Perjalanan Menjadi Yang Terkuat

Perjalanan Menjadi Yang Terkuat
Ch. 46 ~ Aura Membunuh


__ADS_3

Beberapa orang mulai muncul dari balik pepohonan. Mengelilingi rombongan Xiao Wang dan yang lainnya.


Terlihat, orang-orang itu mengenakan topeng yang menutupi wajah mereka.


"Sial!"


Seorang pria dengan dengan baju besi yang di kenakannya, turun dari kuda. Pria itu maju beberapa langkah, dengan pedang di tangan. Tampak, ia hendak mencoba bernegosiasi. Meski begitu, kewaspadaannya tak berkurang sedikitpun.


"Apa yang hendak kalian lakukan? Kalian berani menghadang jalan kami, anggota kerajaan Mu?" Pria itu berkata dengan nada menekan.


"Kau tak usah berpura-pura bodoh, Tie Mu! Aku tahu kau sebenarnya sudah tahu apa maksud kami menghadang kalian." Pria yang mengenakan topeng membalas perkataan lelaki tersebut.


"Tentu tujuan kami, adalah mengambil nyawa orang yang ada dalam kereta itu!" ucapnya kembali sembari tangannya menunjuk kereta kuda yang kini sedang di kelilingi beberapa orang berpakaian baju besi.


"Cih, langkahi dulu mayat ku!" pria yang di panggil Tie Mu itu berucap sembari pedang yang diacungkan ke depan. Tampak, ia telah siap jika pertarungan pecah.


Xiao Wang dan Chen Li yang berada di dalam kereta, mencoba mengintip dari balik jendela yang memang tak memiliki pintu.


Bisa di lihat, kebanyakan orang-orang bertopeng memiliki kultivasi tahapan Tinggi. Beberapa diantaranya berada di kultivasi tahapan Bumi, dan dua orang memiliki kultivasi tahapan langit.


Sementara orang-orang di rombongan Xiao Wang hampir kesemuanya memiliki kultivasi tahapan Tinggi. Sedang pria yang mencoba bernegosiasi itu berada di tahapan Bumi.


Beberapa saat, pertempuran pun pecah saat itu juga. Xiao Wang dan Chen Li sendiri masih terdiam di dalam kereta, tanpa ada niat untuk membantu orang-orang berpakaian besi itu. Yang kini nampak jelas bahwa mereka sedang kesusahan dalam menghadapi lawan yang terlalu banyak.


"Sial!"


Pria yang berada dalam kereta tak bisa tak mengumpat, ketika mengetahui kedua anak itu tak kunjung turun, membantu bawahannya.


"Kenapa mereka tak ingin bertarung? Apakah memang bukan mereka orang yang menghancurkan kelompok Tengkorak Merah? Ataukah isu mengenai hancurnya kelompok Tengkorak Merah yang di musnahkan oleh dua orang anak kecil, hanyalah bulan angin semata?" Pria tersebut mulai mempertanyakan akan kebenaran berita kehancuran kelompok Tengkorak Merah beserta identitas kedua anak itu.


"Apapun itu, aku harus segera mengambil tindakan!" Pria itu mengintip pertarungan di balik tirai jendela.


Dapat ia saksikan, orang-orangnya telah berhasil di lumpuhkan sebagian. Tinggal menunggu waktu kapan rombongan mereka akan tewas.

__ADS_1


Tangannya memegangi dagu, sembari memikirkan langkah apa yang akan di ambilnya.


"Tak ada jalan lain!"


Segera lelaki itu turun dari kereta. Berniat melangkah ke arah kereta kuda milik Xiao Wang dan Chen Li, lalu meminta tolong keduanya. Sebelum itu, ia telah menyiapkan pedangnya, berjaga-jaga jika saja orang-orang bertopeng datang menyerang dirinya.


Melihat pria tersebut telah keluar dari kereta, beberapa orang lantas bergerak cepat ke arah lelaki itu. Tak ingin membiarkannya lolos.


"Sial! Kenapa begitu susah sekali?!" ucap kesal pria tersebut. Setelahnya, ia mengangkat pedangnya, bersiap bertarung melawan orang-orang bertopeng yang mulai berdatangan ke arahnya.


"Yang, Mulia! Cepat lari dari sini!" Tie Mu berteriak lantang, sembari menepis serangan masuk dari lawan.


Namun terlambat, orang-orang bertopeng kini telah mengerubuti pria yang di panggil yang mulia itu. Tinggal menunggu menit, sebelum kepala pria tersebut terpenggal.


