Perjalanan Menjadi Yang Terkuat

Perjalanan Menjadi Yang Terkuat
Ch. 29 ~ Bantai III


__ADS_3

Saat ini, Xiao Wang sedang bersama dengan seorang pria dan bayi yang tampak tertawa bahagia di gendongan ayahnya.


Xiao Wang melihat kedua orang itu. Entah mengapa dia juga ikut bahagia.


"Terima kasih, Nak! Kau telah menyelamatkan nyawa kami." Pria itu menatap lembut Xiao Wang sembari memeluk erat sang bayi. Takut dirinya kembali kehilangan anak satu-satunya itu. Setelah sebelumnya, ia nyaris tak lagi melihat putranya.


"Umm!" Xiao Wang mengangguk.


"Paman! Kalau boleh tau, sebenarnya apa yang sedang terjadi di desa ini?" tanya Xiao Wang setelahnya.


Pria itu terdiam. Pandangannya ia turunkan ke bawah. Menunduk! Tampak, dia sedang larut dengan pikirannya.


Aura kebencian merembes keluar dari tubuhnya kala ia mengingat kembali tentang kejadian yang sebelumnya menimpa keluarga beserta seluruh penduduk di desa itu.


Hal yang paling membekas adalah tentang kematian istrinya yang di perkosa oleh orang-orang bejat di depan matanya sendiri, sebelum mereka membunuhnya.


Kedua tangan pria itu terkepal keras. Urat lehernya bahkan terlihat jelas bercabang-cabang, menandakan lelaki itu sedang menahan kemarahan.


Xiao Wang yang melihat reaksi dari pria itu, merasa serba salah atas pertanyaan yang sebelumnya ia lempar.


"Maafkan aku, Paman!"


Pria itu kembali menoleh Xiao Wang. Emosinya berusaha ia kontrol, sebelum berucap lembut pada Xiao Wang.


"Kau tak perlu meminta maaf, Nak. To, kau juga tak salah apa-apa kan?" ucap pria itu sembari tersenyum kecil.


Xiao Wang yang melihat senyuman itu, juga ikut tersenyum.


Setelahnya, pria itu mulai menceritakan tentang kejadian yang menimpa desanya.


Dimulai dari kehidupan yang berjalan seperti biasanya, hingga ketenangan mereka direnggut oleh sekelompok orang yang datang-datang langsung merusuh. Membunuh semuanya lalu membakar rumah-rumah. Serta membawa para gadis di desa ini.


Xiao Wang yang mendengar cerita pria tersebut merasakan dirinya yang panas. Emosinya hampir tak bisa ia kontrol, jika saja tak ada pria itu yang menenangkan dirinya.


"Nak, kau tak usah memikirkan ini. Bukan tanggung jawab mu untuk memberantas orang-orang itu." Pria itu berucap sembari memegangi bahu Xiao Wang.


Xiao Wang menarik nafas sesaat, berusaha menenangkan diri.


"Paman!" Xiao Wang hendak bertanya ketika dia mengingat sesuatu.

__ADS_1


"Paman, saat ini kita berada di mana?"


Pria itu mengernyit mendengar pertanyaan Xiao Wang. Bagaimana pemuda ini bisa melupakan tanah kelahirannya sendiri?


"Kenapa kau bertanya demikian? Melihat dari penampilanmu, kau pasti putra seorang bangsawan. Kenapa kau tak mengetahui letak wilayah mana saat ini kita berpijak?" Pria itu bertanya balik pada Xiao Wang. Sebagai seorang bangsawan, seharusnya dia telah belajar mengenai wilayah dan batas-batas wilayah di kekaisaran Tang.


Pemuda itu bingung hendak menjawab apa.


"Eh. A-anu!"


"Kita berada di kekaisaran Tang!"


Xiao Wang mengangguk. Begitu jauh dengan tempat kelahirannya. Dimana tanah kelahirannya adalah kekaisaran Han, sedang saat ini ia terdampar di tempat jauh.


Dari yang pernah ia dengar sebelum-sebelumnya, kekaisaran Tang ini di penuhi dengan orang-orang hebat. Satu kultivator di kekaisaran ini, bisa berhadapan langsung dengan tiga kultivator kekaisaran Han di tahapan kultivasi yang sama.


Selain itu, kekaisaran Tang ini juga di kenal dengan kekejamannya.


Sejenak, Xiao Wang menarik nafas panjang. Begitu jauh perjalanannya untuk sampai di kekaisaran Han.


