Perjalanan Menjadi Yang Terkuat

Perjalanan Menjadi Yang Terkuat
Ch. 44 ~ Penginapan Bulan


__ADS_3

Kabar mengenai hancurnya salah satu kelompok besar di kekaisaran Tang begitu cepat menyebar ke berbagai daerah.


Yang paling mengejutkan adalah, kabar tentang yang menghancurkan kelompok tersebut yaitu dua orang anak kecil yang berusia sembilan sampai sepuluh tahunan.


Meski begitu, banyak orang tak percaya akan kebenaran kabar tersebut. Dikiranya orang yang membawakan berita tersebut terlalu melebih-lebihkan.


Seorang pria saat ini sedang berdiri, memandangi ratusan atap rumah di sebuah bangunan tertinggi di antara bangunan yang lain.


"Ampun Tuan!"


Seorang pria lain yang datang-datang langsung berlutut.


"Bagaimana... Apakah kau menemukan berita pasti akan kebenaran kabar angin yang baru-baru sedang ramai di perbincangkan banyak orang?"


Pria itu bertanya, dengan pandangan tetap ia arahkan pada atap-atap rumah tersebut. Tanpa menoleh sedikitpun pada pria yang sedang berlutut itu.


"Dari beberapa informasi yang kami dapat. Kelompok Tengkorak Merah memang benar di hancurkan oleh dua orang anak kecil, yang memiliki kekuatan begitu mengerikan, Tuan!" jelas pria tersebut.


"Hmm, Apakah kau mengetahui pasti ciri-ciri dari dua anak itu?"


Pria yang sedang berlutut kemudian menjelaskan ciri-ciri dua anak tersebut.


Sementara itu, di tempat lain. Xiao Wang dan Chen Li saat ini sedang berada di pintu gerbang masuk kota. Nampak, di sana telah banyak orang yang sedang mengantri, untuk memasuki kota tersebut.


"Berhenti! Perlihatkan identitas kalian!"


Penjaga kota berucap pada Chen Li dan Xiao Wang, kala telah sampai giliran kedua anak itu.


"Cih, kenapa tak langsung beri kami jalan masuk saja?" Chen Li berucap dengan ketus.


"Kau berani membantah, hah!" bentak penjaga gerbang kota.


Chen Li inging meladeni orang itu, namun dengan segera di cegah Xiao Wang.


"Sudahlah! Tidak usah mencari masalah terlalu jauh!"


Xiao Wang kemudian mengeluarkan lencana milik sekte Elang Emas. Lalu menunjukkannya pada kedua penjaga gerbang kota.


Kedua orang itu mengernyit kala tak mengenali lencana yang di tunjukan pemuda itu.

__ADS_1


"Kalian, bukan berasal dari kekaisaran Tang? Kenapa aku baru melihat lencana seperti ini!" pria itu memperhatikan lebih teliti lagi simbol yang ada di lencana tersebut.


"Kami memang bukan berasal dari kekaisaran Tang. Kami berasal dari kekaisaran Han. Simbol Elang Emas yang terdapat pada lencana itu menandakan identitas kami yang berasal dari sekte Elang Emas!" jelas Xiao Wang.


Kedua penjaga itu mengangguk.


"Baik, silahkan masuk... Karena kalian berasal dari kekaisaran lain, maka biaya pajak masuk tidak sama dengan penduduk asli kekaisaran Tang!"


"Kenapa bisa begitu?" Chen Li menggerutu.


"Kau berani menolak, hah!"


Chen Li ingin membalas ucapan orang itu, namun lagi-lagi Xiao Wang kembali menghentikannya.


"Sudahlah! Berapa pajak yang harus kami bayar?"


"7 keping emas!"


"Apa? Kenapa begitu mahal!" Kembali Chen Li memprotes.


Xiao Wang melemparkan tujuh keping emas pada pria itu. Setelahnya mengajak Chen Li memasuki kota.


"Kenapa kau menyetujuinya?" ucap Chen Li kesal saat mereka telah berada beberapa meter dari gerbang masuk kota.


Perkataan Xiao Wang, sukses membuat Chen Li tak bisa berkata-kata. Memang benar apa yang di kata Xiao Wang. Kedua anak itu saat ini memiliki gunungan koin emas yang tersimpan di cincin penyimpanan mereka.


Memikirkan hal itu, Chen Li langsung mengumpati kebodohannya barusan. "Hanya tujuh buah koin emas ... kenapa begitu berat bagiku yah?" gumam Chen Li pelan.


