
Jenderal Shen Lou kian kesusahan dalam meladeni setiap lesatan pedang Wan Li yang semakin lama semakin berat. Tak hanya itu, dirinya juga menyadari bahwa kultivasi pria dengan penutup wajah ini berada beberapa tingkat di atasnya.
Di sisi lain, Wan Li memasang seringai sinis kala melihat raut wajah Jenderal Shen Lou. Ia berinisiatif untuk menambah kecepatan pola serangnya. Menciptakan beberapa luka berat pada tubuh lawan, lalu melepaskan pedang dari genggaman tangan lawan.
Pedang yang ada pada genggaman tangan Jenderal Shen Lou terlempar dan menancap mulus pada lantai. Melihat hal itu, Jenderal Shen Lou semakin khawatir. Perlahan tapi pasti ia berusaha menghindar dari pertarungan. Namun Wan Li tak ingin membiarkannya begitu saja.
Dengan memamerkan pedang Naga Api-nya, Wan Li berjalan perlahan-lahan mendekati Jenderal Shen Lou.
"Jangan kau pikir setelah pertarungan dua tahun lalu, kau bisa kembali kabur kali ini."
Wan Li semakin mendekati jenderal Shen Lou.
"Dua tahun lalu?" Jenderal Shen Lou berhenti bergerak. Ia mencoba mengingat kembali kejadian dua tahun lalu.
"Ya, dua tahun lalu. Saat Pertempuran Besar antar aliran putih-netral melawan ras iblis dengan di bantu aliran Hitam... Hais, hanya orang gila yang akan melupakan kejadian dua tahun lalu!" sinis Wan Li.
Jenderal Shen Lou tersentak mendengar perkataan pria dengan penutup wajah itu terkait kejadian dua tahun lalu. Siapa yang akan melupakannya?
Mata Jenderal Shen Lou mendadak terbelalak kala ia mengingat sesuatu.
"Ka-kau... Wan Li!?" Jenderal Shen Lou berkata dengan sedikit gugup.
Baru kemarin ia mendengar kabar bahwa Wan Li telah di bebaskan oleh dua orang anak kecil berkekuatan mengerikan. Dan sekarang ia menyadari bahwa tiga orang yang mengenakan pakaian ninja ini adalah Wan Li serta dua orang anak kecil yang di maksud. Mengingat betapa mengerikannya kekuatan kedua anak itu.
"Tch, Akhirnya kau menyadarinya!" Wan Li membuka kain yang menutupi mulut serta setengah hidungnya.
Tampak sunggingan sinis terlihat dari bibir Wan Li. Setelahnya kembali ia mendekati jenderal Shen Lou.
Melihat Wan Li yang semakin mendekatinya, jenderal Shen Lou mulai tergetar. Kedua kakinya serasa lemas, sehingga membuat dia jatuh terduduk. Ia berusaha menendang-nendang lantai guna menghindar, namun sia-sia saja.
"A-apa yang kalian lihat, cepat bantu aku!" Perintah Jenderal Shen Lou pada para prajuritnya.
__ADS_1
Saat hendak maju, para prajurit tersebut mendadak menghentikan langkahnya kala mendengar perkataan Chen Li.
"Satu langkah lagi, maka ku pastikan kaki kalian akan patah setelahnya!" ucap Chen Li seraya memasang seringai jahat.
Di sisi lain, raut wajah Jenderal Shen Lou bertambah buruk saat melihat prajuritnya tak ada yabg bergerak membantunya. Wan Li sendiri semakin mendekat ke arahnya.
"Tak ada gunanya kau meminta tolong, Shen Lou. Dan juga ... Aku takut mengundang kemarahan Dewa Kematian serta Neraka karena terlalu lama menunda kematian-mu!"
Sunggingan di bibir Wan Li semakin di perlebar. Pedang Naga Langit ia angkat, berniat mengakhiri hidup Jenderal Shen Lou.
Shht!
Pedang tersebut terhenti beberapa inci sebelum memotong tubuh jenderal Shen Lou.
