Perjalanan Menjadi Yang Terkuat

Perjalanan Menjadi Yang Terkuat
Ch. 27 ~ Bantai


__ADS_3

Kedua anak itu kembali melanjutkan perjalanan. Saat sedang berlari dengan kecepatan sedang, Xiao Wang tiba-tiba saja berhenti.


"Ada apa?" Tanya Chen Li.


"Kau tunggu di sini!" Setelahnya, Xiao Wang terbang melewati pohon-pohon yang menjulang tinggi. Lalu memperhatikan wilayah sekitar.


"Apakah kau melihat sesuatu?" Kembali Chen Li bertanya kala melihat Xiao Wang yang hendak mendarat.


"Tak ada waktu untuk menjelaskan. Ayo ikuti aku!" Xiao Wang berucap sembari berlalu terbang dengan kecepatan tinggi.


Chen Li yang kebingungan, memilih untuk mengikuti Xiao Wang terbang dengan kecepatan tinggi pula. Saat itulah dapat ia saksikan kepulan asap hitam dari kejauhan. Chen Li menebak bahwa pembantaian telah terjadi kembali di sana.


Tak butuh waktu lama bagi kedua pemuda itu untuk sampai di sebuah desa, yang kini tampak porak poranda. Si jago merah, mulai melahap seisi bangunan yang ada di sana. Namun ada juga sebagian yang belum terbakar api ganas itu.


Suara teriakan seseorang, dapat keduanya dengar dari dalam kobaran api. Chen Li hendak menolong orang tersebut. Akan tetapi segera di cegah oleh Xiao Wang.


"Kenapa kau mencegahku?"


"Apakah kau gila? Kau mau menolong orang yang bahkan tak memungkinkan lagi baginya untuk mempertahankan nyawanya."


Chen Li terdiam. Ada rasa kesal di hatinya. Pikirnya, orang tersebut adalah penduduk terakhir yang masih hidup di desa ini. Namun, benar juga apa yang di kata Xiao Wang. Meski lewat orang itu keduanya akan mendapat informasi mengenai kejadian di desa ini, namun melihat kondisi orang itu membuat Chen Li berpikir bahwa menolongnya sama saja dengan bohong.


Sorot mata tajam kedua anak itu, mampu menembus kobaran api yang menutupi jarak pandang antar keduanya dengan orang tersebut. Sejenak, kedua anak itu terdiam. Menyaksikan orang itu yang kini berlarian ke sana kemari dalam kobaran api yang mengganas. Teriakan menyayat hati pun di keluarkan nya. Berharap ada seseorang yang mau menolongnya. Namun itu tak berlangsung lama. Pria itu telah meregangkan nyawa dengan tubuh gosongnya yang masih terlahap api.


"Kita berpencar!" usul Xiao Wang kemudian dan di angguki oleh Chen Li.


Keduanya pun kembali menelusuri setiap sudut desa itu dari dua arah berbeda. Berharap masih ada walau hanya seorang saja yang bisa mereka tolong.


Dari dalam gubuk renta yang kini mulai terlahap api sebagiannya. Xiao Wang mendengar suara tangisan bayi. Tanpa pikir panjang, ia lantas bergegas masuk ke dalam gubuk yang kini mulai terlahap api setengahnya.


Gubuk itu hanya terdapat dua ruang. Ruang tamu dan ruang kamar. Xiao Wang segera memasuki kamar itu. Dapat dilihatnya seorang bayi yang berada di pelukan seorang pria paruh baya yang kini telah di penuhi oleh darah di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


Xiao Wang menjadi Iba karenanya. Segera ia mendekati dan hendak menyelamatkan sang bayi. Saat hendak menyentuh bayi tersebut, tiba-tiba saja tangan penuh darah menggenggam erat pergelangan tangan Xiao Wang.


"Kyaaa!" Xiao Wang tak bisa menahan teriakannya. Dirinya terlalu terkejut lalu menepis kasar tangan tersebut.


"To-tolong anakku!" pintanya dengan suara yang sangat lemah.


Xiao Wang menjadi sedikit tenang kala mengetahui bahwa pemilik tangan tersebut adalah pria yang sebelumnya memeluk si bayi. Diperhatikannya sorot mata penuh harap dari pria itu. Xiao Wang ingin bertanya, namun ia memilih mengurungkan niatnya. Dikarenakan kobaran api kini mulai mengelilingi tempat mereka saat ini.


Xiao Wang segera mengangkat si bayi. Sebelum dirinya beranjak, Xiao Wang menggunakan elemen airnya untuk memadamkan api di sekitaran pria itu. Setelahnya ia melesat, menembus dinding reot yang kini telah hangus.


