Perjalanan Menjadi Yang Terkuat

Perjalanan Menjadi Yang Terkuat
Ch. 28 ~ Bantai II


__ADS_3

Banyak tatapan tak percaya melihat lengan rekannya terjatuh begitu saja saat hendak memenggal kepala seorang bocah.


Tanda tanya mulai menyeruak di benak masing-masing orang yang hadir menyaksikan itu.


Pria yang sebelumnya hendak memenggal Chen Li juga tak sempat bereaksi. Kedua matanya terbelalak. Dia tak merasakan rasa sakit sama sekali ketika tangannya terpotong tiba-tiba. Saat lengannya terjatuh pun ia masih tampak bengong. Hingga ketika dirinya telah tersadar, saat itulah ia merasakan perih pada bekas potongan lengannya.


"Kau... Kau apakan lenganku Hah! Bocah Lakn*t!" Pria tersebut menunjuk Chen Li dengan tangan satunya.


Sementara Chen Li, tak ada tanggapan darinya. Ia malah semakin memperkeras suara tangisnya. Seiring dengan suara tangisan Chen Li yang semakin mengeras, tangan pria yang di pakai untuk menunjuk Chen Li mendadak terpotong secara berurut. Dimulai dari jari telunjuknya, lalu pergelangan tangannya. Setelah itu lengannya. Kemudian ototnya.


Slash! Slash! Slash...


Semua orang kembali disuguhkan dengan pemandangan Silap Mata. Tidak, bukan sulap. Lebih tepatnya, Sihir. Setidaknya begitulah yang ada di pikiran mereka saat itu.


Lelaki tersebut kembali dibuat tak sempat bereaksi. Ia melihat tangannya yang terjatuh dengan sendirinya, tanpa tahu siapa yang telah memotongnya.


Darah mulai mengalir deras dari kedua bekas potongan pada lengannya. Detik itulah ia merasakan sakit yang luar biasa. Kini ia merasa tak ada gunanya lagi hidup, jika dalam kondisi cacat seperti ini.


Seorang kultivator akan merasa dikucilkan. Di caci maki. Di hina. Bahkan di tendang, jika tak berguna. Harapan untuk menjadi yang terkuat diantara yang terkuat. Berkuasa diantara yang berkuasa, seketika hilang saat dirinya tak lagi memiliki dua lengan.


"Bunuh aku! Ayo bunuh aku!" erang pria itu.


Chen Li berhenti menangis. Ditatapnya pria itu dengan kedua alis yang berkerut. Seolah-olah, ia juga bingung dengan apa yang terjadi pada pria itu.


Detik berikutnya, salah satu kaki pria itu kembali terpotong.


Lagi dan lagi, semuanya sampai di buat menahan nafas saat melihat kaki yang semula berdiri tegak menopang tubuh lelaki tersebut, kini mulai tumbang. Merinding. Begitulah yang di rasakan semua yang hadir di sana.


Meski telah banyak orang yang telah mereka siksa. Namun, entah mengapa saat melihat kejadian pada pria itu, semuanya tampak ngeri. Instingnya mengatakan bahwa setelah pria itu, mereka juga akan merasakan hal yang sama.


Sementara pria tersebut kembali dibuat terlambat beraksi. Sebelum akhirnya dirinya tak bisa menyeimbangkan tubuh, dan terjatuh terguling. Rintihan kesakitan kembali terdengar dari mulutnya.


Bekas potongan kedua tangan beserta kakinya, kini telah tertempel tanah. Membuat rasa perih tak bisa terungkap dengan kata-kata. Pria itu hanya bisa merengek, meminta untuk segera di bunuh. Namun tak ada yang berani bertindak.


Semuanya mematung. Tak ada yang berani bergerak, membantunya melepas dari penderitaan tersebut.

__ADS_1


Chen Li mengusap air mata palsunya. Lalu dengan menggunakan wajah polos, pemuda itu mendekati pria yang kini menggelinjang seperti belut yang di pegang kepalanya.


Lalu dengan polosnya, Chen Li mencolok kedua mata pria itu. Cairan berwarna merah memuncrat dibarengi dengan teriakan memilukan kembali terdengar dari pria tersebut. Seorang yang terkenal ganas ketika menyiksa korbannya, saat ini sedang merintih kesakitan, meratapi nasibnya yang malang.


"B-bunuh anak itu!"


Seorang pria yang sedari tadi melongo, kini mulai memerintahkan bawahannya untuk menyerang Chen Li. Awalnya lelaki itu berpikir bahwa bukan Chen Li pelakunya. Pasalnya, wajah polos yang diperlihatkan anak itu tadi menyiratkan tentang sifatnya yang penakut, sekaligus cengeng.


Siapa saja akan berpikir bahwa tidak mungkin seorang anak kecil dapat melakukan hal ekstrim yang bahkan lelaki itu sendiri tak bisa melakukannya.


