Perjalanan Menjadi Yang Terkuat

Perjalanan Menjadi Yang Terkuat
Ch. 45 ~ Penyerangan


__ADS_3

Xiao Wang dan Chen Li yang sedang menyantap lahap makanan, tiba-tiba saja kembali di datangi oleh seorang pria. Namun yang membedakannya, jika pria sebelumnya memiliki paras yang begitu garang, pria yang berdiri di samping keduanya saat ini memiliki paras yang begitu tegas.


Dengan baju besi yang dia kenakan, beserta pedang yang terselip rapi di pinggangnya. Menandakan bahwa pria tersebut seorang pengawal keluarga terpandang.


Xiao Wang juga Chen Li menghentikan aksi makannya, kala mendengar ucapan pria itu.


"Mohon maaf sebelumnya sepuh. Jika Kedua Sepuh berkenan, sudi kiranya kedua Sesepuh bergabung bersama kami." Pria tersebut sambil membungkuk, memberi hormat.


Kedua anak itu sampai di buat mengernyit mendengar panggilan pria itu terhadap keduanya.


Seperti biasa, Chen Li ingin memprotes keras namun segera Xiao Wang mendahuluinya.


"Baik!"


Setelahnya, keduanya mulai mengikuti pria itu. Menaiki tangga kedua, keduanya sampai pada ruangan khusus di bagian pojok lantai dua penginapan. Tampak, ruangan itu begitu khusus bagi mereka yang berasal dari keluarga bangsawan.


"Silahkan duduk, sepuh!"


Pria itu mempersilahkan Xiao Wang dan Chen Li duduk. Berseberangan dengan seorang pria yang dengan pakaian mewah yang ia kenakan.


"Baik! Terima kasih sebelumnya karena sepuh berdua telah mau menerima undangan kami." Pria yang duduk berhadapan dengan kedua anak itu berbicara dengan sopan.


Xiao Wang mengangguk. "Mohon maaf, sebelumnya tuan! Jangan panggil kami dengan sebutan sepuh, karena umur kami tidak setua yang tuan bayangkan!"


Pria tersebut mengernyit. "Baik. Maaf atas ketidak nyamanan se- maksudku tuan berdua." Kembali ucapannya begitu sopan.


"Langsung saja pada intinya, Pak Tua! Tujuan kalian mengajak kami bergabung dengan kalian, apa?" Chen Li yang kesal, mengeluarkan perkataan yang sukses membuat semuanya tersinggung.


Pria yang sebelumnya mengajak Xiao Wang dan Chen Li ke tempat itu, segera menarik pedangnya.


"Perhatikan perkataanmu! Apakah kau tidak tahu, saat ini kau sedang berbicara dengan siapa?"


Chen Li tak menanggapi perkataan pria itu. Bahkan menoleh pun tak dilakukannya.


Lelaki yang duduk berhadapan dengan kedua anak itu segera memberi kode pada pria itu.


"Sekali lagi, mohon maaf atas ketidak nyaman Tuan-Tuan. Tak ada tujuan lain, kami mengajak kalian bergabung bersama kami, selain hanya ingin berbincang-bincang sedikit dengan tuan berdua." Pria tersebut masih mempertahankan nada bicaranya.


"Hmm," Xiao Wang mengangguk. Namun tidak dengan Chen Li. Pemuda itu malah memalingkan muka.

__ADS_1


"Sebelumnya, apakah benar kalau kedua tuan ini, yang telah menghancurkan kelompok Tengkorak Merah?"


Xiao Wang menautkan kedua alisnya. Lalu pandangannya menoleh kearah Chen Li.


"Kalau benar, memangnya kau mau apa?" Chen Li berbicara dengan nada sedikit meninggi.


Beberapa orang yang berdiri mematung di sekitaran Chen Li, Xiao Wang dan pria itu segera bertindak dengan menarik Pedang mereka. Namun baru setengah pedang yang terbuka, mereka kembali mendapat kode keras dari pria tersebut.


Kembali pria itu melempar beberapa pertanyaan. Dan dengan sabar, Xiao Wang menjawab pertanyaan pria tersebut. Meski kadang mereka menjawab tidak sesuai dengan kenyataan.


Beberapa saat Xiao Wang mulai jenuh menjawab pertanyaan pria tersebut.


"Karena kau telah selesai, sekarang giliran aku yang bertanya." Xiao Wang berbicara dengan nada sedikit kesal.


"E-eh, mohon maaf tuan! Silahkan ... silahkan! Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjawab pertanyaan tuan."


