Perjalanan Menjadi Yang Terkuat

Perjalanan Menjadi Yang Terkuat
Ch. 38 ~ Kembali Membantai


__ADS_3

Xiao Wang serta Chen Li kembali melanjutkan perjalanan setelah melewati malam yang panjang.


Karena merasa sudah dekat dengan markas kelompok tersebut, mereka memutuskan untuk berlari.


Beberapa menit, kedua anak itu akhirnya sampai juga di tujuan. Di balik rerumpunan semak belukar, Xiao Wang juga Chen Li memperhatikan aktivitas orang-orang tersebut.


Tampak, keamanan di markas ini begitu ketat. Sehingga tak ada celah bagi kedua anak itu untuk menyusup.


"Bagaimana ini?" tanya Chen Li.


"Tak ada jalan lain, selain membantai secara besar-besaran!"


"Baik... Mari bergerak!"


Chen Li membidikkan anak panahnya pada salah satu anggota kelompok tersebut, membuatnya tumbang saat itu juga.


Teman-temannya yang lain yang melihat rekan mereka terbaring tiba-tiba, segera bergerak mendekatinya.


Kembali Chen Li hendak melepaskan anak panahnya. Namun dengan cepat di tahan oleh Xiao Wang.


"Ada apa?" tanya Chen Li.


"Kalau yang ini, serahkan padaku!"


Xiao Wang mulai menciptakan beberapa anak panah air di sekitarnya, lalu melesatkan ke arah kerumunan orang itu.


Baamm! Baamm! Baamm...


Rentetan ledakan tercipta saat anak-anak panah tersebut menyentuh mereka. Beberapa orang yang sebelumnya berkerumun pun sampai di buat terbang olehnya.


Teriakan kesakitan dapat terdengar sesaat dari mulut mereka, sebelum mereka tak sadarkan diri.


Suara ledakan tersebut nyatanya mengundang perhatian banyak orang. Terbukti, saat ini beberapa orang sedang berlari. Mendekat ke arah dimana ledakan tersebut tercipta.


"Apa yang terjadi?" tanya seorang pria yang tiba-tiba saja muncul pada beberapa orang yang berkumpul di sana.


Seorang pria lain hendak menjawab pertanyaan pria tersebut. Namun belum sempat mengeluarkan suaranya, lehernya telah tertembus anak panah berapi. Membuatnya meregangkan nyawa saat itu juga.


Pria yang sebelumnya bertanya begitu terkejut kala melihat pria tersebut yang mulai bolong lehernya. Segera ia memerintahkan beberapa orang untuk mengambil sikap siaga.


Setelahnya, ia berteriak lantang. "Keluar kau, Bangs*t!"

__ADS_1


Tak lama setelah teriakannya, di balik semak belukar, muncul dua orang anak kecil, berusia sekitaran 10 atau 9 tahun.


Masing-masing dari bocah itu memegangi senjata di tangannya.


"Cih, hanya seekor semut kecil, berani mencari masalah dengan kelompok kami... Anak kecil, apakah kalian tak menyayangi nyawa kalian? Sayang sekali umur kalian masih panjang, namun malah di perpendek dengan mencari masalah dengan kelompok kami!"


Pria itu berkata dengan intonasi terkesan begitu meremehkan.


"Aku malah sangat menyayangkan, seorang kultivator seperti kalian yang taunya hanya membunuh yang lemah... Contoh orang yang memiliki nyali banci!" Chen Li membalas perkataan pria tersebut sembari memalingkan muka


"Apa katamu? Berani kau mengatakan kami komplotan banci!" Dengan intonasi tinggi, pria itu berkata sambil memelototi Chen Li.


"Kapan aku mengatakannya... Kau sendiri yang mengakuinya, bukan?" Kali ini, seringai sinis terpasang di bibir mungil Chen Li. Seringai yang begitu terkesan memprovokasi.


Pria itu tak bisa berkata-kata. Meladeni seorang anak kecil yang mulutnya ibarat mulut seorang profesor. Mampu membalikan perkataan lawan bicaranya, memang sangat susah.


Dengan darah yang meninggi, pria itu lantas memerintahkan orang-orang di sekitarnya untuk menangkap dua bocah itu. Hidup atau Mati.


Tanpa ada yang berani membantah, semuanya lantas bergerak secara bersamaan. Menyerang Chen Li dan Xiao Wang.


Namun sialnya, mereka tidak mengetahui bahwa kekuatan kedua anak itu begitu mengerikan. Selain itu kedua anak tersebut ibaratnya monster yang tak kenal yang namanya kata ampun.