Lalu mempercepat langkahnya mengejar Xiao Wang yang kini telah agak menjauh.


Xiao Wang dan Chen Li berniat mencari penginapan. Dikarenakan hari nampak telah mulai menggelap.


Beberapa saat berjalan, keduanya menemukan sebuah bangunan berlantai tiga. Di pintu masuk bangunan tersebut, terdapat sebuah tulisan 'Penginapan Bulan'. Tanpa pikir panjang, Xiao Wang dan Chen Li memasuki penginapan itu.


"Selamat datang di Penginapan Bulan, Tuan-tuan!" Seorang wanita mendatangi keduanya seraya mengeluarkan kata sambutan dengan ramah.


Xiao Wang kemudian meminta untuk di sediakan sebuah kamar, untuk mereka menginap malam ini.


Wanita itu mengangguk, setelahnya mengantar kedua anak itu untuk duduk di salah satu meja yang berada di sana.

__ADS_1


Tampak, lantai bawah bangunan itu ternyata adalah sebuah restoran. Sembari menunggu hidangan mereka datang, kedua anak itu bercakap-cakap kecil.


Tak lama setelahnya, beberapa orang pria dengan tubuh kekar dan bertato datang menghampiri meja Xiao Wang dan Chen Li.


"Anak kecil, dilihat dari pakaian yang kalian kenakan ... kalian pasti membawa banyak uang bersama kalian bukan?" Pria itu berkata sembari menampakkan seringai yang membuat wajah garangnya tampak semakin garang.


Baik Xiao Wang maupun Chen Li tak ada yang menghiraukan ucapan pria itu. Keduanya masih saja sibuk dengan bertukar kata.


Merasa di acuhkan, pria itu nampak mulai naik emosinya.


"Anak kecil, beraninya kalian mengacuhkan ku. Apakah kalian berdua tak menyayangi nyawa kalian, hah?" bentak pria tersebut.


Sejenak pandangan kedua anak itu menengadah, menatap bingung pria tersebut.


"Paman sedang berbicara dengan kami?" tanya Xiao Wang dengan menampakkan wajah polos.


"Tentu saja dengan kalian!" kesal salah satu pria berotot.


"Oh! Mohon maaf paman... Untuk saat-saat seperti ini, kami tidak ingin berbicara dengan orang lain. Paman bisa menemui kami, di lain waktu," ucap Chen Li.


"Cih, Bocah Sialan!" Salah satu dari tiga orang tersebut yang tak bisa menahan kesal, lantas mengarahkan tinjunya ke arah Chen Li.


Begitu terkejut ketiga pria itu, ketika melihat tinju tersebut dapat di tahan oleh Chen Li dengan menggunakan sebelah tangannya.


Chen Li kemudian membalas meninju kepalan tinju pria tersebut.


Bunyi retakan dapat terdengar jelas dari tangan pria berotot yang sebelumnya melayangkan tinjunya ke arah Chen Li.


Sontak saja, semuanya sampai di buat tak percaya dengan pemandangan yang mereka lihat. Seorang anak kecil yang terlihat polos, ternyata lebih ganas dari seekor harimau.


Pria itu meringis kesakitan, sembari memegangi lengannya yang dirasa tulangnya telah remuk.


Dua temannya tak tinggal diam. Mereka juga turut menyerang dua anak itu. Sayangnya nasib mereka tak beda jauh dengan teman mereka. Kedua lengan mereka patah oleh kedua anak itu.


Rintisan kesakitan terdengar dari mulut ketiga orang itu.


"Paman, jika Paman bertiga tak lekas meninggalkan tempat ini, mungkin kami akan membuat tubuh kalian hancur, seperti dua Langan paman-paman." Chen Li berkata dengan nada mengancam.


Tanpa bisa mengelak, ketiga orang itu lantas bergegas meninggalkan penginapan tersebut.

__ADS_1


Beberapa orang yang melihat kehebatan dua anak itu tak bisa untuk tak membicarakan keduanya. Meski pembicaraan mereka dapat di dengar oleh Xiao Wang juga Chen Li, namun kedua anak itu merasa bodoh amat.


Tak berapa lama, makanan mereka telah datang, keduanya pun makan dengan lahap. Tanpa kedua anak itu sadari, beberapa pasang mata telah memperhatikan mereka dari lantai atas.


__ADS_2