
Chen Li mengernyit kala berhasil mengingat sesuatu.
"Xiao Wang? Paman Li? Di mana mereka? Kenapa aku bisa berada di tempat ini." Chen Li tampak bingung.
Kembali ia menoleh ke bawah, dimana ayah serta ibunya saat ini sedang ketakutan. Menunggu dirinya menyelamatkan keduanya.
"Ilusi ... Ini hanyalah ilusi."
Chen Li mulai sadar akan keadaan sekitar. Melihat ke arah Chen Long dan Lin Ra yang tampak begitu ketakutan di bawah sana.
"Maafkan aku, Ayah—Ibu... Meski aku begitu merindukan kalian, tapi aku harus melepaskan kalian demi sebuah tugas." Chen Li berkata lirih.
Dengan berat hati, tangan yang menggenggam erat tangan ayahnya Chen Li lepas.
Dapat ia lihat Chen Long dan Lin Ra terjatuh, sembari teriakan juga terdengar dari mulut keduanya. Melihat hal itu, Chen Li merasa paling berdosa, telah membiarkan kedua orang tuanya sendiri terjatuh ke dalam jurang itu. Air matanya terjatuh ke bawah jurang tersebut.
"Tunggu! Jika di ingat-ingat, membiarkan ayah serta ibu terjatuh ke dalam jurang belum lah sebanding dosanya dengan membunuh orang-orang sebelumnya. Apalagi ini hanyalah ilusi!" Chen Li berujar seraya tangannya menghapus sisa-sisa air matanya.
Chen Li bangkit. "Bagaimana caranya aku keluar dari ilusi ini?" Chen Li berjalan menuju pohon besar, tempat ia melihat asap hitam sebelumnya.
Busur Bulan, ia keluarkan dari cincin ruangnya. Setelahnya satu buah anak panah berapi ia lepas dan menghantam pohon tersebut.
Baamm!
Pohon besar meledak, mengeluarkan asap hitam yang sebelumnya Chen Li lihat. Asap tersebut bergerak cepat di udara, beberapa saat ia mulai berhenti dan membentuk sosok pria berjubah hitam.
"Hahaha! Anak kecil... Aku tak menyangka kau bisa menyadari semuanya dalam waktu singkat, mengingat usiamu yang begitu muda!"
Pria berjubah itu berkata diiringi tawa yang menggelegar.
Chen Li yang melihat pria berjubah hitam, langsung memasang sikap waspada.
"Siapa Kamu! Keluarkan aku dari ilusi ini!"
Chen Li menyiapkan busurnya, bersiap siaga dengan kemungkinan yang akan terjadi.
"Hohoho, kau ingin keluar dari dunia ilusi ini. Tak semudah itu anak kecil!" Pria tersebut berkata dengan nada penuh sindiran.
Setelahnya ia melesat ke arah Chen Li. Sayangnya ia tak mengetahui bahwa kekuatan Chen Li saat ini beberapa tingkat lebih tinggi di atasnya.
__ADS_1
Chen Li menyambut lawan dengan tenang. Anak panah berapi yang tadi ia siapkan, langsung dia lepas. Melesat dengan kecepatan tinggi, anak panah tersebut hampir saja mengenai lawan, namun pria berjubah masih bisa menghindarinya.
Kembali Chen Li melesat menerjang ke arah pria tersebut. Pertarungan tak dapat terelakkan antar keduanya.
Busur bulan di genggaman Chen Li berputar-putar, menimbulkan bunyi angin. Setelahnya bertemu dengan pedang lawan.
Tak berhenti sampai di situ, Chen Li kembali memainkan busurnya dengan lihai sekaligus gesit, membuat lawan kian kesusahan dalam meladeni setiap lesatan busur Chen Li.
Selang beberapa saat, keduanya mengambil jarak. Terlihat, tangan pria berjubah yang kini mulai bergetar. Kebas. Ia tak sanggup lagi memegangi pedangnya. Serangan yang di lancarkan Chen Li barusan terlalu kuat. Sampai-sampai untuk menangkisnya, dia harus mengeluarkan Qi dengan jumlah banyak.
Pria tersebut berdecak kala melihat Chen Li yang kini mulai kembali melesat ke arahnya. Mau tak mau, pedangnya kembali ia raih, lalu menyambut serangan Chen Li.
