Perjalanan Menjadi Yang Terkuat

Perjalanan Menjadi Yang Terkuat
Ch. 60 ~ Nostalgia


__ADS_3

Chen Li terbangun di sebuah ruangan hampa. Tak ada satu kehidupan pun di tempat itu.


"Di mana ini?" Chen Li memegangi kepalanya yang sakit.


Pandangannya ia arahkan di sekeliling. Tampak gelap, tak ada setitik pun cahaya yang dapat ia saksikan.


Beberapa saat, sinar yang begitu terang tiba-tiba muncul dari kehampaan. Sangat terang sampai-sampai Chen Li di paksa untuk melindungi penglihatannya menggunakan lengan.


Dari cahaya menyilaukan itu, terlihat siluet dua sosok pria dan wanita. Chen Li mengintip di sela-sela jarinya, memperhatikan dua sosok tersebut.


Meski begitu, ia tak dapat melihat jelas wajah mereka.


"Nak!"


Sosok itu bersuara dengan bahana yang begitu menggema di tempat itu.


Sejenak, Chen Li tersentak mendengar panggilan dari sosok tersebut.


"Nak? Apa maksudnya itu. Apakah panggilan itu di tujukan pada ku?" Chen Li bertanya-tanya dalam hati.


"Nak... Tak ku sangka, beberapa tahun kami meninggalkan mu, sekarang kau telah menjadi sosok yang begitu kuat."


Dua sosok tersebut bergerak mendekati Chen Li. Saat itulah Chen Li bisa melihat wajah kedua orang itu. Wajah pria tersebut, persisi seperti wajahnya.


"A-ayah!" Chen Li tergemap, "A-apakah kau benar-benar ayah?"


Chen Li tampak tak percaya bahwa pria yang berdiri di sampingnya ini adalah ayahnya sendiri. Kemudian pandangannya ia tolehkan pada wanita cantik yang kini juga menatapnya lembut, sembari senyum tulus terukir di bibirnya.


"I-ibu? ... Apakah ini hanya mimpi?" Chen Li berusaha mencubit pipinya. Dan ia masih merasakan sakit, menandakan ia tidak sedang bermimpi.


"Kau tidak bermimpi, Nak! Ini memang nyata... Sekarang ayah dan ibu telah kembali, dan ingin menjemputmu." Pria yang tak lain adalah Chen Long itu memegangi punggung Chen Li. "Maukah kau ikut bersama kami?"


Chen Li menatap wajah ayahnya. Telah lama ia mendambakan sosok seorang ayah dan Ibu di sisinya. Saat melihat anak-anak sebayanya yang memiliki keluarga lengkap, ia juga ingin merasakan kehangatan sebuah keluarga.


Terkadang ia akan menyendiri di saat Wan Li sedang sibuk berburu binatang. Chen Li akan terlarut dalam nostalgia, yang membuatnya berandai-andai berada di samping ayah dan Ibunya. Di peluk manja oleh sang Ibu, lalu berlatih pedang bersama sang ayah.


Namun semua itu hanyalah sebuah nostalgia yang tak pernah ia capai dalam hidupnya. Mengingat kedua orang tuanya telah pergi jauh meninggalkan Chen Li.


Kali ini, tepat di hadapannya. Dua sosok yang paling dia nanti sejak kecil, kini berdiri tegak di hadapannya. Tak bisa di pungkiri, betapa senang Chen Li melihat langsung wajah keduanya.

__ADS_1


"Baik, Ayah! Aku akan mengikuti kalian!" ucap Chen Li cepat. Tak ingin dia kehilangan untuk yang kedua kalinya.


Chen Long dan Lin Ra tersenyum tulus mendengar kesungguhan hati anak mereka.


Setelahnya, mereka memegangi tangan Chen Li, membawanya terbang menuju cahaya menyilaukan. Hingga mereka menghilang, di telan cahaya tersebut.


"Nak! Nak Li, Bangun. Ini sudah pagi!" Chen Li merasakan tangannya di tepuk-tepuk oleh seseorang.


Matanya ia buka perlahan. Cahaya menyilaukan menyambut penglihatannya. Cahaya itu berasal dari cahaya matahari yang berhasil lolos dari lubang kecil di atap jerami.


Chen Li melihat sekeliling. Rumah yang sangat sederhana, namun entah mengapa ia merasa begitu nyaman. Di sampingnya, Chen Li melihat seorang wanita yang tidak lain adalah Ibunya, sedang menatapnya lembut.


"I-ibu? Kau ibuku bukan?" Chen Li bertanya, kepada wanita tersebut.


