
Xiao Wang serta Chen Li memasuki istana kerajaan Api. Istana tersebut begitu luas, sehingga mereka tak tau pasti letak di mana Wan Li di tahan.
Keduanya pun mulai berpencar. Xiao Wang mengitari seisi istana, mencari ruang yang biasa di gunakan kerajaan untuk mengurung para pemberontak.
Ruang demi ruang, telah ia datangi. Namun tak kunjung ia menemukannya.
Waktu telah menunjukkan tanda-tanda malam akan datang.
"Sial!" decak kesal Xiao Wang. Bagaimana tidak, mencari dalam kekosongan, ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami. Sangat-sangat membosankan.
Saat melewati sebuah taman istana, Xiao Wang tak sengaja mendengar pembicaraan dua prajurit.
"Sial! Kenapa pemberontak tidak langsung di bunuh saja. Menyusahkan!"
"Meski kau mengumpati mereka, namun tetap saja mereka tak akan mendengar mu, jika kau mengeluh di sini."
"Hais!" Kesal. Pria tersebut melanjutkan berjalan, dengan kaki sedikit di hentakan.
"Sepertinya mereka hendak ke arah ruang bawah tanah, tempat para tahanan di kurung!" batin Xiao Wang.
Tanpa pikir panjang, Xiao Wang lantas mengikuti dua prajurit tersebut.
Berjalan mengendap-endap, Xiao Wang sampai di sebuah lorong bawah tanah.
"Aneh, kenapa di sini tidak ada penjaga? Apakah mereka terlalu meremehkan para tahanan!"
Xiao Wang membatin kala tak melihat satupun penjaga di sana. Memilih untuk tak memusingkannya, Xiao Wang lantas kembali melanjutkan perjalanannya.
Tiba-tiba, seseorang menarik tubuhnya, membawanya pada sebuah kegelapan. Xiao Wang memberontak, namun segera tenang kala mengetahui siapa yang menariknya tadi.
"Sssttt! Jangan berisik!" Chen Li berucap sembari berbisik.
"Li, Kau kah ini?" Xiao Wang melepas tangan Chen Li di mulutnya.
"Umm!"
__ADS_1
Keduanya terdiam dalam tempat sempit sekaligus gelap. Beberapa saat, Lewat beberapa prajurit dengan mengenakan obor sebagai penerang jalan. Tampak mereka sedang panik, dilihat dari langkah kaki mereka yang cepat.
"Apakah ini perbuatanmu?" tanya Xiao Wang setengah berbisik.
"Umm!" Kembali Chen Li mengangguk. "Kita harus bergegas, sebelum mereka kembali dengan membawa pasukan lebih banyak lagi.
Setelahnya, Chen Li menarik pergelangan tangan Xiao Wang, lalu melesat dengan kecepatan tinggi. Dalam sekejap, keduanya tak nampak lagi di sana.
Xiao Wang juga Chen Li menghentikan larinya, kala sampai pada ruang khusus para tahanan di kurung.
Satu per satu tahanan, keduanya perhatikan. Mencari seorang pria bernama Wan Li. Meski begitu, tetap tak mereka temukan keberadaan Wan Li.
Kebanyakan dari mereka adalah warga biasa yang tak mampu membayar pajak. Selain itu, ada juga yang di tahan hanya karena mencuri sepotong roti, demi bertahan hidup.
Semua itu bermula saat Raja Chen Huang memerintah. Tak ada lagi keadilan yang di dapat. Mereka yang memiliki banyak uang, maka akan adil setiap saat. Berbanding terbalik dengan mereka yang serba kekurangan.
"Tuan ... Tuan. Tolong keluarkan kami tuan!"
"Nak ... Nak! Aku mohon, anak istriku sedang menunggu kepulangan ku di rumah... Aku mohon keluarkan Aku dari sini, Nak!"
Berbagai permintaan belas kasih keluar dari mulut orang-orang tersebut. Namun tak satupun kurungan itu di buka oleh Xiao Wang dan Chen Li.
Bukan apa-apa, keduanya hanya menunggu waktu yang tepat saja. Saat ini mereka di kejar waktu, bisa saja saat mereka melepaskan para tahanan, tiba-tiba saja prajurit datang dengan membawa rombongan banyak. Kan repot jadinya.
Berjalan hingga beberapa saat, keduanya sampai di sebuah pintu, yang memisahkan ruangan tempat mereka berdiri, dengan ruangan sebelah.
Keduanya mendekati pintu tersebut. Dapat mereka dengar suara teriakan seseorang dari dalam. Tampak pria tersebut sedang di siksa.
