Perjalanan Menjadi Yang Terkuat

Perjalanan Menjadi Yang Terkuat
Ch. 91 ~ Menjadi Sang Legenda /F


__ADS_3

Bukk!


Bukk!


Bukk!


"Hentikan!"


"Hahaha! Terimalah nasibmu, anak sial!" ucap seorang anak laki-laki yang berumur sekitar 16 tahun–an.


Dia bersama dengan kawan-kawannya yang berjumlah sekitar 6 orang itu, saat ini tengah memukuli seorang pemuda yang nampak berusia 14 tahun-an.


"Apa salahku, kenapa kalian selalu memperlakukan ku seperti ini!" Pemuda yang di pukuli oleh 7 orang pemuda tersebut berkata dengan intonasi pelan, namun tersirat emosi di dalam kata yang keluar dari mulutnya yang kini telah robek sedikit.


Meski kondisinya kian memburuk. Luka-luka kini telah bertengger di sekujur tubuhnya, namun dia tetap berusaha untuk mempertahankan kesadarannya. Setelan putih dengan corak emas yang ia kenakan kini mulai berganti warna menjadi merah dan nyaris tak ada lagi warna putih karena telah bercampur dengan noda darah.


Meski begitu, tak sedikit pun rasa belas kasih di tunjukkan oleh ketujuh orang yang memukulinya itu.


"Hahaha! Chen Li, seharusnya kau bersukur, bisa di pukuli oleh orang-orang seperti kami. Yang memiliki orang tua hebat dan terkenal di dunia kultivator." Salah satu dari ketujuh pria yang memukuli Chen Li berkata dengan nada remeh.


Tampak jelas bahwa pria itu tengah merendahkan Chen Li. Meski demikian, yang di katakan pria itu tidak bisa di katakan salah. Dia sendiri adalah putra dari kepala sekte Elang Emas. Sementara keenam lainnya adalah anak dari para tetua sekte.


Dia adalah Zhang Lou. Putra dari Zhang Meng, yang merupakan ketua sekte.


Zhang Lou menghentikan aksi memukul Chen Li. Ditatapnya pemuda malang itu yang kini tampak tak berdaya. Pemuda itu sendiri saat ini tengah berusaha untuk mempertahankan kesadarannya.


Zhang Lou berjongkok dengan menumpu pada sebelah lututnya di tanah.


"Ck-ck-ck! Chen Li, betapa malangnya nasibmu... Mengapa dulu kau memutuskan untuk masuk ke sekte Elang Emas ini, dan mencari muka pada ketua dan tetua sekte ... pada akhirnya kau akan bernasib sial seperti ini! Hahaha...." Zhang Lou berkata sembari tertawa.


Meludahi Chen Li, setelahnya menendang keras pemuda itu.


Chen Li yang memang merasa tak berdaya, kini malah bertambah tak berdaya kala merasakan tendangan keras dari Zhang Lou tadi.


Berlanjut dengan terus di pukuli tanpa henti.  Hingga Chen Li mulai merasakan pandangannya yang buram dan perlahan mulia menggelap.


***


Zhang Lou serta antek-anteknya berhenti memukuli Chen Li kala merasakan pemuda itu yang telah tak sadarkan diri.


Salah satu diantara mereka memeriksa Chen Li. Dimulai dari memeriksa nafasnya menggunkan jari telunjuk.


"Bagaimana?" tanya Zhang Lou pada pria yang memeriksa Chen Li.

__ADS_1


"Tidak bernapas!" balasnya.


Lanjut, pria tersebut memeriksa detak jantung Chen Li dan yang terakhir memeriksa nadinya.


"Apakah bergetar?" tanya kembali Zhang Lou.


"Tidak!" jawab pria yang memeriksa Chen Li.


"Gawat!"


Detik itu, ketakutan mulai menghampiri mereka. Niat awal hanya ingin menyiksa Chen Li, malah berakhir dengan membunuh pemuda malang itu.


"Bagaimana ini?" tanya salah satu diantara anak buah Zhang Lou.


"Kenapa kau memukulinya dengan keras tadi? Ini semua salahmu!?" Zhang Lou mulai asal menyalahkan antek-anteknya.


"Kenapa kau malah menyalahkan aku? Bukankah kau yang lebih keras dalam memukuli anak ini, tadi?"


Pertengkaran kecil tercipta saat itu juga.  Namun belum juga sampai pada tahap serunya, mereka langsung di cegah oleh lima orang pria yang dari tadi menonton.


"Sudahlah, berantam tidak akan menyelesaikan masalah! Lebih baik kita pikirkan bagaimana cara mengurusi anak ini. Dan tanpa di ketahui oleh seorang pun dari sekte Elang Emas!" ucap lelaki yang menengahi pertengkaran Zhang Lou bersama pria tadi.