"Hais, kenapa kau melupakan ibumu sendiri." Lin Ra berkata cemberut.


Chen Li menjadi bingung dengan keadaan yang dihadapinya. Bukankah tadi ia sedang di alam hampa, kenapa sekarang dia malah berada di dalam gubuk ini?


"E-eh, ma-maafkan aku Bu. Li hanya bercanda!"


Chen Li menghampiri ibunya.


"Sudah, tak usah di pikirkan. Lekas mandi setelah itu sarapan."


"Ah, bodoh ah. Yang terpenting ibu dan ayah baik-baik saja."


Chen Li beranjak, mengambil handuk yang berada di sampingnya. Lalu menuju kamar mandi.


Selesai mandi dan mengganti pakaiannya, Ia langsung ke meja makan. Di sana telah ada Chen Long dan Lin Ra menunggunya.


Lin Ra mengambil piring, lalu menyendok nasi dan lauk, kemudian menyerahkan pada Chen Li.


"Makan yang banyak, Nak. Supaya kau cepat besar!"


"Terima Kasih, Bu!"


Chen Li merasa sedikit aneh. Pandangannya ia arahkan pada kedua orang tuanya, yang tampak begitu lahap menyantap makanan. Entah mengapa ia begitu merasa nyaman melihat wajah keduanya.


"Kenapa kau diam saja. Habisi makananmu, sebelum di makan angin," ujar Chen Long.

__ADS_1


"Ba-baik, Ayah!"


Chen Li kemudian juga ikut menyantap makanannya.


Hari-hari berlalu begitu cepat. Siang itu, Chen Li bersama ayah dan Ibunya tengah duduk di balai-balai bambu di teras rumah. Seperti biasa mereka akan bercerita sembari menikmati angin siang yang mengelus lembut tubuh mereka.


Chen Li yang larut dalam dongeng ayahnya, tiba-tiba salah menangkap asap hitam di balik batang pohon tak jauh dari mereka.


Sontak ia langsung berdiri. Mengamati kembali batang pohon tersebut dengan seksama.


"Ada apa, Nak?" tanya Lin Ra yang sedikit terkejut kala melihat Chen Li yang mendadak berdiri.


Mengalihkan pandangan ke arah ibunya, Chen Li lantas berucap, "Tidak ada Bu!" Kembali Chen Li duduk, sambil menyandarkan punggungnya pada bilik papan rumah.


Pikirannya melayang entah ke mana.


"Aku yakin tadi itu memang asap hitam. Tapi apa maksud dari asap hitam itu?" Chen Li mulai merasakan hal-hal yang ganjil.


Pandangannya ia alihkan pada Chen Long dan Lin Ra. Tak ada yang aneh. Semuanya tampak normal.


"Apakah aku melupakan sesuatu?"


Chen Li memegangi dagunya, berusaha mengingat akan apa yang telah di lupanya. Namun sekeras apapun ia berusaha mengingat, tetap saja tak ada yang ia ingat.


"Ada apa, nak?" tanya Lin Ra kembali.


Chen Li menoleh wajah ibunya. "Tidak ada!" Jawab Chen Li sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Beberapa saat dalam ketenangan, tiba-tiba saja rumah mereka bergetar hebat. Segera ketiganya melompat ke tanah lapang, takut rumah yang terbuat dari kayu itu rubuh.


"Apa yang terjadi?"


Tanah tempat mereka berpijak mendadak menimbulkan keretakan. Seiring dengan berjalannya waktu, getaran semakin terasa kencang. Retakan pada tanah juga kian membesar, menimbulkan celah yang berbentuk jurang yang dalam.


Chen Long serta Lin Ra tak bisa menyeimbangkan tubuh, sehingga keduanya terjatuh dalam jurang tersebut. Beruntung Chen Li bereaksi cepat dengan menarik lengan Chen Long, yang saat itu juga memegangi tangan Lin Ra.


Di tepi jurang, Chen Li berusaha sekuat tenaga menarik Chen Long, keluar dari jurang tersebut.


"Apakah aku melupakan sesuatu?" kembali pertanyaan itu muncul di benaknya.

__ADS_1


Chen Li menatap Chen Long yang saat itu tak berhenti meminta bantuannya. Sementara Lin Ra tampak begitu ketakutan di bawah sana.


Melihat hal itu Chen Li menjadi tidak tega. Kembali ia berusaha menarik tangan Chen Huang. Namun lagi-lagi Pertanyaan itu muncul di benaknya, membuat pikiran Chen Li terasa kacau.


__ADS_2