Mendengar teriakan orang itu, Chen Li merasakan darahnya yang mendidih. Ia kenal betul pemilik suara itu yang tak lain adalah suara Wan Li.
Pintu yang terbuat dari kayu yang berkualitas tinggi itu, di tendangannya hingga hancur berkeping-keping. Tampaklah oleh Xiao Wang juga Chen Li akan apa yang terjadi di dalam sana.
"Paman!" sergah Chen Li.
Sementara mereka yang berada di dalam ruangan tersebut begitu terkejut saat mendengar suara pintu tiba-tiba saja hancur.
__ADS_1
"Anak kecil... Berani sekali kalian datang kesini. Apakah kalian tak menyayangi nyawa kalian?" Begitu sombong pria itu berucap, sampai-sampai ia telah melupakan bahwa pintu tersebut rusak akibat kedua anak itu.
"Paman, sebaiknya kalian lepaskan Paman Li ... setelahnya aku juga akan melepaskan kalian."
Chen Li maju selangkah demi selangkah, mendekati mereka.
"Ho-ho-ho, anak kecil! Apa yang membuatmu begitu percaya diri, bisa membebaskan pria tua ini!"
Pria tersebut kembali berkata dengan nada penuh sindiran. Besi panas ia angkat dari bara api, lalu meletakkan pada punggung Wan Li. Membuat jeritan kesakitan tak bisa tak keluar dari mulut Wan Li.
Melihat hal itu, Chen Li bertambah terpancing emosi. Busur Bulan tiba-tiba saja keluar dari ruang hampa. Dalam sekali kedipan mata, kepala lelaki yang sebelumnya meletakkan besi panas di punggung Wan Li tiba-tiba saja bocor.
"Kau yang meminta sebelumnya Pak Tua!" Chen Li berucap tanpa menoleh pria tersebut.
Langkah kakinya bergerak cepat ke arah Wan Li, yang kini telah di rantai kedua kaki dan kedua tangannya. Lelaki itu sendiri tak mengenakan pakaian, hanya celana puntung hitam yang ia kenakan, membuatnya tampak sangat menyedihkan. Badannya kini mulai kurus, seperti tak pernah ia di beri makan.
Seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat. Chen Li membuka besi yang menempel di punggung Wan Li. Asap mendadak menyembur keluar, sebelum akhirnya menyatu dengan udara. Bau daging matang dapat tercium dari punggung Wan Li, bekas besi panas tersebut.
Prajurit yang melihat tindakan Chen Li, segera bergerak ke arah anak itu. Namun Xiao Wang juga telah menunggu mereka. Tak butuh waktu lama, bagi Xiao Wang untuk melumpuhkan mereka semua.
Selesai melepas rantai di kedua tangan dan kaki Wan Li, Chen Li lantas memapah tubuh wan Li, dan membawanya keluar dari ruangan. Namun sebelum itu, Chen Li memberinya pil penghilang rasa sakit, serta pil pemulih Qi. Meski tak bisa menyembuhkan Wan Li sepenuhnya, tapi setidaknya 40% kekuatan Wan Li telah kembali.
Mereka berjalan mendekati pintu ruangan tersebut. Namun, belum juga mereka keluar, beberapa prajurit telah menghadang mereka.
"Sial! Kenapa mereka begitu cepat balik!" Chen Li tak bisa mengumpat.
"Li, kau bawa Paman Wan Li keluar, biar aku yang menghadapi mereka sendiri!" Xiao Wang yakin.
"Anak muda, meski kau memiliki kekuatan tinggi, namun sangat sulit menghadapi puluhan, bahkan ratusan orang ini!" Wan Li berkata dengan nada lirih.
"Kau tenang saja, Paman! Temanku ini bisa mengatasi semuanya." Chen Li meyakinkan Wan Li. Meskipun begitu, Wan Li tetap tak bisa tenang.
"Pergilah, Paman! Tunggu aku di luar istana," ucap Xiao Wang. Setelahnya ia menarik pedang yang tersarung rapi. Lalu melesat ke arah orang-orang di hadapan mereka.
"Hais! Anak ini begitu keras kepala... Uhuk–Uhuk! ... Ingat nak, jangan membunuh mereka. Karena biar bagaimanapun, mereka tetap prajurit kerajaan Api. Tak tahu apa-apa. Hanya melakukan apa yang di perintah oleh Chen Huang!" Kembali Wan Li berkata dengan intonasi lemah. Sembari memperingati Xiao Wang.
__ADS_1
"Kau tenang saja Paman! Aku akan mengingatnya!" Setelahnya, Xiao Wang kembali melesat kearah rombongan tersebut.