Tampak Chen Li semakin ganas dalam menyerang Pria tersebut habis-habisan. Kali ini anak itu tak membiarkan jeda sedikitpun terjadi.
"Maafkan aku Pak Tua. Tapi aku harus mengakhiri hidupmu sekarang. Dan Juga, terima kasih karena kau telah mempertemukan aku bersama dengan ayah beserta ibuku."
Selesai mengatakan itu, Chen Li melibaskan keras pedangnya dan langsung memotong pedang lawan beserta lehernya.
Tubuh tanpa kepala pria tersebut masih saja berdiri tegak hingga beberapa saat. Sebelum akhirnya ambruk di tanah.
Tak berapa lama, tubuh beserta kepala pria tersebut menjadi debu hitam. Tak hanya itu, bahkan sekeliling Chen Li juga mulai merubah menjadi debu hitam.
***
Wan Li yang di kelilingi oleh debu hitam mulai tak bisa mempertahankan kesadarannya lebih lama. Sebisa mungkin, dia mencoba melepaskan diri dari debu-debu hitam yang semakin liar menggerogoti dirinya.
Beberapa saat, kesadarannya berangsur-angsur menghilang. Matanya tampak berat untuk di buka. Tubuhnya terdiam lesu seperti raga tanpa jiwa.
Detik-detik terakhir menjelang kehilangan kesadarannya, tiba-tiba saja liontin giok yang menggantung di leher Wan Li mengeluarkan cahaya berwarna merah. Setelahnya debu-debu hitam yang mengelilingi Wan Li mulai terserap habis ke dalam liontin itu.
"Apa?"
Terbelalak mata pria berjubah hitam kala melihat semua kabut ilusi yang ia cipta terhisap habis ke dalam liontin giok itu. Saking kagetnya ia, sampai-sampai dirinya tak sadar kalau wajahnya telah kelihatan setelah sebelumnya tertutupi oleh cadar. Beruntung tak ada yang sadar dengan Wan Li yang setengah sadar waktu itu.
Belum sempat ia selesai dengan keterkejutannya mendadak ia merasakan nyeri di dada kirinya. Setelahnya memuntahkan darah hitam.
"Sial! Salah satu tubuhku telah hancur di alam ilusi."
Tepat perkataan itu selesai di ucap, kembali pria berjubah hitam merasakan rasa nyeri di bagian dada kanannya. Kembali darah hitam lolos dari mulutnya, untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
"Apa? Satu lagi!"
Kini kekuatannya berkurang 60 persen. Pria itu berlutut sembari memegangi dadanya.
"Aku harus kabur sebelum semuanya sadar!" gumam pria itu. Dia bangkit dari sikap berlutut, berniat meninggalkan tempat itu.
"Apa yang membuatmu begitu terburu-buru untuk meninggalkan tempat ini?"
Wan Li tiba-tiba saja berada di hadapannya dengan pedang yang ia letakkan di leher pria berjubah hitam.
Kontan, pria tersebut tak berani melangkah. Bahkan napasnya pun ia tarik pelan-pelan. Salah gerak, nyawanya bisa melayang saat itu juga.
"Aku penasaran... Siapa yang menyuruhmu untuk menyerang kami?" tanya Wan Li.
"A-ampun Tuan! Ti-tidak ada yang menyuruhku. Semua ini aku lakukan atas dasar kemauan ku sendiri!" Pria tersebut berkata dengan nada sedikit bergetar. Kakinya pun juga tak berhenti bergetar.
Wan Li memicingkan mata.
"Kalau begitu, apa motif mu menyerang kami secara diam-diam?" Wan Li bertanya seraya menekan perkataannya.
Pria itu tak menjawab. Dia terlalu bingung memikirkan jawaban yang tepat agar Wan Li bisa melepaskannya.
"A-aku ... A-aku! A-aku...."
Slash!
Kepala pria tersebut langsung terpotong.
"Terlalu lama! Aku tak ada waktu untuk meladeni mu!"
"Paman Li!"
Wan Li sedikit terkejut mendengar suara itu. Ia lantas menoleh ke arah ranjang.
"Eeh, Li'er! Kau sudah bangun?"
Chen Li mengangguk. Tak lama setelahnya, Xiao Wang juga terbangun dari mimpi indah sekaligus buruknya.
"Paman, sebenarnya apa yang telah terjadi?" tanya Xiao Wang kala melihat di sekitarnya yang di penuhi kabut hitam.
__ADS_1