
Xiao Wang, Chen Li serta kedua gadis cantik seumuran dengan keduanya melompat, menghindari Wilayah pusaran tanah. Namun, entah mengapa mereka seperti merasakan sesuatu yang menarik paksa mereka ke dalam pusaran.
Keempatnya sama-sama berhenti di udara. Berusaha melawan energi yang menghisap mereka untuk masuk ke dalam pusaran tersebut.
Sekuat apapun Xiao Wang, Chen Li serta kedua gadis cantik melawan arus, namun mereka tetap tak bisa mengalahkan energi tersebut.
Hingga pada akhirnya, keempat anak itu terhisap. Masuk ke dalam pusaran tanah.
"Aaaahhh!"
"Aaahhhh!"
"......"
Baik Xiao Wang, Chen Li juga kedua gadis cantik tersebut berteriak. Berusaha memberontak pun rasanya sia-sia belaka.
***
"Uhuk–uhuk!"
Xiao Wang terbatuk-batuk. Pemuda itu bangkit sembari memegangi kepalanya yang sedikit pusing. Otak pemuda itu belum terlalu bekerja dengan sempurna, sehingga ia hanya bisa memperhatikan sekelilingnya dengan raut wajah dungu.
Tiga detik berlalu. Xiao Wang tersentak kala ia menyadari sesuatu.
__ADS_1
"Tempat apa ini?" Memperhatikan area sekitar sembari berusaha mengingat kejadian yang menimpa dirinya Sebelumnya.
Ruang tempat ia berada saat ini dipenuhi dengan dinding batu. Sepertinya pemuda itu saat ini tengah berada di sebuah ruang bawah tanah. Dengan beberapa obor yang menyalakan api terlihat di beberapa pilar penyangga serta dinding.
"Tunggu .... Chen Li? Dimana anak itu?" Xiao Wang langsung mencari keberadaan Chen Li. Namun tak ia temukan keberadaan pemuda itu.
Bangkit dari posisinya, Xiao Wang mulai berjalan mengitari sekitar.
"Uhuk! ... Uhuk!"
Suara seseorang yang tengah batuk dapat Xiao Wang dengar. Suaranya nampak seperti seorang wanita. Cepat-cepat Xiao Wang bergegas menuju kearah dimana suara tersebut berasal.
Beberapa meter dari tempatnya, Xiao Wang melihat seorang gadis bergaun putih yang sebelumnya sempat ia temukan bersama Chen Li.
"Kau tak apa?" tanya Xiao Wang, sembari sedikit menjongkok. Hendak membantu gadis tersebut berdiri.
Sontak gadis bergaun putih tersebut langsung menoleh ke arah Xiao Wang. Cukup lama mata keduanya bertemu. Entah apa yang dirasa kedua anak itu.
"E-eh! A-aku baik-baik saja!" salah tingkah gadis tersebut, seraya membuang muka. Wajahnya mendadak memerah merona. Kalau saja suasana ruang yang tampak temaram, mungkin saja Xiao Wang akan melihat raut wajah Gadis tersebut.
Gadis itu kemudian berdiri, dengan tanpa menoleh ke arah Xiao Wang.
"Kau kenapa, Nona?" tanya Xiao Wang kala melihat tingkah gadis di hadapannya ini yang begitu aneh.
__ADS_1
"E-eh, a-aku baik-baik saja!" jawabannya cepat sekaligus gugup.
"Hmm!"
"Tempat apa ini? Di mana kita berada saat ini?" Gadis tersebut berusaha mengalihkan perhatian.
"Entahlah!" Jawab Xiao Wang singkat. "Eh, omong-omong ... siapa namamu?" tanya Xiao Wang.
"Bi-bing Meigui!" kembali gadis tersebut memalingkan muka.
Setelah bercakap-cakap sebentar, Keduanya pun memutuskan untuk berjalan menelusuri ruang bawah tanah tersebut. Juga sekalian mencari Chen Li serta gadis bergaun hitam.
Berjalan hingga beberapa saat, Xiao Wang serta Bing Meigui menemukan sebuah lorong. Kembali keduanya melanjutkan langkah kearah lorong tersebut.
Beberapa saat, mereka menemukan lorong tersebut yang bercabang tiga.
"Ke arah mana kita akan berjalan?" tanya Bing Meigui.
Xiao Wang tak menanggapi, ia memperhatikan tiga cabang lorong di hadapannya.
"Tunggu, sebentar!"
Xiao Wang mulai berjongkok. Kedua telapak tangan menyentuh tanah. Mata Xiao Wang terpejam. Energi biru muda mulai merembes dari tubuhnya. Setelahnya muncul benang-benang energi berwarna biru muda. Memanjang dan semakin memanjang benang-benang tersebut. Bergerak cepat kearah tiga lorong.
__ADS_1