Xiao Wang kembali menyelamatkan pria tersebut, setelah dirinya meletakkan sang bayi di tempat yang aman.


Diperiksanya kondisi pria tersebut. Merasa masih terdapat tanda-tanda kehidupan, Xiao Wang segera mengeluarkan pil dari cincin ruangnya. Setelahnya membantu pria tersebut dalam menyerap khasiat dari pil itu.


Sementara Chen Li yang berada di tempat berbeda, tak menemukan seorang pun yang bisa ia tolong. Semuanya telah mati terkapar di mana-mana dengan tubuh yang beraneka ragam bentuknya. Jalanan kini telah di penuhi oleh mayat. Rumah-rumah warga yang terlahap api kini mulai runtuh.


Tempat Chen Li berpijak pun kini tubuh semua. Hal itu membuat emosi pemuda itu tampak tak stabil. "Sungguh Biadab! Manusia tak berperasaan. Taunya hanya menyiksa, namun tak memikirkan nasib orang yang di siksa!" Pandangannya ia arahkan ke sekeliling. "Lihat saja, kalian akan ku buat lebih menderita dari orang-orang ini!"


***


Rombongan orang berpakaian hitam dengan garis-garis merah darah menghiasi setelan yang mereka kenakan saat ini sedang berjalan, hendak menuju desa sebelah. Setelah sebelumnya mendapat kepuasan batin dengan membantai desa yang mereka singgahi sebelumnya.


Sesekali tawa renyah terdengar, membuat suasana tampak ramai.


"Hai Nona manis! Maukah kau tidur bersamaku malam ini? Hahaha!" Salah satu pria berwajah garang, menggoda seorang gadis yang tadi sempat mereka tawan dari desa yang sebelumnya mereka singgahi.


Gadis itu tak menanggapi. Dirinya terlalu takut dengan pria itu. Setelah kejadian sebelumnya yang membuat dirinya trauma. Seluruh keluarganya di siksa dan di bakar hidup-hidup.


Rumah-rumah mereka pun di bakar tanpa ampun. Tak ada yang selamat dari pembantaian itu, kecuali para gadis yang kini di bawa pergi oleh kelompok itu. Entah kemana mereka akan membawanya.


Gadis itu tak tahu lagi akan bagaimana nasibnya setelah ini. Jika dia di perbolehkan untuk memilih, maka gadis tersebut lebih memilih mati bersama dengan kedua orang tuanya dan penduduk desa. Namun hal itu tak bisa ia lakukan.

__ADS_1


"Ayolah nona cantik! Kemari sini!" Pria tersebut menarik paksa si gadis ke dalam pelukannya.


Tak!


Sebuah pukulan keras mendarat di kepala bagian belakangnya.


"Tahan dulu bodoh! Apakah kau tak menyayangi nyawamu, hah?" Seorang pria kurus mendatanginya sambil berceloteh di hadapannya.


Pria yang sebelumnya menggoda gadis tersebut seketika terdiam. Meski begitu, di hatinya mengeluarkan kalimat-kalimat cacian terhadap orang tersebut.


Tiba-tiba saja mereka yang berada di depan menghentikan langkahnya, membuat rombongan yang berjalan di belakang juga ikut berhenti.


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba saja berhenti?" tanya seseorang kepada rekan di sebelahnya.


"Entahlah, aku juga tidak tahu!"


"Ada seorang anak kecil yang menghalangi jalan kita!" ucap yang lainnya, memberitahu apa yang ia tahu.


"Anak kecil? Kenapa tak membunuhnya saja?"


"Entahlah!"


Sementara itu, di depan rombongan tersebut. Seorang pria turun dari kuda, lalu mendekati seorang anak kecil yang saat ini sedang menangis. Menghalangi jalan mereka.


"Bocah! Apakah kau tak menyayangi nyawamu, hah!" bentak pria itu.


Pemuda itu tak menanggapi, dia malah semakin memperkencang suara tangisnya.


"Tutup mulutmu bocah! Kau malah membuat telingaku sakit!" Kembali bentakan keras terdengar dari suara berat pria itu. Meski demikian pemuda yang tak lain adalah Chen Li tetap menangis dengan suara yang semakin kencang.


Pria itu yang kesal, kemudian menarik pedang dari sarungnya. Setelah itu mengangkat, hendak memenggal kepala Chen Li.

__ADS_1


Belum sempat melakukan aksinya, mendadak, tangannya telah terpotong rapi dan terjatuh tepat di bawah kakinya.


__ADS_2