Salah seorang yang mengenakan topeng, hendak melayangkan pedangnya ke arah pria itu. Namun belum sempat mengenai dirinya, mendadak kepala pria bertopeng itu meledak. Hancur.


Tak hanya itu, bahkan beberapa temannya juga merasakan hal demikian.


Satu per satu orang-orang tersebut mati dengan keadaan yang sama. Yaitu kepala yang meledak hancur.


"Apa yang terjadi? ... Apakah kalian membawa seseorang bersama kalian?" tanya salah seorang pria bertopeng yang memiliki kultivasi tahapan Langit, kepada Tie Mu.


Tie Mu sendiri tak menjawab. Pria itu juga tampak terdiam membatu. Mencerna akan apa yang barusan ia saksikan. Memilih untuk tak memusingkannya, Tie Mu lantas kembali menyerang anggota yang berkekuatan Bumi.


Di sisi lain, Xiao Wang mulai turun dari kereta.


"Pak Tua! Jadi ini tujuanmu membawa kami bersamamu!" Chen Li berkata sembari kakinya tak berhenti ia gerakkan, mendekati pria tersebut, yang kini tampak diam dengan tubuh yang mengeluarkan getaran kecil.


"Kau mau menjadikan kami kambing Hitam, Hah?"


Xiao Wang bersuara dengan nada tinggi. Aura membunuh yang begitu pekat juga keluar dari tubuh anak itu. Tanpa bisa ia kontrol, aura itu menyebar ke berbagai penjuru, hingga semuanya menghentikan aksi mereka.


Chen Li sendiri yang masih sibuk melepaskan anak panahnya satu per satu juga begitu terkejut kala merasakan aura pembunuh yang begitu pekat itu menghiasi udara.

__ADS_1


Segera ia mengeluarkan kepalanya pada jendela kereta. Mencari-cari asal aura itu. Beberapa saat, Chen Li begitu tercekat, saat mendapati aura membunuh itu tenyata berasal dari Xiao Wang.


"Apa yang terjadi, kenapa ia memiliki aura yang begitu menakutkan ini!"


Chen Li kemudian turun, lalu menghampiri Xiao Wang.


Semuanya seketika tergetar hebat, tanpa terkecuali. Aura itu begitu menakutkan, sampai-sampai bergerak dan mengeluarkan nafas pun mereka kesusahan. Keringat dingin juga kini telah membasahi setelan yang mereka kenakan.


"Wang, apa yang kau lakukan. Segera tarik kembali aura mu itu! Apakah kau tahu? Kau tak ada bedanya dengan Iblis-iblis itu!" Chen Li memperingati Xiao Wang ketika ia telah berada di samping pemuda itu.


Xiao Wang segera tersadar.


"Apa yang terjadi?" Xiao Wang nampak bingung.


Tak ada yang menjawab pertanyaannya barusan.


"Jika kalian tak ingin mati, Segera tinggalkan tempat ini!" Chen Li berteriak lantang.


Orang-orang yang mengenakan topeng, yang sebelumnya sempat termangu, kini mulai tersadar kala mendengar seruan penuh penekanan dari anak kecil itu.


Tak ingin mengambil resiko terlalu jauh, mereka yang masih memiliki nyawa segera meninggalkan tempat itu. Meninggalkan jasad temannya, yang tergeletak tanpa kepala.


Sementara pria yang di panggil yang mulia itu tampak tergetar hebat, dengan menyandarkan tubuhnya pada dinding luar kereta.


"Pak Tua! Jika kau berani berbohong atas permintaan yang aku berikan pada mu semalam ... Jangan salahkan aku jika nyawamu melayang saat itu juga!" tegas Xiao Wang dengan penuh penekanan.


"Ha-hamba ti-tidak berani me-mengingkarinya, Tu-tuan!" Pria tersebut berucap, dengan nada tergetar. Nampak jelas ketakutannya yang begitu besar.


Setelah selesai mengucapkan kalimatnya, Xiao Wang lantas berjalan dan memasuki kereta tempat mereka sebelumnya.


Chen Li pun juga turut mengikuti Xiao Wang, memasuki kereta itu.


Setelahnya, rombongan kembali bergerak, dengan hati yang kacau. Suasana sunyi senyap, tidak ada yang bersuara.

__ADS_1


Chen Li sendiri saat ini sedang memikirkan sesuatu. Memikirkan betapa anehnya kejadian tadi. Dimana, biasanya dirinya yang cepat terpancing emosi, sedang Xiao Wang yang selalu dengan pembawaannya yang tenang. Tapi, kejadian tadi malah sebaliknya.


__ADS_2