Sementara itu, jenderal Shen Lou memejamkan kedua matanya. Tak sanggup melihat pedang tersebut memenggal lehernya. Tak bisa di pungkiri, betapa kencang degup jantungnya kala itu. Namun beberapa saat menunggu, namun tak kunjung ia merasakan pedang tersebut mendarat di lehernya.
Dengan mengumpulkan segenap keberaniannya, Jenderal Sehun Lou membuka kedua matanya perlahan. Dapat ia lihat, tepat di atas ujung hidungnya yang agak mancung. Ujung pedang Wan Li berhenti.
Segaris luka dapat terlihat di pipi Jenderal Shen Lou, menciptakan segaris darah segar yang merembes keluar di sela-sela luka tersebut.
Tak berhenti sampai di situ, Wan Li kembali mendekati pria tersebut. Kembali tendangan Wan Li yang terlapisi sedikit Energi Qi menghantam keras perut Jenderal Shen Lou.
"Arkh!" ringisan sesaat dapat terdengar dari mulut lelaki itu. Setelahnya ia menatap Wan Li tajam.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Tak terima?" Wan Li berkata dengan nada menyindir. "Sudahlah, aku tak ada waktu untuk meladeni mu seharian!"
Wan Li berlalu dan menuju ke arah di mana ia meninggalkan Raja Chen Huang. Namun sesampainya di tempat dimana ia menendang Pria tersebut. Tak nampak lagi Raja Chen Huang di sana.
"Cih, Raja Sampah ini. Mau bermain petak umpet dengan ku!" Kedua ujung bibirnya terangkat.
"Wang'er ... Li'er! Awasi mereka. Jangan ada yang boleh meninggalkan tempat ini sebelum aku kembali!"
__ADS_1
Xiao Wang serta Chen Li saling berpandangan sesaat. Sebelum sama-sama mengangguk.
"Baik, Paman!" ucap keduanya kompak.
Sepeninggal Wan Li. Masing-masing kedua anak itu mengeluarkan Aura pembunuh yang begitu pekat. Tujuannya mengantisipasi tempat itu agar tidak ada yang berani kabur.
Benar saja. Semuanya tampak merinding kala merasakan dua aura pembunuh yang begitu pekat menyapa tubuh mereka. Bahkan untuk mengambil nafas saja sampai kesusahan.
Ibarat di perhatikan oleh mata merah darah milik Dewa Kematian, begitulah yang dirasa semuanya.
Di sisi lain, Wan Li saat ini tengah memperhatikan seorang pria dari atas atap. Pria tersebut mengenakan celana puntung, sedang tergesa-gesa menuju kandang kuda.
Seekor kuda ia naiki, setelahnya melesat dengan kecepatan tinggi, meninggalkan istana.
"Ckckck! Kau pikir bisa menghindar dariku, Raja Sampah. Dosa mu terlalu banyak. Begitu di sayangkan jika aku melepaskan mu begitu saja."
Wan Li menghilang dari tempatnya. Setelahnya muncul kembali tepat di hadapan Raja Chen Huang.
Sementara Raja Chen Huang yang memacu kudanya dengan kecepatan tinggi, mendadak mendapat tendangan telak di bagian kepalanya. Membuat dirinya terjatuh dari kuda dan terguling-guling di tanah. Kuda yang dikendarainya sendiri tetap berlari tanpa arah.
"Kurang ajar, siapa yang berani menyerang-ku secara diam-diam!" geram Raja Chen Huang sembari memegangi kepalanya yang bocor.
"Hahaha! Raja Sampah. Apakah kau pikir setelah apa yang kau lakukan sepuluh tahun lalu, aku akan membiarkan kau begitu saja!"
Wan Li mendadak muncul di hadapan Raja Chen Huang.
"Jenderal Wan Li. Ternyata kau yang melakukan pencabulan ini!" Raja Chen Huang menatap tajam Wan Li.
"Kenapa? Marah... Aku ingin lihat, sejauh mana kau bisa bertindak."
Wan Li menjambak rambut Raja Chen Huang. Setelahnya tamparan keras mendarat mulus di pipi pria tersebut.
__ADS_1
Wan Li terus saja menyiksa pria itu hingga beberapa saat. Setelah merasa puas, ia pun membawa lelaki itu kembali ke istana.