"Nak Xiao. Apakah kau bukan asli penduduk sini?" Pria itu bertanya kepada Xiao Wang. Dia yakin Xiao Wang berasal dari kekaisaran lain setelah mendengar pertanyaannya barusan.


"Bagaimana kau bisa sampai di sini!"


Xiao Wang pun mulai mengarang cerita tentang bagaimana dirinya bisa sampai di tempat ini.


Pria itu awalnya merasa ragu dengan cerita Xiao Wang. Namun ia memilih untuk tak memusingkannya. Dia yakin Xiao Wang ini orang baik, jadi tak ada yang perlu di khawatirkan terhadapnya.


"Paman, apakah di sekitaran sini terdapat sebuah kota?" Xiao Wang kembali bertanya.


"Hmm, kalau desa-desa kecil maupun besar, memang banyak di sekitaran sini. Namun untuk kota, Kau harus berjalan hingga beberapa puluh kilometer untuk sampai di sana!" jelas pria itu.


"Baik. Terima kasih, Paman!"


Setelah bertukar kata sebentar, Xiao Wang pun pamit pergi. Sedang pria itu juga berjalan hendak ke desa sebelah, ke rumah saudaranya.


***


Chen Li saat ini sedang bermain-main dengan beberapa kultivator tahapan Bumi.

__ADS_1


Terlihat, para kultivator itu sangat kewalahan dalam menyerang Chen Li. Dikarenakan kecepatan gerak pemuda itu yang begitu diluar nalar.


Saat pedang hendak menyentuh tubuh kecil Chen Li, mendadak pemuda itu akan menghilang.


"Sial! Kita di permainkan oleh seorang anak kecil!" Salah seorang kultivator mengumpat. Entah sudah berapa jam mereka mengejar Chen Li, namun pemuda itu masih bisa lolos dan tanpa mengalami cidera sedikitpun.


"Berhenti menghindar, Bocah! Tampakkan dirimu. Lawan kami secara terbuka!" Kultivator lain berteriak lantang. Dari intonasi yang dikeluarkannya, tampaknya ia sedang di landa kekesalan.


"Apakah kau yakin paman!"


Chen Li tiba-tiba muncul di samping pria yang berteriak tersebut.


Bagaikan melihat hantu di siang bolong, pria tersebut langsung melompat ke samping. Jantungnya ia rasa seakan hendak melompat, keluar lewat mulutnya.


"Sialan kau!" Pria itu yang kesal mengayunkan pedangnya ke arah Chen Li.


Namun sesuatu yang tak terduga kembali terjadi. Gerakan Pemuda itu terlalu cepat. Lebih cepat dari suaranya sekalipun.


Tangan pria itu tiba-tiba saja terpotong.


"Paman, apakah kau sudah bosan hidup?" Chen Li kembali mengulangi perkataan pria yang kini tergeletak tak berdaya. Menunggu ajal menjemputnya. Pria yang sebelumnya hendak memenggal kepala Chen Li, namun berakhir dengan kedua tangan beserta salah satu kakinya terpotong.


Pria tersebut begitu terkejut. Tanpa kehendaknya, kakinya termundur dengan sendirinya.


Dengan seringai menyeramkan yang diperlihatkan Chen Li, pemuda itu melangkah pelan sembari memamerkan pedangnya.


"Jika kau mau memberitahuku dimana markas kalian, maka aku mungkin akan melepaskan mu!" Chen Li berkata seraya langkah demi langkah ia majukan, mendekati pria itu.


Pria tersebut bergetar ketakutan. Anak kecil di hadapannya ini, ibarat malaikat maut yang siap mencabut nyawanya kapan saja.


"Bocah sialan! Kau tak pantas mengetahui di mana letak markas kami!" Seorang kultivator lainnya datang. Dan langsung melibaskan pedangnya, hendak memenggal kepala Chen Li.


Sialnya. Saat pedang tersebut hampir mencapai Chen Li, mendadak anak itu kembali menghilang.


Pedang yang tak bisa ia kontrol, terus melayang dan menebas tubuh kawannya yang tadi sempat di ancam Chen Li membuat tubuhnya terbelah dua.


"Paman, kau salah sasaran! Bukannya menebas lawan, kau malah menebas kawan. Ckckck!" Chen Li muncul kembali di belakangnya.


Pria itu berbalik arah. Ia tak mempedulikan nasib temannya yang kini tergeletak dengan keadaan tubuh yang terpisah. Dirinya terlalu kesal dengan omongan anak kecil itu yang begitu tajam.

__ADS_1


__ADS_2