Namun ketika melihat anak itu mencolok mata pria tersebut, membuatnya mempertimbangkan kembali pemikirannya tadi.


Puluhan orang itu memiliki kultivasi di tahapan Tinggi. Yang paling kuat diantara mereka memiliki kultivasi Tingkatan Bumi tahap dua.


Hening sesaat. Semuanya saling pandang memandang. Meminta saran dari temannya apakah menyerang atau diam.


"Kenapa kalian diam saja. Cepat serang bocah itu!" perintahnya sekali lagi. Kali ini, pria tersebut berteriak dengan menggunakan sedikit tekanan pada akhir kalimatnya.


Orang-orang yang berada di belakangnya mulai bergerak satu persatu. Dengan pedang terhunus, semuanya berlari bergerombol ke arah Chen Li.


Sorot mata pemuda itu menatap lurus puluhan orang yang bergerak ke arahnya.


"Sampah!"


Dalam sepersekian detik, Chen Li telah menghilang dari tempatnya.


Tanda tanya kembali mengisi di setiap benak mereka yang ada di sana.


"Kemana perginya bocah itu?"


"Apakah kau melihatnya lari, atau bersembunyi?"


"Entah!"


Meski begitu, kewaspadaan mereka tak berkurang sedikitpun. Pandangan menilik sekitar. Mencari keberadaan pemuda itu.

__ADS_1


Salah satu pria yang berada di ujung tiba-tiba merasakan hembusan angin panas, menerpa tubuhnya. Membuatnya merasa sedikit merinding.


Tak lama setelahnya, tangan kanan yang menggenggam erat golok, mendadak memisahkan diri dari tubuhnya. Pria itu terlambat terkejut, sebelum tangan yang satunya ia rasa telah ringan.


Menoleh ke arah dua lengannya. Begitu terkejut lelaki itu kala melihat lengan yang kini nampak gundul. Kedua tangannya kini tergeletak di gugusan daun-daun kering, di atas tanah.


"A-apa yang terjadi?"


Tidak sampai di situ, pria itu merasakan aneh pada kedua pahanya. Lelaki itu berniat menggerakkan kakinya. Namun sialnya, dirinya malah terjatuh ke tanah dengan kedua kakinya yang ternyata telah terpotong rapi. Anehnya pria itu tak merasakan apa-apa saat keempat alat geraknya dipotong.


Lelaki itu tampak bingung sesaat. Mencerna akan apa yang telah terjadi. Tak berapa lama, rintihan kesakitan terdengar dari mulutnya, kala dirinya telah tersadar.


Beberapa orang yang berada di dekatnya sampai di buat terkejut oleh teriakan lelaki itu.


Saat hendak mendekatinya, mendadak kaki seorang pria terlepas dengan badan yang terus bergerak, melayang hingga beberapa senti, sebelum akhirnya ambruk ke tanah.


"Semuanya, waspada! Ana..." Seorang pria berkumis yang hendak memperingati kawanannya, tak sempat melanjutkan perkataannya. Sebab, mulutnya telah robek dengan gigi-gigi yang rontok. Darah mulai menguak, bercampur bersama air liur. Lalu mengalir ke tanah.


Satu persatu dari orang-orang tersebut mulai ambruk dengan keadaan yang tidak beda jauh. Dimana, tangan dan kaki yang terpotong secara tiba-tiba. Terkejut pun tak sempat mereka lakukan. Pasalnya kejadian itu begitu cepat. Lebih cepat dari kedipan mata.


Anehnya, sosok tersebut tidak membiarkan mereka mati. Membiarkan mereka tersiksa, meski mereka meminta untuk di bunuh sekalipun.


Kini, tinggal mereka yang berkekuatan Bumi yang masih berdiri. Saling membelakangi, membentuk bundaran dengan pedang di majukan di depan dada. Tak ada celah sedikitpun. Meski demikian, kaki mereka tak berhenti bergetar. Takut.


Seorang anak kecil yang tadi sempat menghilang, kini telah muncul di hadapan mereka.


Tidak ada noda darah sedikit pun yang menempel pada setelan yang dikenakannya. Hanya saja, pada pedangnya terdapat secercah darah yang kemudian menetes. Jatuh ke tanah.


Chen Li memasang seringai sinis.


"Ada apa pak tua? Kau takut!" Chen Li berkata dengan nada penuh provokasi.


"Lihatlah kawanan kalian! Sangat menyedihkan bukan?" Chen Li menunjuk puluhan orang yang kini tergeletak dengan kesadaran yang masih terjaga. Rengekan sekaligus rintihan tak berhenti keluar dari mulut mereka.


Para pria berkekuatan Bumi itu saling memandang satu sama lain. Kini mereka yakin bahwa seorang anak kecil yang berdiri di hadapan mereka saat ini adalah seorang sepuh yang kekuatannya berada di puncak tahapan langit. Menggunakan ilmu tertentu untuk merubah wujudnya menjadi anak kecil.

__ADS_1


__ADS_2