
Membutuhkan waktu hingga dua hari, sebelum Xiao Wang dan Chen Li selesai menyerap satu dari dua kristal roh Siluman Suci. Qingshui dan Dianhuo menyuruh mereka untuk berhenti menyerap kristal yang satunya, guna membiasakan diri dengan kekuatan yang baru saja mereka dapat.
Setelah beristirahat selama satu hari, kedua anak itu kembali melanjutkan proses penyerapan kristal roh Siluman Suci.
Tepat dua hari kemudian. Kedua pemuda itu telah kembali menyelesaikan menyerap kristal roh tersebut.
Baik Xiao Wang maupun Chen Li merasakan kekuatan mereka bertambah. Meski belum menerobos ke tingkatan selanjutnya. Setidaknya mereka bisa merasakan jika bertarung melawan kultivator dengan kultivasi satu sampai dua tingkat di atasnya, mereka masih bisa mengimbangi bahkan memiliki peluang mengalahkannya.
"Akhirnya, kalian telah menyelesaikan penyerapan dua kristal roh itu. Sekarang beristirahatlah! Besok latihan kalian akan dilanjutkan," ujar Qingshui.
Chen Li mengangguk. "Baik!"
Saat hendak melangkah, Xiao Wang tiba-tiba teringat akan sesuatu yang dia temukan ketika dirinya terhempas kedalam kolam oleh ekor siluman Naga.
"Ada apa?" Chen Li bertanya ketika melihat Xiao Wang menghentikan langkahnya.
Xiao Wang melirik Chen Li sesaat sebelum menceritakan tentang sebuah telur naga yang berada di dasar kolam air terjun kepada mereka bertiga.
Qingshui tampak berpikir sejenak. "Baguslah kalau begitu. Telur dari hewan legendaris ketika menetas bisa langsung menjadi Siluman Suci. Telur itu sangat bagus untuk dijadikan sebagai hewan peliharaan," papar Qingshui.
"Karena telur itu berasal dari siluman dengan roh unsur elemen api, maka telur itu tidak cocok untuk Xiao Wang yang memiliki roh unsur elemen air." Dianhuo menoleh Chen Li. "Telur itu lebih cocok pada Chen Li!"
Kedua anak itu mengangguk.
Xiao Wang melepaskan pakaiannya. Kemudian dia menceburkan diri ke dalam kolam air terjun yang kini sedikit tercemar oleh darah Siluman Naga.
Beberapa saat Xiao Wang kembali muncul. Pemuda itu berenang ketepian. Selesai mengekanan pakaian, lelaki itu kemudian mengeluarkan sebuah telur yang memancarkan aurah merah panas.
Telur tersebut sedikit bersinar. Chen Li memandangi telur itu dengan tatapan sedikit kagum.
"Terima kasih!" Chen Li menerima telur tersebut dengan senang hati ketika Xiao Wang menyerahkan padanya.
"Sama-sama!" Xiao Wang sambil tersenyum.
"Chen Li, kau bisa menyimpan telur itu di alam jiwamu. Ingat! Setelah telur itu menetas, orang pertama yang harus di lihatnya adalah engkau." Qingshui berkata sambil mata tertuju pada telur berwarna putih kecokelatan dengan corak merah yang kini berada di genggaman Chen Li.
"Dan juga, jangan lupa melakukan perjanjian kontrak dengan meneteskan darahmu padanya!" Dianhuo menambahkan.
Xiao Wang membenarkan perkataan Dianhuo tadi. Sebab dirinya juga pernah melakukan perjanjian kontrak bersama dengan empat bawahannya sebelumnya.
__ADS_1
Chen Li menyimak pemaparan yang di jelaskan Qingshui dan Dianhuo. Sesekali dia akan mengangguk tanda mengerti.
"Baik!"
"Setiap pagi dan petang, kau bisa memberinya energi Qi milikmu. Agar ketika menetas, anak siluman naga itu bisa lebih kuat nantinya."
"Baik!"
Sesuai dengan instruksi dari Qingshui dan Dianhuo, Chen Li menyimpan telur Naga tersbut ke dalam Alam Jiwanya.
Setelah semuanya telah selesai, merekapun lekas berbagi tugas. Chen Li dan Xiao Wang mencari kayu bakar, sementara Qingshui dan Dianhuo memotong daging Naga tersebut.
Malam ini, mereka akan melakukan acara bakar-bakar. Dengan daging Naga sebagai menu utama. Merayakan atas kemenangan Chen Li dan Xiao Wang, karena telah membunuh Siluman Naga tersebut. Selain itu, karena keduanya juga telah berhasil menyerap dua buah kristal roh Siluman Tingkat Suci.
***
"Tapak Pemusnah Jiwa!"
Chen Li berteriak lantang. Suatu energi yang sangat panas berbentuk tapak melesat cepat. Namun tak lebih dari setengah meter, tapak itu telah menghilang bak ditelan angin.