"Mangsa baru, telah datang dengan sendirinya." Tanpa sadar, Chen Li berkata sembari menyiapkan Busur Bulannya. Setelahnya, ia melesat dengan kecepatan diluar nalar.


Tak cukup sampai sedetik, beberapa kepala telah terlepas dari badan.


Beberapa orang yang semula berniat maju menyerang Xiao Wang lantas menghentikan gerakannya. Tak pernah mereka temukan sebelumnya seperti yang dilakukan Chen Li barusan.


Pria yang sebelumnya memerintahkan mereka juga tak bisa berkata-kata, melihat beberapa orang yang di perintahnya kini terbaring dengan kepala yang menggelinding di tanah.


Chen Li muncul kembali di samping lelaki tersebut.


"Bagaimana Paman. Apakah kau suka?" ucap Chen Li, berbisik di telinga pria tersebut.


Sementara pria itu mematung di tempatnya. Kedua kakinya terasa lemas saking takutnya. Ia sendiri tak tahu dengan tindakan apa yang akan di ambilnya. Apakah melawan, ataukah diam saja.


Dengan mengumpulkan keberaniannya, pria tersebut kemudian menyikut Chen Li secara serentak, membuat anak itu termundur ke belakang hingga beberapa langkah.


Setelahnya ia berteriak lantang.


"SEMUANYA... ADA PENYUSUP!!!"

__ADS_1


Teriakan yang terlapisi energi Qi, membuat suaranya dapat di dengar hingga beberapa ratus meter jauhnya. Entah karena terlalu taku, atau apa sampai-sampai ia mengeluarkan teriakan yang begitu merobek gendang telinga.


Chen Li sendiri sampai harus menutupi telinganya.


"Sial! Kau terlalu berisik, Paman!"


Setelah mengucapkan kalimat itu, Chen Li tanpa ampun langsung memenggal kepala lelaki itu.


Slash!


Darah memuncrat bak air mancur. Mengenai Chen Li, membuat wajah beserta setelan yang dikenakannya ternodai oleh noda darah.


Xiao Wang yang melihat aksi Chen Li barusan, juga ikut terdiam. Entah apa yang merasuki anak itu, sampai ia bisa melakukan hal sekejam itu.


Memilih untuk tak memusingkannya, ia lantas mengikuti jejak Chen Li.


"Jika dia bisa melakukannya ... kenapa kau tak bisa!"


Selanjutnya, Xiao Wang menghilang dari tempatnya. Detik berikutnya, ia muncul kembali di samping salah seorang pria yang sebelumnya hendak maju menyerangnya.


Satu kali libasan pedang Xiao Wang, membuat Pria tersebut langsung terbelah menjadi dua bagian.


Tak berhenti sampai di situ, Xiao Wang kembali menghilang dan muncul kembali pada salah pria yang lainnya. Kembali ia melibaskan pedangnya, membuat kepala pria itu melayang seketika.


Satu per satu anggota dari kelompok tersebut kehilangan nyawa, tanpa tahu sebab mereka kehilangan nyawa karena apa. Dalam kata lain, mati dalam keadaan penasaran.


Begitulah cara Xiao Wang maupun Chen Li menghadapi lawannya. Entah. Sejak dirinya mengenal Chen Li, Xiao Wang sepertinya mulai lupa pada ajaran sektenya dahulu.


Tak ada lagi kata pengampunan kedua. Tak ada lagi yang namanya terikat dalam peraturan. Ia bebas melakukan apa saja terhadap lawan tarungnya. Jika Xiao Wang merasa orang tersebut pantas untuk di bunuh, maka ia tak akan ragu melayangkan pedangnya. Mengambil nyawa lawan.


"Waah... Sepertinya seru!"


Melihat Xiao Wang membantai orang-orang tersebut, membuat Chen Li tak mau ketinggalan momen. Ia juga ikut menghilang.


Seiring dengan berjalannya waktu, satu per satu orang-orang tersebut ambruk dengan tubuh yang terpisah-pisah.


Kedua anak itu tampak berlomba-lomba dalam membantai lawan. Hingga dalam hitungan menit, mereka telah menyelesaikan semua orang yang ada di sana.


Bagaimana tidak. Semua kultivator yang ada di tempat ini rata-rata berada di Tahapan Tinggi. Sedang pria yang sebelumnya memerintahkan mereka, berada di tahapan Bumi.


Cukup mudah bagi Xiao Wang maupun Chen Li untuk membantai orang-orang itu, tanpa mendapat perlawanan dari lawan.

__ADS_1


__ADS_2