
"Kenapa kau ini diam saja? Tunggu anak itu mati baru kau bergerak?" Qingshui membentak Dianhuo.
Sementara Dianhuo terbangun dari posisi telungkup nya. "Aduh!" Lelaki itu merengek sambil membersihkan mukanya yang tercemari oleh kotoran lumpur.
"Kenapa kau memukuliku secara tiba-tiba. Apakah kau tak bisa datang baik-baik?" kesal Dianhuo.
"Tch! Kalau saja terjadi sesuatu pada anak itu, kau yang akan tanggung sendiri akibatnya!" ucap Qingshui dengan nada mengandung ancaman.
Dianhuo sedikit takut mendengar ancaman tersebut. Kini dia menyesal telah membiarkan Chen Li menghadapi siluman yang bahkan beberapa kali lebih kuat diatasnya, seorang diri.
***
Xiao Wang dan Qingshui hendak menuju tempat dimana mereka biasa berkumpul bersama setelah selesai berlatih.
Saat dalam perjalanan, mendadak suhu di udara terasa berbeda. Alam yang semula nampak bersahabat, kini mulai mengganas.
Angin yang sangat kencang, menerbangkan debu berpasir yang semula menempel di tanah. Tak hanya itu, pepohonan bahkan ikut tersapu olehnya.
Kilatan petir menyambar di berbagai tempat. Hewan-hewan mulai berlarian ke sana kemari mencari tempat aman untuk berlindung. Tak sedikit pula yang nyawanya melayang tersambar petir yang menggila.
Melihat hal itu, Qingshui tak tinggal diam. Lelaki itu mengangkat tanah menggunakan jari kelingkingnya. Detik berikutnya, tanah di sekitar Xiao Wang tiba-tiba saja retak, setelahnya terangkat membentuk sebuah goa yang sangat besar.
Qingshui terbang di udara. Kemudian pria itu menyerukan sesuatu yang tak dapat di mengerti oleh Xiao Wang.
Baik hewan biasa maupun siluman di berbagai usia. Dari usia satu tahun hingga seribu tahun yang tak mampu melindungi diri dari marabahaya mulai berdatangan ke tempat itu.
Hingga dalam waktu singkat, tempat Xiao Wang dan Qingshui saat ini telah di kelilingi oleh siluman.
Xiao Wang awalnya mengambil sikap waspada dan siap bertarung melihat ribuan siluman tersebut. Pedang yang semula tersimpan dalam cincin ruangnya pemuda itu keluarkan. Berjaga-jaga terhadap sesuatu yang akan menimpanya nanti.
"Kau tenang saja, Wang'er! Aku yang mengundang mereka kemari."
Mendadak suara terdengar dalam pikiran Xiao Wang. Pemuda itu mengenali suara tersebut sebagai suara Qingshui.
Xiao Wang kemudian menengadah keatas. Dapat dilihatnya, Qingshui yang tersenyum kecil padanya. Dari senyum tersebut, Xiao Wang mengetahui bahwa suara yang dia dengar sebelumnya memang suara Qingshui yang berkomunikasi dengannya melalui telepati.
__ADS_1
Pemuda itu mulai menurunkan pedangnya, dan kembali menyimpan dalam cincin ruangnya. Meski demikian, kewaspadaannya tak berkurang sedikitpun.
Benar saja, siluman-siluman itu tak ada niat sedikitpun untuk menyerang Xiao Wang. Mereka terlalu fokus untuk menyelamatkan nyawa masing-masing. Siluman-siluman tersebut bergerak bergerombol memasuki goa yang di buat oleh Qingshui.
Beberapa saat, semuanya telah selesai memasuki goa. Xiao Wang mendekati Qingshui yang saat itu telah mendarat.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" tanya Xiao Wang.
"Aku bisa merasakan ... terjadinya perubahan drastis pada alam, disebabkan aura siluman suci yang melepaskan puncak kekuatannya."
"... Kita harus bergegas! Sesuatu yang tidak baik telah terjadi pada Chen Li."
Setelah itu keduanya melesat, menghilang dari sana. Dalam waktu singkat, keduanya telah sampai di tempat dimana Dianhuo sering melatih Chen Li.
Dapat keduanya saksikan, Chen Li yang saat ini tidak bisa bergerak, dengan keadaan yang menyedihkan. Kedua tangan yang dipakai sebagai topangan tubuhnya agar tidak ambruk, tak berhenti bergetar hebat.
"Cih! Pria sialan itu!" umpat Qingshui.
"Kau, bantu Chen Li melawan siluman itu. Aku akan memberi pelajaran pada pria sialan itu!"
