Perjalanan Menjadi Yang Terkuat

Perjalanan Menjadi Yang Terkuat
Ch. 68 ~ Merekrut Pasukan Kerajaan Angin


__ADS_3

Berjalan di atas kepala prajurit yang bertarung. Tak butuh waktu lama bagi Wan Li untuk menyusul Jenderal Mui Wu.


Satu tendangan darinya, menghantam telak kepala pria itu, membuat Jenderal Mui Wu terguling-guling di tanah.


Wan Li sendiri mendarat di tanah tepat di hadapan Mui Wu. Pedang panjang ia arahkan pada kepala pria itu.


Mui Wu mendongak. Nafasnya tertahan kala melihat bilah pedang tersuguh tepat di depan matanya.


"Kau pikir bisa lari dari ku, setelah apa yang dirimu dan kerajaanmu lakukan?" tekan Wan Li.


Mui Wu agak sedikit gentar. "Eh-eh, Jenderal Wan Li. Kita bisa bicarakan ini baik-baik. B-Bukan kah kau telah di khianati oleh Raja Chen Huang? K-kenapa kau sekarang malah membantunya?"


"Tch, Kau tidak mengetahui sesuatu tentang Kerajaan Api rupanya... Baiklah, karena kau akan mati, maka aku akan memberitahumu sedikit rahasia tentang Kerajaan Api!" Wan Li menurunkan pedangnya.


"Raja Chen Huang serta Jenderal Shen Lou sekarang telah ku tahan di penjara bawah tanah. Dan sekarang Kerajaan Api telah kembali kepada pemimpin sah-nya!" Wan Li mengangkat pedangnya, menunjuk pada satu arah. "Lihatlah! Pemuda dengan gagah berani membantai habis-habisan anggota pasukan kalian! Dialah keturunan dari Raja Chen Huang. Calon Raja Kerajaan Api!"


Mui Wu mengarahkan pandangannya ke arah yang di tunjuk pedang Wan Li. Seorang anak kecil dapat ia lihat membantai pasukan kerajaan Angin, tanpa mendapat perlawanan berarti. Bahkan cara anak itu membunuh begitu sadis.


Dia menelan ludahnya. Sebisa mungkin ia mencoba untuk bernegosiasi kembali.


"J-jenderal Wan ...."


Belum juga Jenderal Mui Wu menyelesaikan kalimatnya, Wan Li telah lebih dulu memotongnya.


"Tak perlu tercengang seperti itu. Aku tau tuan Muda kami memang sangat hebat, bahkan di usianya yang begitu mudah, telah banyak merenggut nyawa." Wan Li berkata dengan bangga dengan sedikit di bumbui nada kesombongan.


Jenderal Mui Wu merasa jijik mendengar ucapan pria itu.


"Tch!" membuang ludah.


"Sayang sekali, Raja Neraka telah menantimu di sana. Aku takut jika terlalu lama menunda kematian-mu, Dewa Kematian serta Raja Neraka akan murka. Dan tentu saja siksaan yang akan ku terima di neraka akan lebih pedih lagi, karena membuat kedua orang itu kesal."


Satu kali tebasan pedang Wan Li, langsung mengakhiri hidup jenderal Mui Wu.

__ADS_1


Beberapa prajurit kerajaan Angin yang melihat salah satu jenderal mereka terbunuh menjadi khawatir. Semangat untuk bertempur kini mulai ciut. Di tambah dua jenderal yang lainnya juga nampak kesusahan dalam meladeni dua anak kecil di sana.


"Bagaimana ini?"


"Kita tidak mungkin bisa menang!"


"Apakah kau meragukan kemampuan kita. Lihatlah! Anggota pasukan kerajaan Angin begitu banyak, sedang lawan? Hanya beberapa ratus saja."


"Masalah jumlah tidak menentukan kau akan menang. Dalam hitungan detik, telah ratusan prajurit di pihak kita yang tewas. Aku yakin, tidak lama lagi giliran kita."


Beberapa prajurit mulai berbisik-bisik sembari memikirkan akan tindakan apa yang akan mereka tempuh. Menyerah atau melawan hingga titik darah penghabisan.


Ingin menyerah, namun dua Jenderal kerajaan Angin yang tersisa masih hidup. Tepat setelah dua jenderal tersebut di bunuh oleh Xiao Wang serta Chen Li, Beberapa prajurit pun mulai melepaskan senjata. Berlutut, sembari mengucapkan kata menyerah. Berharap, dengan begitu kerajaan Api akan melepaskan mereka.


"Cih! Setelah apa yang kalian rencanakan, Kalian berharap bisa mendapat pengampunan dari Kami. Sayangnya, aku Chen Li, terlalu naif untuk membiarkan kalian begitu saja!"