Emosi yang sedikit meluap, kini mulai mereda. Zhang Lou membenarkan apa yang dikatakan lelaki tersebut. Ketahuan oleh salah seorang dari sekte Elang Emas akan membawa masalah pada mereka bertujuh.


Sejenak, Zhang Lou serta yang lainnya memikirkan saran dari pria itu.


"Hmm, ide yang tidak buruk!" ucak Zhang Lou.


Dia kemudian memerintahkan bawahannya untuk mengangkat tubuh Chen Li. Setelahnya, mereka sama-sama beranjak menuju jurang yang di maksud.


Selang beberapa saat, mereka telah sampai di sebuah jurang. Menoleh ke bawah, tak ada yang bisa mereka lihat selain dengan kabut,  juga semakin dalam, maka semakin gelap pula jurang tersebut. Sehingga mereka tidak dapat melihat dasar jurang. Namun mereka mengetahui bahwa jurang ini sangatlah dalam.


"Cepat, lempar dia ke dalam jurang itu!"


Mendengar perintah dari Zhang Lou, bawahan Zhang Lou pun langsung melempar tubuh tak bernyawa Chen Li ke dalam jurang.


"Ahh. Akhirnya lega!" Salah satu diantara anak buah Zhang Lou berkata dengan menghela napas lega.


Setelahnya mereka langsung kembali ke sekte Elang Emas.


Di sisi lain, tubuh Chen Li terlempar ke dalam jurang. Satu jam terjatuh, namun tubuh Chen Li tetap belum mencapai dasar dari jurang itu. Hingga satu dua jam kembali terlewatkan, namun belum juga tubuhnya mencapai dasar.


***

__ADS_1


"Uhuk!"


Seorang pemuda yang tak lain adalah Chen Li saat ini terbangun serentak dari posisinya yang semula terbaring.


"Uhuk-uhuk!" Terbatuk-batuk Chen Li. Menilik sekitar, tidak sengaja matanya menangkap gelas bambu yang berisi air di atas meja batu. Tanpa pikir panjang, Chen Li langsung meraih gelas tersebut dan langsung meminum isinya untuk menghilangkan batuk.


"Brutts!"


Baru juga seteguk dia meminum, Chen Li malah menyemburkannya.


"Aaahh! Air apa ini? Kenapa begitu pahit?"  Chen Li mengoceh. Memang pahit yang di rasa Chen Li begitu luar biasa, sampai-sampai Chen Li merasa lidahnya seperti di tusuk-tusuk.


Mencoba memperhatikan air tersebut. Benar saja, air yang ia minum tadi ternyata berwarna hijau.


Dia mencoba untuk menghirup aromanya.  "Hmm, bau obat yang sangat pekat!"


Detik itu, Chen Li tersadar bahwa dirinya saat ini berada di tempat yang sangat asing.


"Tempat apa ini?"


Chen Li bangkit dan mencoba untuk memperhatikan sekitarnya. Seingatnya, terakhir kali dia di pukuli oleh Zhang Lou serta antek-anteknya. Mengapa dia malah berada di tempat ini?


Memperhatikan sekitar, nampak semuanya yang terbuat dari batu. Chen Li menebak bahwa saat ini dia sedang berada dalam goa.


-


"Kau sudah sadar rupanya!" Suara berat dari seorang pria terdengar serak menggema seisi goa.


Kontan, Chen Li langsung melompat tak terkendali saking kagetnya.


Detak jantung berdegup kencang. Mencoba membalikkan badan dan melihat ke arah belakang, seorang pria tua dapat dia lihat di sana. Tengah berjalan menuju ke arahnya.


"Si-siapa kamu?" Chen Li bertanya dengan intonasi sedikit gugup.


"Hehehe! Kau tenang saja, Nak, aku hanyalah seorang kakek tua yang tak tahu jalan pulang ke rumah!" Kakek tersebut lantas mengulurkan tangan, hendak meraih pergelangan tangan Chen Li.


Sontak, Chen Li langsung melempar tangan  kakek itu. Dan melompat menjauhinya. Beruntung, ruangan di dalam goa itu yang lumayan luas, sehingga dia bisa dengan leluasa untuk menghindar si kakek.


"Hohoho! Kau cukup agresif rupanya. Aku suka itu!"


Sang kakek kemudian memainkan tongkatnya, dan melesat maju ke arah Chen Li. Pria tua itu berniat mengetes kemampuan Chen Li. Sejauh mana anak itu ahli dalam hal beladiri.


\=

__ADS_1


Ini ada di Sebelah aplikasi F/z


__ADS_2