menggerakkan kaki berusaha mundur dan menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang, dengan ketakutan. Tak lupa pula mereka menarik kain, menutupi tubuhnya.


Raja Chen Huang sendiri tak kalah takutnya. Segera ia juga mengikuti kedua wanitanya. Mundur dan bersandar di dinding ranjang.


Wan Li kembali menoleh ke arah ketiga orang itu.


"Sayang sekali Raja Sampah, kau akan berakhir hari ini juga."

__ADS_1


Wan Li naik di atas ranjang, dan langsung menarik kepala Raja Chen Huang. Menyeretnya di lantai dengan keadaan telanjang. Membawanya keluar kamar.


"Berhenti! Atau nyawa pria ini akan melayang!" teriak Wan Li, memerintahkan para prajurit yang tengah bertarung dengan Xiao Wang dan Chen Li untuk menghentikan aksi tarung mereka.


Sontak saja, melihat nyawa raja mereka di ujung tanduk, semuanya lantas berhenti bertarung. Tak ada yang berani bertindak, takutnya salah langkah dan malah berakhir kepala raja Chen Huang terpisah dari badan.


Betapa malunya Raja Chen Huang. Di seret seperti anjing, dengan tubuh yang tak tertutupi sehelai kain pun. Tubuhnya yang di penuh dengan bulu kriting itu dipamerkan di depan para prajuritnya sendiri.


"Kenapa kalian diam saja! Cepat serang mereka!"


Suara seseorang tiba-tiba terdengar dari belakang para prajurit. Sontak, semuanya langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut. Terlihat Jenderal Shen Lou yang berjalan di antara para prajurit yang membukakan jalan untuknya.


"Jenderal Shen Lou, apakah kau tak melihat keadaanku saat ini!" marah Raja Chen Huang.


Jenderal Shen Lou menatap Raja Chen Huang dengan ekor matanya.


"A-apa! Berani sekali kau membantah perintahku!" murka Raja Chen Huang. Namun dia tak bisa melakukan apa-apa sekarang, takutnya bergerak sedikit saja, pedang pria yang memegangi kepalanya ini akan langsung memutuskan kepala dan badan Raja Chen Huang.


Anehnya, para prajurit malah bergerak menyerang Xiao Wang, Chen Li serta Wan Li, tanpa mempedulikan perkataan Raja Chen Huang.


Begitu tak menyangka Raja Chen Huang melihat prajuritnya tak mendengarkan perintahnya, dan malah memilih mendengar perintah Jenderal Shen Lou.


"A-apa yang terjadi?"


Jenderal Shen Lou memasang seringai licik melihat ekspresi tak menyangka Chen Huang.


"Raja Sampah, apakah kau tahu! Kau itu terlalu bodoh untuk menjadi seorang Raja. Kau terlalu lugu sampai-sampai tak menyadari kalau sebagian besar pasukan mu telah berada di bawah kendali ku!" ucap Jenderal Shen Lou sembari menampakkan seringai sinis ke arah Chen Huang.

__ADS_1


"Berani sekali kau mempermainkan ku! Cari mati kau, hah!" bentak Raja Chen Huang. Dirinya berusaha memberontak, namun Wan Li bertindak cepat dengan mengarahkan pedangnya pada lehernya, membuat Raja Chen Huang tak bisa berbuat apa-apa selain mengutuki keras Jenderal Shen Lou.


"Kau tenang saja Raja Sampah! Setelah aku membereskan jenderal Sampah itu, kau juga akan mendapat bagian mu!" ucap Wan Li, setelahnya ia menendang tubuh tanpa busana Raja Chen Huang, lalu beralih pada Jenderal Shen Lou, yang kini menatapnya dengan dengan penuh siaga.


"Shen Lou, kita lihat sejauh mana kau bisa kabur kali ini!" ucap Wan Li, setelahnya ia langsung melesat ke arah Jenderal Shen Lou. Menyerang pria itu dengan brutal, tanpa memberi ampun.


Lesatan pedang Wan Li semakin lama kian memberat, membuat Jenderal Shen Lou semakin kesusahan dalam menepis pedang Wan Li. Beberapa kali ia berusaha mengatur jarak, hanya untuk mengambil nafas. Namun Wan Li seolah tak memberinya ruang.


Di sisi lain, Chen Li serta Xiao Wang saat ini tengah bertarung melawan ratusan prajurit dengan menggunakan tangan kosong yang terlapisi energi Qi. Beberapa kali patahan tulang terdengar dari prajurit yang menerima tinju telak dari keduanya. Meski begitu, mereka seperti tidak takut dan malah semakin maju menyerbu kedua anak itu.


"Sial, jumlah mereka terlalu banyak. Mematahkan tulang saja tidak cukup. Kita harus bertindak lebih." Chen Li berkata di sela-sela pertarungan.


"Apakah kau gila! Biar bagaimanapun, mereka tetap prajurit kerajaan Api. Jika kau mau mengambil alih kerajaan, kau juga akan membutuhkan yang namanya prajurit. Tanpa prajurit, maka kerajaan tak ada bedanya dengan desa kecil!" balas Xiao Wang.


Chen Li menggertak giginya. "Kalau begitu, selesaikan dengan cepat!"


Chen Li memusatkan Qi pada kedua kaki dan tangannya. Setelahnya, bergerak dengan kecepatan cahaya. Dalam hitungan detik, telah banyak prajurit yang melayang, dengan teriakan kesakitan juga terdengar bersama dengan itu.


Xiao Wang pun tak tinggal diam. Melakukan hal yang sama dengan Chen Li, lalu melesat dengan kecepatan tinggi, meninju satu per satu prajurit, membuat mereka tak bisa lagi bertarung untuk beberapa saat.


Lima menit berlalu, kini sudah ratusan prajurit telah mereka lumpuhkan. Tinggal beberapa ratus lagi. Meski begitu, rasa lelah tak kunjung menghampiri kedua anak itu. Sehingga mereka masih siap dalam melumpuhkan prajurit tersisa.


Waktu terus berjalan, hingga tak terasa dua menit telah mereka lalui. Baik Xiao Wang serta Chen Li berniat berhenti melanjutkan aksinya. Melihat reaksi dari beberapa prajurit tersisa.


Benar saja, semuanya nampak terdiam membatu. Tak ada yang berani bertindak. Mereka melihat kawanannya yang kini terbaring dengan rintisan kesakitan tak berhenti keluar dari mulut mereka.


Kini mereka melihat kedua anak yang berdiri di tengah-tengah prajurit yang terbaring dengan kesadaran yang masih terjaga itu dengan tatapan takut. Tak ada yang berani mendekat ke arahnya. Di tambah mereka juga bisa merasakan aura yang begitu merindingkan terpancar dari tubuh keduanya.

__ADS_1


__ADS_2