"Hmm, lumayan. Dua bulan ini, kau telah menampakan adanya kemajuan dalam mendalami teknik Tapak Pemusnah Jiwa!"
Chen Li duduk berlutut. Nafasnya tak beraturan. Ada sedikit rasa kecewa kala melihat teknik yang barusan dia keluarkan, menghilang dalam radius setengah meter.
Melihat wajah putus asa Chen Li, Dianhuo pun mendekati pemuda itu.
"Li'er! Sebenarnya melepaskan Tapak Pemusnah Jiwa dalam radius setengah meter, hanya dalam kurun waktu dua bulan itu sudah termasuk sangat hebat." Dianhuo berhenti sejenak. Tangannya memegang bahu Chen Li.
"Kau tahu? Bahkan, aku dulu harus berusaha mati-matian dan membutuhkan waktu tiga bulan untuk melepaskan teknik ini dalam radius setengah meter!"
Chen Li mengangkat wajahnya, menatap mata Dianhuo dengan tatapan tak percaya.
"Benarkah!"
Dianhuo tersenyum sesaat. "Ya!" Jawab Dianhuo Singkat.
"Beristirahatlah sejenak. Setelah itu, kita akan melanjutkan kembali latihanmu!"
Chen Li mengangguk. Ada rasa tak percaya saat mendengar penuturan Dianhuo barusan. Namun, ketika menatap lekat mata lelaki itu, Chen Li tak menemukan adanya kebohongan di dalamnya. Menandakan bahwa apa yang dikatakannya barusan memang benar adanya.
__ADS_1
Chen Li mengeluarkan pil dari dalam cincin penyimpanannya. Lalu menelannya.
***
Awan hitam terkumpul di satu titik besar. Gemuruh petir juga terdengar menggelegar. Dunia yang semula terang, berubah menjadi sedikit menggelap.
"Hujan Penembus Jantung!"
Xiao Wang berteriak lantang. Dibalik awan kelabu. Mulai menyeruak ribuan anak panah air, membentuk hujan anak panah air.
Xiao Wang menggerakkan tangannya, berusaha mengontrol hujan anak panah itu pada satu titik. Namun bukannya bergerak sesuai arahan tangan Xiao Wang, ribuan anak panah itu justru mengacau. Dan melesat di berbagai tempat.
"Sial!"
Lagi dan lagi, Xiao Wang harus menciptakan perisai air yang sangat tebal, guna melindungi diri dari hunjaman anak-anak panah yang bergerak di sembarang tempat.
Baamm! Baamm! Baamm....
Beberapa anak panah air diantaranya mengenai perisai air buatannya. Retak! Xiao Wang membelalakkan matanya. Entah sudah berapa kali nyawa pemuda itu nyaris melayang disebabkan oleh serangannya sendiri. Beruntung, Qingshui selalu datang tepat waktu.
Anak-anak panah air yang bergerak kearah Xiao Wang, mendadak memantul. Xiao Wang mengetahui, memantul-nya anak-anak panah itu disebabkan oleh perisai energi tak tembus pandang milik Qingshui.
Beberapa saat, hujan anak panah air itu mulai mereda. Xiao Wang bernafas lega setelahnya. Wajahnya kini nampak suram. Tubuhnya tampak lesu.
"Apakah aku tak akan bisa mempelajari teknik ini? Kenapa begitu susah sekali mengendalikan mereka!" Xiao Wang mulai pesimis.
"Kenapa kau begitu cepat sekali menyerah? Kau tahu. Mengeluarkan ribuan hujan anak panah air dalam kurun waktu dua bulan itu sudah termasuk hebat." Qingshui berusaha menyemangati pemuda itu.
"Hebat dari mananya! Aku bahkan hampir mati terkena jurus ku sendiri!" Xiao Wang membantah.
Qingshui terdiam sejenak. Sambil menarik nafas, lelaki itu memandangi cahaya matahari yang mulai timbul di sela-sela awan hitam.
"Perhatikan cahaya itu!" Qingshui menunjuk segaris cahaya lurus sang mentari yang berhasil lolos dari tebalnya awan hitam.
Xiao Wang mengernyit sesaat, sebelum pandangannya juga ia arahkan pada arah yang di tunjuk Qingshui.
"Setebal-tebalnya awan hitam. Namun tak mampu menghalangi terangnya sinar sang mentari." Qingshui menjeda kalimatnya sejenak. Membiarkan pemuda itu mencerna apa maksud dari kalimatnya.
Xiao Wang terdiam sesaat. "Maksudmu?" Pemuda itu bertanya kala dia tak menemukan pencerahan dari kalimat tersebut.
__ADS_1
"Sebesar apapun rintangan di hadapan kita. Namun jika kita memiliki tekat yang kuat dan dibarengi dengan usaha keras. Maka rintangan itu, tak ada apa-apanya!" Qingshui berucap dengan mimik muka serius.
Xiao Wang mengangguk. Kini pemuda itu mengerti. Tak ada yang tak mungkin jika kau mau berusaha dan bersungguh-sungguh.