Chen Li mengangkat busurnya. Melepaskan tiga anak panah berapi yang langsung melesat dengan kecepatan tinggi.


Beberapa saat sembilan orang prajurit terbaring dengan kepala yang bocor. Prajurit yang berada di dekat prajurit-prajurit yang terbaring itu begitu tertegun melihat teman mereka tersebut.


Prajurit-prajurit yang lain menjadi khawatir. Menyerah tak berguna, kabur tak berguna. Menyerang pun sama saja. Mati! setidaknya itulah yang akan menimpa mereka.


Beberapa diantaranya mengambil kembali pedang, lalu berlari kearah Chen Li serta Xiao Wang. Hendak kembali menyerang kedua anak itu. Namun belum juga beberapa langkah, badan mereka telah terbelah.


Tidak hanya pasukan kerajaan Angin, bahkan pasukan dari kerajaan Api ternganga mulut serta mata mereka melihat kejadian yang menimpa orang-orang itu


"Bagaimana ini?"


"Entahlah!"


Tidak ada yang berani bergerak. Takutnya salah langkah, dan malah membahayakan nyawa mereka.


Melihat hal itu, Wan Li tak tinggal diam. Ia mendekati Chen Li.

__ADS_1


"Li'er, jangan terlalu bengis. Berikan mereka kesempatan!" Wan Li memegangi pundak Chen Li.


"Paman tidak ada untungnya membiarkan mereka hidup." Chen Li membela.


"Setidaknya, kalau kau membunuh semua prajurit ini, Kerajaan Angin akan kehilangan kekuatan."


"Hais, apa peduliku. Lagipula tujuan awal mereka adalah menguasai kerajaan Api..." Chen Li menghentikan ucapannya, kala sebuah ide gila muncul di benaknya.


"Ah, aku tau!" Chen Li memasang seringai licik.


"Apa yang kau rencanakan?" tanya Wan Li penuh selidik.


Chen Li tak menjawab. Ia melangkah beberapa langkah ke depan.


"KALIAN YANG MENGABDI PADA KERAJAAN API, AKAN AKU LEPASKAN!" suara Chen Li menggema layaknya Guntur.


Wan Li membelalakkan matanya. Begitu gila. Bagaimana bisa pasukan kerajaan Api merekrut pasukan kerajaan Angin untuk di jadikan Prajurit.


Namun bagi Chen Li, ide itu tidak salah Sama sekali.


"Apakah kau bodoh. Berani sekali kau merekrut kami." Salah seorang prajurit berkata dengan nada tinggi. Tampak jelas pria itu sedang marah.


"Siapa yang merekrutmu? Yang aku inginkan, hanya mereka yang memiliki niat hidup. Jika tak mau, maka tidak ada jalan lain yang bisa kalian tempuh. Selain kematian."


Semuanya tampak diam, bisikan demi bisikan terdengar dari beberapa prajurit.


"Jangan terpancing dengan ancamannya. Jumlah kita banyak. Jika kita kabur, dia tidak akan bisa membunuh kita semua!" ucap salah satu prajurit.


"Kau bisa mencobanya,." Chen Li menyimpan Busur Bulan lalu melipat kedua tangan di depan dada.


Pasukan kerajaan Angin saling berpandangan. Sebelum akhirnya sama-sama menganggukkan kepala. Dengan menggunakan salah seorang diantara mereka untuk berkomando. Dalam hitungan tiga, semuanya pun lantas berdiri dan berlari.


Namun semuanya lantas menghentikan langkah kala merasakan suatu tekanan dibarengi dengan aura yang begitu menakutkan menyapa tubuh mereka.

__ADS_1


Aura merah terkumpul di belakang Chen Li serta Xiao Wang. Dan membentuk dua sosok jahat bertanduk. Dengan seringai sinis, dua sosok itu memandangi para prajurit yang berniat kabur. Melihat dua sosok itu, Para prajurit tak bisa lagi membendung rasa takut mereka. Sebuah ilusi yang terasa begitu nyata. Sosok Raja Neraka serta Dewa Kematian dapat mereka lihat di belakang kedua anak tersebut. Beberapa diantaranya tak bisa menahan diri, hingga membuat mereka pingsan. Yakin dan percaya setelah ini, mereka akan mengalami gangguan mental.


Tidak hanya Pasukan kerajaan Angin, bahkan prajurit kerajaan Api serta Wan Li sekali pun dapat merasakan pekatnya aura itu. Yang membedakannya, mereka tak dapat melihat apa yang di lihat Pasukan Kerajaan Angin barusan.


__ADS_2