***
Siluman Naga menatap tajam Chen Li. Saat hendak melancarkan semburan apinya pada pemuda itu, mendadak energi berbentuk anak panah air yang sangat banyak menghantam tubuh siluman itu secara beruntun.
Siluman tersebut menoleh kearah tubuh yang terkena serangan anak panah. Serangan itu tak mampu menciptakan luka serius pada tubuh siluman Naga. Akan tetapi serangan tersebut sukses memecah fokus siluman tersebut terhadap Chen Li.
Chen Li bernafas lega kala tekanan berat yang sebelumnya dia rasa, kini telah menghilang.
Cepat-cepat Xiao Wang mendekati Chen Li. Dia langsung menyerahkan pil pada Chen Li dan membiarkannya beristirahat. Memulihkan diri sebentar.
"Manusia rendahan! Beraninya kau menyerangku secara diam-diam menggunakan serangan mainan milikmu." Siluman Naga berucap sembari menyemburkan asap dari lobang hidungnya.
"Siluman jelek! Meski tubuhmu lebih besar dariku, namun jangan pikir kau bisa menakut-nakuti ku!" balas Xiao Wang. Setelahnya, anak itu menghilang dari tempatnya berdiri dan muncul tepat di atas kepala siluman Naga.
Dengan dua tangan yang bersatu dan terlapisi energi Qi yang sangat banyak, pemuda itu menumbuk kepala siluman Naga dengan begitu keras.
__ADS_1
Meski tak bisa membuat naga itu ambruk, tapi setidaknya, serangan itu mampu menimbulkan rasa sakit terhadap siluman Naga. Juga linglung selama beberap detik.
Seakan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Chen Li melepaskan serangan beruntun pada kepala siluman naga. Serangan itu terus berlanjut hingga beberapa saat.
"Ha-ha-ha!" Nafas Xiao Wang terputus-putus, tanda dirinya kelelahan. Pasalnya, tenaganya telah terkuras banyak saat berlatih. Dan sekarang pemuda itu kembali melepaskan serangan beruntun dan tentu saja stamina yang di butuhkan juga harus banyak.
Qingshui dan Dianhuo melihat aksi Xiao Wang dari kejauhan.
"Apakah kau tahu, langkah selanjutnya untuk melatih kedua anak itu?" tanya Qingshui.
"Ya ... Latihan fisik!" jawab Dianhuo singkat.
"Kau benar! Meski lautan Qi sangat luas, dengan tingkat kultivasi yang tinggi. Namun jika kekuatan fisik lemah, maka dia tidak ada bedanya dengan seorang kultivator yang baru belajar kultivasi," jelas Qingshui.
Xiao Wang yang kewalahan, menadapat hentakan keras dari ekor siluman Naga. Membuat pemuda itu terjun cepat dan masuk ke dalam air.
"Tidak! Xiao Wang..." Teriak Chen Li. Dia yang kebetulan telah memulihkan kekuatannya, segera bangkit dan menyerang Siluman Naga dengan brutal.
Pertarungan keduanya berlangsung cukup sengit. Meski tingkatan kultivasi siluman itu lebih tinggi dari Chen Li, namun dikarenakan tubuh kecil Chen Li yang lincah, membuat pemuda itu sedikit lebih di untungkan.
Chen Li menghilang dan muncul kembali di kepala siluman Naga. Tampak, serangan Xiao Wang tadi telah menimbulkan bekas luka pada bagian ubun-ubun si Naga.
Dengan menggunakan luka tersebut, Chen Li menghunjamkan ujung busur bulan yang runcing pada ubun-ubun siluman Naga. Tusukan itu begitu dalam.
Siluman Naga meringis kesakitan. Lolongan keras terdengar dari mulutnya. Naga itu bergerak dengan kecepatan tinggi tanpa arah. Semburan api juga berhasil lolos dari mulut siluman itu dan menghanguskan benda apa saja yang berada dalam radius api sang Naga
Chen Li tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia berusaha menggesekkan busurnya, berniat merobek kepala siluman Naga. Butuh waktu bagi Chen Li sebelum dia berhasil merobek sedikit kepala sang Siluman.
Slash!
Darah memuncrat. Secara samar, Chen Li melihat sinar berwarna merah menyala keluar dari kepala siluman tersebut. Chen Li menebak, sinar tersebut berasal dari kristal roh siluman tersebut.
Saat hendak melakukan aksi lebih, tiba-tiba saja siluman itu menggelengkan kepalanya dengan sangat cepat, membuat Chen Li tak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Membuat pemuda itu terjatuh di tanah.
Beruntung, Chen Li bisa memposisikan diri dengan baik saat mendarat di tanah.
__ADS_1