"Baik! Pertanyaan ku cukup sederhana... Dimana kami bisa mendapat peta Benua Naga!"


Pria itu tampak berpikir sesaat, sebelum kedua sudut bibirnya sedikit terangkat.


"Kebetulan, besok kami hendak kembali ke kerajaan. Jika tuan-tuan berkenan, kalian bisa mengikuti kami, ke Istana... Benda yang kalian cari ada di sana!" pria tersebut berbicara dengan nada penuh semangat. Meski begitu, secara samar Xiao Wang maupun Chen Li dapat merasakan maksud lain dari ucapannya tersebut.


"Hoho! Mana aku berani tuan!" pria itu berucap cepat.


"Baik!" Tanpa persetujuan Chen Li, Xiao Wang langsung menyetujui ajakan lelaki itu.


***


Rombongan Xiao Wang berangkat pagi-pagi sekali. Meninggalkan kota tersebut, menuju kerajaan yang di maksud lelaki tersebut.


Xiao Wang dan Chen Li sendiri mengendarai sebuah kereta yang khusus di sediakan untuk keduanya.


Berjalan hingga berjam-jam, akhirnya seseorang berteriak untuk menghentikan perjalanan sejenak. Dikarenakan matahari juga telah nampak tepat di atas kepala.


"Wang, kenapa kau menyetujui ajakan pria sialan itu?" Chen Li bertanya sembari mengeluarkan paha ayam dari cincin ruangnya. Paha ayam itu sendiri ia dapat dari hidangan makan malam sebelumnya bersama dengan pria tersebut.


Xiao Wang memandangi rumput-rumput kecil yang bergoyang di terpa angin yang berhembus sepoi-sepoi.


"Apakah kau mau kembali ke Kekaisaran Han?" Pandangan Xiao Wang tetap tak berpaling dari rumput tersebut.

__ADS_1


"Ya!" Chen Li menjawab singkat.


"Apakah kau mengetahui jalan menuju ke sana? Ke arah mana kita harus terbang, untuk sampai di sana?"


Chen Li terdiam sesaat. Setelahnya, kembali ia mengunyah paha ayam.


"Tidak!"


"Menurutmu, apa yang harus kita lakukan agar kita tidak tersesat?"


Kembali Chen Li terdiam. Memikirkan jawaban yang tepat, untuk menjawab pertanyaan Xiao Wang barusan.


"Dengan suatu petunjuk. Atau penunjuk jalan!"


"Nah, itulah tujuanku mengikuti mereka. Sebagai keluarga bangsawan. Tentunya mereka memiliki benda yang semacam itu!" Xiao Wang menjelaskan.


Mendengar itu, Chen Li menganggukkan kepala, tanda mengerti.


"Tapi, apakah kau tak curiga?" Chen Li membalas bertanya.


"Sebenarnya, aku juga curiga dengan ajakan mereka ini... Bisa jadi, tujuan mereka mengajak kita, karena mereka tahu bahwa sesuatu yang berbahaya akan menimpa mereka saat dalam perjalanan."


Chen Li mengangguk. "Kau benar! Awas saja. Jika sampai mereka menjadikan kita sebagai kambing hitam!"


Benar saja. Belum juga mereka selesai dengan percakapannya, Xiao Wang dan Chen Li mulai merasakan adanya suatu pergerakan di balik pohon-pohon besar.


"Satu ... dua ... tiga...!" Xiao Wang memejamkan kedua mata. Berusaha menghitung jumlah mereka.


Beberapa saat, ia mulai membuka kembali kedua matanya.


"Jumlahnya lebih dari seratus orang!" ucap Xiao Wang kepada Chen Li.


"Pak tua itu! Mereka yang mendapat masalah, malah kita yang repot!"


Chen Li tak bisa menahan kekesalannya. Meski mereka mampu membereskan semuanya hanya dalam hitungan menit. Namun tetap saja ia tak terima dengan perlakuan pria itu.


Tampak, rombongan kembali hendak melanjutkan perjalanan. Namun, belum juga mereka melangkah, tiba-tiba saja beberapa orang yang mengenakan topeng menghadang jalan mereka.


Sontak semuanya langsung mengambil sikap siap bertarung, dengan pedang yang di hunus. Beberapa orang langsung bergerak mengelilingi kereta, dimana di dalamnya terdapat seorang pria yang sebelumnya mengajak bicara Xiao Wang dan Chen Li.

__ADS_1


__ADS_2